Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pertempuran vs Peperangan, Politik Prabowo dan Joko Widodo

31 Desember 2017   05:58 Diperbarui: 31 Desember 2017   08:33 1279 21 9 Mohon Tunggu...

Pertempuran versus peperagan, politik Prabowo dan Joko Widodo, menurut Stephen R.. Covey, pertempuran berbeda dengan peperangan. Menangkanlah peperangan tidak hanya pertempuran. Pertempuran hanya bagian dari peperangan. Prabowo yang seorang jenderal bintang tiga itu ternyata lebih menyukai menang dalam pertempuran-pertempuran kecil, sedang peperangan besarnya malah tidak berdaya. Kemenangan kecil dalam pertempuran memang penting dan bisa menjadi penyemangat, pendorong, dan pembeda, namun tujuan akhirnya itu jelas lebih penting. Peperangan tidak hanya soal pertempuran, nonteknis, diplomasi, dan banyak hal bisa membuat pembeda.

Pertempuran yang dimenangkan Prabowo seolah akan memuluskannya mencapai kursi presiden. Dengan dukungan lebih banyak partai politik, dengan gegap gempitanya media dan media sosial karena memiliki banyak jaringan media yang berpihak, membuat  mereka seolah pasti menang. Dan hal ini yang membuat perbedaan pada hasil akhir. Ketika perang itu dinyatakan usai dan mereka kalah, mereka berdalih dengan berbagai cara dan macam, hingga tuntut sana tuntut sini. Masih diperpanjang dengan sandera dan boikot di parlemen. Memperjelas bahwa mereka hanya berfokus dan berkonsentrasi pada pertempuran semata.  Nampaknya hal ini akan dipertahankan dan dipakai pula untuk 2019 dengan pendekatan yang lebih luas, namun masih sama saja. Memenangkan dan merebut pertempuran dan bahkan kecil, bukan peperangannya itu.

Pilkada dengan fokus gubernur dan Jawa banget. Mereka fokus memasang profil yang bis menjual dengan singkat dan membantu untuk pilpres mendatang. Apa yang dipilih mempertegas hal itu karena mengandalkan potensi barisan sakit hati yang pernah diganti oleh Presiden jokowi. Soal rekam jejak dan kualitas jelas tidak menjadi pertimbangan. Apa yang menjadi pertimbangan adalah menang kini dan 2019 pasti bisa kalau semakin banyak bidak yang didapat. Aneh dan lucu sebenarnya, ini mirip anak-anak yang masih belajar catur dan memakan bidak banyak-banyak, pakah itu efektif?

Bisa iya, bisa tidak. Sepanjang kemenangan kecil itu dipupuk, dipelihara, dan dijadikan penyemangat untuk peperangan, yaitu 2019, harapan besar bisa terwujud. Namun apa bisa demikian linier dan berbwnding lurus dengan begitu saja? Jelas tidak. Bagaimana kualitas kepemimpinan dan prestasi  yang dibuat oleh pilihan Pak Prabowo juga ikut menentukan.

Bagaimana melihat Jakarta yang makin mundur membuat banyak pihak terhenyak. Pembelaan demi pembelaan yang malah makin buruk keadaan. Banyak cakap yang tidak cakap membuat blunder parah. Hal ini fakta bukan hanya klaim, mudah dibuka data dan fakta baik media konvensional ataupun media sosial. Ide-ide cerdas masa lalu yang mau dikebumikan, gagasan identik yang dialihnamakan, jelas membuat keadaan makin tidak membaik. Apalagi jika pilihan itu malah seperti memelihara anak macan. Sikap ini memang belum begitu kuat, namun sangat mungkin terjadi.

Isu-isu rasis yang tidak pernah bisa dibersihkan sama sekali oleh Pak Prabowo makin membuat orang tetap berpikir bahwa itu memang ulah mereka, paling tidak simpatisan mereka. Saracen, kisah-kisah soal tuduhan pada presiden yang berbuat ini dan itu. Sebenarnya mudah mereka membuat klarifikasi secara apa adanya, sehingga bukan malah menyadera mereka. Hal ini sangat merugikan bagi jangka panjang. Memang sih jangka pendek, kembali kan soal fokus jangka pendek, menang pertempuran saja.

Jangka pendek lain yang terjadi fokus pemenangan hanya di Jawa, khususnya Jakarta menampilkan sisi lain, betapa sempit, prakmatis, dan sangat pendek jangka yang ingin diraih oleh Pak Prabowo dan kawan-kawan. Sikap mereka terutama corong utama seperti Fadli Zon, Taufik, dan kawan-kawan memperlihatkan sangat pendek apa yang mereka harapkan.

Politik itu investasi, tidak heran kalau kaderisasi bukan menjadi pertimbangan partai politik karena apa yang mereka pikirkan hanya sesaat. Mungkin menjadi pemikiran mereka buat apa susah-susah jika bisa yang sederhana. Ini kesalahan  fatal parpol yang menyepelekan proses.

Salah satu seni dalam politik adalah lobi-lobi dan tentu diplomasi. Hal yang mumpuni bisa dilakukan oleh Pak Jokowi. Sebagaimana dalam artikel ini, https://www.kompasiana.com/paulodenoven/5a3f30e95e13733c3f3d0d62/jurus-mlipir-atau-menang-tanpa-ngasorake-politik-ala-presiden- sikap yang sederhana membantunya tidak sungkan untuk mundur demi bertolak ke tujuan yang lebih jauh, mau mengalah untuk menang, dan itu sudah dilakukan dengan risiko bahwa akan mendapatkan bola liar yang tidak mudah. Konsekuensi yang memang sangat wajar bagi pilihan demikian.

Potensial yang hanya akan ada dua bakal calon dalam pilpres mendatang, pergerakan mereka berdua mulai kini sangat menentukan. Pak Jokowi sudah dalam jalur yang relatif benar dan aman. Hanya pilihan Pak Prabowo yang  sangat riskan bisa menjadi nilai baik bagi Pak Jokowi namun bisa pula merusak.

Apa yang sebaiknya dilakukan Pak Prabowo agar bisa bersaing dengan baik, sebagaimana dipertontonkan tiga tahun lalu di gedung DPR-MPR-DPD, mengakui rivalnya sebagai pemenang, bukan demokrasi bar-bar, demokrasi yang elegan, dan beradab, adalah memperbaiki cara kerja timnya, terutama para pengikut setianya di lapangan. Simpatisan macam Ahmad Dhani, kader kuat seperti Zon dan Taufik lebih baik diminta untuk banyak belajar menahan diri. Pun pejabat daerah usungan Pak Prabowo diminta bekerja dengan baik dan pofesional, bukan malah antitesis dengan pusat yang jelas kontaproduktif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN