Mohon tunggu...
Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Mohon Tunggu... Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konsultan di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Beginilah Akibatnya, Jika Menikah Hanya Mengandalkan Rasa

6 Februari 2019   16:51 Diperbarui: 19 November 2019   11:39 0 2 0 Mohon Tunggu...
Beginilah Akibatnya, Jika Menikah Hanya Mengandalkan Rasa
pixabay

Seorang istri menangis, menuturkan perasaannya terhadap suami. "Saya sudah tidak punya rasa cinta lagi kepada dia. Saya sudah mati rasa. Saya sudah tidak ingin ketemu dia lagi," ujarnya. 

Di kesempatan lain, seorang suami menceritakan perasaannya terhadap sang istri. "Sudah hilang rasa cinta saya kepada dia. Sekarang sudah tidak ada rasa apa-apa lagi kepadanya. Saya akan menceraikan dia", ujarnya.

Ungkapan serupa dan senada dengan itu banyak dijumpai di ruang konseling. Perempuan yang mati rasa, tak lagi memiliki cinta terhadap suami. Lelaki yang kehilangan rasa, tak lagi memiliki rasa cinta terhadap istri. Mereka berada dalam suasana tak merasakan apa-apa lagi terhadap pasangannya. Rasa cinta yang dulu sempat dimiliki, kini hilang tanpa bekas sama sekali.

Mengagungkan Perasaan 

Begnilah yang terjadi apabila pernikahan hanya mengandalkan rasa. Ketika rumah tangga mengandalkan pada hadirnya rasa cinta. Padahal rasa itu fluktiatif. Berubah-ubah dengan sangat cepat. 

Bergolak, tak pernah tetap. Hari ini rasa itu muncul, bahkan kuat, besok rasa itu bisa hilang. Hari ini tak ada rasa, besok pagi rasa itu bisa jadir kembali. Begitulah sifat rasa, sangat cepat berubah. Maka tidak bisa dijadikan ikatan yang kuat.

Tentang rasa cinta, kenapa anda menuhankannya? Hanya karena anda sudah tidak punya rasa cinta kepada suami, lalu anda merasa berhak untuk meninggalkannya. Demikian pula tentang mati rasa, kenapa anda harus mengagungkan rasa? Hanya karena anda sudah tidak ada rasa terhadap istri, lalu anda merasa berhak untuk menjauh darinya bahkan menceraikannya?

Dalam Kelas Menulis Online yang saya asuh, sering muncul pertanyaan terkait mood. Banyak penulis pemula yang mengeluhkan tentang mood. Mereka mengaku tidak bisa menulis karena kehilangan mood, atau tidak punya mood. Saat sedang mood, menulis menjadi mudah dan lancar. Saat kehilangan mood, tidak lagi bisa menulis. Beginilah akibatnya kalau menulis itu mengandalkan mood. Maka di Kelas Menulis Online, saya selalu mengajarkan agar menulis tidak karena mood. Tapi, menulislah karena anda punya tujuan.

Mood dalam dunia menulis, serupa dengan rasa cinta dalam kehidupan pernikahan. Pasangan suami istri yang mengandalkan kehadiran rasa cinta dalam menjalani kehidupan berumah tangga, akan mengalami pasang surut yang sangat ekstrem. Pada saat rasa cinta hadir, maka interaksi di antara mereka tampak begitu roimantis dan mesra. Seakan dunia milik mereka berdua. Namun saat rasa itu tenggelam, berkurang bahkan hilang, seakan mereka adalah dua orang musuh bebuyutan. Sejak saling mendiamkan, hingga saling menyalahkan dan saling melukai.

Oleh karena itu, menikah dan hidup berumah tangga tidak bisa mengandalkan rasa cinta semata. Rasa itu sesuatu yang sangat abstrak dan fluktuatif. Timbul tenggelam. Antara ada dan tiada. Sangat mudah hadir dan sangat mudah hilang. Kehidupan berumah tangga akan terombang-ambing dalam ketidakpastian apabila mengagungkan rasa cinta sebagai pengikat di antara semua anggota keluarga.

Menikahlah Karena Anda Memiliki Tujuan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x