Ishak Pardosi
Ishak Pardosi profesional

Mantan Penjahit (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Motif Tersembunyi di Balik Politik Dua Kaki SBY

13 September 2018   09:10 Diperbarui: 13 September 2018   09:13 580 3 2
Motif Tersembunyi di Balik Politik Dua Kaki SBY
Foto: Kompas.com

Warna politik SBY memang selalu berbeda. Pun sulit ditebak. Itu menjadi penyebab kenapa Partai Demokrat kerap tampil sebagai penentu sebuah pertarungan politik. Tampil sebagai pemenang Pilpres dua kali berturut-turut, setidaknya sudah membuktikan bahwa SBY adalah seorang politisi hebat. Ia adalah seorang arsitek politik yang dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi terkini. Sehingga tak heran ia berjuluk 'the thinking general', sang jenderal pemikir.

Aksi terbaru SBY yang sangat fenomenal adalah ketika mempersilakan sebagian kadernya di daerah untuk mendukung pasangan capres Jokowi-Ma'ruf. Sikap itu jelas bertolakbelakang dengan keputusan Demokrat yang telah menyatakan dukungan kepada pasangan capres Prabowo-Sandi. Sehingga wajar pula apabila SBY dicap 'bermain dua kaki'. Dinilai tidak konsisten menyatakan dukungannya kepada Prabowo.

Diserang kiri-kanan, SBY tenang-tenang saja. Tak peduli dituding bermain aman dengan mendukung kedua pasangan capres. Menariknya, Prabowo yang mendatangi SBY mengaku tidak masalah dengan sikap mendua SBY itu. Terpenting, Demokrat tetap solid mendukung dan siap memenangkan Prabowo-Sandi. Sama sekali tidak ada masalah.

Nah, kenapa Prabowo tidak mempersoalkan sikap SBY? Di sinilah benang merahnya. Sebagai pengingat, tahapan Pemilu 2019 memang berbeda dengan tahapan Pemilu 2014. Jika Pemilu 2014 didahului Pileg kemudian diikuti Pilpres, kali ini akan dilakukan bersamaan. 

Pada Pemilu 2014, koalisi parpol pengusung capres baru ditentukan setelah pileg usai dilaksanakan. Hal ini memberikan kesempatan bagi parpol untuk lebih dahulu mengamankan suara di parlemen.

Sedangkan pada Pemilu 2019, masing-masing parpol harus mengamankan kursi legislatif sekaligus memenangkan capres yang diusungnya. Itu berarti, konsentrasi parpol akan terpecah dua, yakni meraup suara parlemen dan meraup suara untuk capresnya. Dalam kondisi sekarang, peluang parpol masuk parlemen (DPR RI) menjadi semakin sulit lantaran sibuk mengkampanyekan capresnya.

Peta konflik itulah yang kini sedang dimainkan SBY. Demokrat sebetulnya sedang ingin menggembosi koalisi parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf. SBY sedang 'menakut-nakuti' parpol pendukung Jokowi agar tidak terlalu serius mengkampanyekan capresnya jika tidak ingin terlempar dari parlemen.

Taktik SBY tersebut sangat relevan bila mencermati hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Disebutkan, jika pemilu diselenggarakan saat survei dilakukan, sejumlah partai tidak lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen. Survei ini dilakukan pada 12-19 Agustus 2018 dengan melibatkan 1.200 responden di 33 provinsi Indonesia.

Celakanya, dari enam parpol yang diprediksi tidak lolos ke DPR, ada tiga parpol yang saat ini menjadi pendukung Jokowi-Ma'ruf, yakni Hanura (0,6 persen), PSI (0,2 persen), dan PKPI (0,1 persen). Lalu, dari lima parpol yang terancam tidak lolos ke DPR, terdapat tiga di antaranya yang menjadi pendukung Jokowi. Yakni, PPP (3,2 persen), NasDem (2,2 persen), serta Perindo (1,7 persen).

Dengan gambaran hasil survei tersebut ditambah manuver SBY yang mempersilakan kadernya bermain dua kaki, sangat mungkin mengakibatkan dukungan parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf menjadi berkurang. Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah mengikuti trik SBY dalam upaya mengamankan kursi masing-masing parpol di parlemen.

Episode berikutnya pun sudah mudah ditebak. Ibarat perang, pasukan Jokowi kini lebih banyak yang kocar-kacir mencari perlindungan. Mengamankan diri masing-masing untuk bisa kembali ke pangkalan. Sehingga jangan kaget apabila parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf satu per satu nantinya akan mengambil langkah serupa.

Di saat bersamaan, pertarungan di antara capres menjadi lebih mudah dikendalikan oleh SBY sebagai tokoh yang masih memiliki popularitas di akar rumput. Kini semua sudah masuk akal, kenapa Prabowo tidak mempersoalkan keputusan bermain dua kaki SBY. Ternyata, SBY memang harus diakui adalah seorang ahli strategi.