Mohon tunggu...
Penyair Amatir
Penyair Amatir Mohon Tunggu... Profil

Pengasuh sekaligus budak di lapak www.penyair-amatir.id, mengisi waktu luang dengan mengajar di sekolah menengah dan bermain bola virtual, serta menyukai fiksi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Tentang Kesedihan yang Gagal Diucapkan

21 Juli 2019   11:42 Diperbarui: 21 Juli 2019   12:03 0 3 0 Mohon Tunggu...
Tentang Kesedihan yang Gagal Diucapkan
pixabay.com

Sejak seminggu ini saya lihat perempuan yang umurnya, jika dilihat dari wajahnya - lima tahunan lebih tua dariku, berdiri di sebelah kanan pintu gerbang sekolah. Wajahnya sekilas memancarkan kesedihan akut. Ia selalu berdiri di situ ketika saya melewatinya saat pulang.

"Saya lihat perempuan dengan tas di tangannya berdiri seperti menunggu. Di sebelah kanan gerbang sekolah. Seminggu ini"

"Bukankah itu hal yang biasa Pak? Banyak orang tua yang menunggu kepulangan anaknya. Di sekitar pintu gerbang. Tak mau anaknya celaka gara-gara bawa kendaraan sendiri. Sementara naik angkot atau aplikasi online ya kadang was-was. Lebih aman dijemput." ujar Bu Rodiyah, guru Bahasa Jawa yang baru saja menikah kali kedua.

Saya menggeleng.

"Ingat istri di rumah Pak Syafik" ujar Ust. Sanih sembari terbahak.

Ruang guru yang tadi sepi kini dipenuhi tawa. Saya akhirnya tertawa. Meskipun sekadar basa-basi saja.

Itulah kali pertama saya membicarakan perempuan itu. Yang hasilnya justru menjadikan saya badut.

Sore itu saya harus mencari jawaban. Supaya tuntas pertanyaan yang bercokol di kepala.

"Bagaimana mungkin kehadirannya tidak mengusik perhatian mereka" ujar saya pada bayangan saya depan cermin.

"Tuntaskan rasa penasaranmu!" begitu bayangan saya menggedor kepala.

Saya berjalan menyusuri koridor. Beberapa siswa yang masih mengerjakan majalah dinding di sekolah menyalamiku.

"Jangan lupa pulang lho ya. Besok balik lagi" ujar saya sambil tersenyum.

Kendaraan lalu lalang di depan sekolah. Semakin sore semakin padat. Apalagi dua puluh menit lalu. Ketua bubaran sekolah. Jangan tanya macetnya.

"Sore Pak. Tumben jalan kaki?" ujar Mas Fatih. Satpam sekolah. Usianya sekitar dua puluh limaan. Baru tiga bulan di sini.  Menggantikan bapaknya yang sakit parah.

Saya tersenyum sembari menunjuk kaki dan kemudian mengangkat jempol. Ia tertawa.

Ketika dua langkah saya balik arah.

"Mas. Sebentar mau bicara." saya langsung mendekatinya. Dia juga melangkah ke arah saya.

"Mas tahu siapa ibu di depan gerbang sebelah kanan. Yang biasanya menjinjing tas. Wajahnya mirip Manohara itu lo. Artis yang kemarin ikut nyaleg itu" ujar saya.

Mas Fatih menggeleng.

"Waduh maaf Pak. Terlalu banyak yang berdiri di sana. Jadinya tidak hafal. Apa saya lihat sekarang?"

Saya larang. Kemudian saya kembali menuju arah gerbang. Ketika menoleh ke arah kanan, perempuan itu berdiri di sana. Menjinjing tas. Menatap kendaraan yang melintas. Menunggu entah.

Saya berjalan pelan menghampirinya. Sembari mimikirkan kalimat macam apa yang harus saya lontarkan.

Beberapa orang berpapasan dengan saya.  Pejalan kaki memang banyak yang melintas di trotoar depan sekolah. Sebulan lalu pemkot telah menggasak penjual yang nangkring di trotoar sepanjang sekolah. Memang strategis untuk jualan. Tapi menggerus fungsi trotoar.

Saat penertiban, demikian pemkot menamainya, ricuhnya bukan main. Meski kalah seacara hukum, pedagang melawan. Hanya adu mulut. Ekskusi berlanjut.

"Maaf. Saya lihat Ibu seminggu ini berada di tempat ini. Sepertinya maksud saya dugaan saya em ibu menunggu anaknya yang sekolah di sini atau yang lain" saya mengutuk kebelepotan bicara saya. Padahal sudah saya siapkan dengan baik.

Perempuan itu menengok. Melihat saya. Menatap mata saya. Menyalurkan semacam penderitaan seperti ketika saya lihat sekilas tiap pulang sekolah.

Perempuan itu terus menatap saya. Saya merasa kikuk. Lalu mencoba mengulangi lagi pertanyaan dengan lebih baik.

Perempuan itu berjalan menjauhi saya. Ketika sampai di halte ia duduk di sana. Karena penasaran saya ikuti saja. Saya duduk di halte yang sama.

"Maaf jika mengusik atau menganggu Bu. Kesedihan adalah sahabat terbaik." kata saya mengutip isi novel yang kemarin saya tamatkan. Saya juga terkejut, kenapa pula harus berkata demikian.

Ia menatap saya kembali. Seperti membenamkan kesedihan dan penderitaannya lewat sorot matanya. Dan tak sedikitpun bicara.

Saya putus asa. Saya berdiri dan bersiap meninggalkannya. Tapi saya menunggu. Barangkali ia bicara. Seperti di film-film. Akhirnya saya melangkah menuju sekolah. Sembari beberapa kali menoleh. Beberapa kali bahkan hampir menabrak pejalan kaki. Beberapa kali dimaki.

Lalu lintas masih saja ramai. Lampu kota sudah menyala. Saya percepat langkah kaki. Mas Fatih menanyakan hasilnya. Saya tersenyum. Saya menuju ruang guru. Mengambil tas dan bergegas ke parkiran.

"Pak. Ada yang menunggu" Mas Fatih tiba-tiba sudah di belakangku.

Saya mengikutinya. Perempuan itu duduk di kursi ruang pembayaran SPP. Kepalanya menunduk.

"Jika perlu apa-apa, saya ada di pos Pak" katanya.

Saya duduk. Persis seperti di halte. Tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh. Sebelum saya sempat bicara, ia terlebih dulu sudah menatap mata saya. Memancarkan kesedihan berkarat.

Ia terus menatap saya seperti itu. Mata saya tiba-tiba memahami apa yang dibicarakan oleh matanya. Tetapi pikiran saya tidak bisa menerjemahkan dengan detail. Tapi penderitaan yang dikabarkannya membuat air mata saya tumpah sedemikian rupa.

"Pak, kenapa menangis? Apakah perempuan tadi penyebab air mata itu?  ujar Mas Fatih kebingungan.

Saya terkejut. Saya tersadar. Perempuan itu sudah tidak di depan saya lagi. Saya usap air mata.

"Pak?" Mas Fatih semakin bingung wajahnya.

"Obat kesedihan itu menangis Mas Fatih. Jadi kalau suatu waktu sedang sedih, jangan sungkan menangis." ujarku di tengah guyuran kesedihan.

Tak lama, Pak Bondan tergopoh-gopoh.

"Fat. Bapakmu telah tiada. Baru saja.."

Mas Fatih terduduk di kursi. Ia kelihatan sangat terpukul. Ia menangis sesenggukan. Di kejauhan azan magrib berkumandang bertalu-talu dan syahdu.

21/7/2019

Sidoarjo yang panas