Mohon tunggu...
Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Mohon Tunggu... Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konsultan di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Malam Pertama Pengantin Sesuai Sunnah Nabi, Seperti Apa?

28 Juli 2018   16:24 Diperbarui: 2 Agustus 2018   11:02 0 0 1 Mohon Tunggu...
Malam Pertama Pengantin Sesuai Sunnah Nabi, Seperti Apa?
ilustrasi : www.pinterest.com

Seusai acara akad nikah dan walimah, pengantin laki-laki dan perempuan masuk ke dalam kamar pengantin berdua saja. Inilah yang disebut dengan khalwah, yang sering disebut dengan istilah 'malam pertama'. Padahal kejadiannya tidak selalu malam hari. Khalwah bisa dilakukan pagi hari, siang, atau sore hari. Yang jelas, setelah selesai akad nikah. Disebut 'pertama', karena itulah pertemuan pertama setelah mereka berdua resmi menjadi suami dan istri.

Menurut Dr. Wahbah Az-Zuahili dalam kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu, khlawah adalah 'berkumpulnya istri dan suami setelah akad nikah yang sah, di suatu tempat yang memungkinkan bagi keduanya untuk bermesraan secara leluasa, dan keduanya merasa aman atau terjamin dari datangnya seseorang kepada mereka berdua. Pada mereka berdua tidak ada sesuatu penghalang yang bersifat alami, atau jasmani, atau syar'i, yang dapat mengganggu mereka berdua dalam bermesraan atau bercumbu.

Ternyata malam pertama bukanlah tindakan bebas semau pengantin sendiri. Ada sejumlah tuntunan yang disunnahkan untuk dilakukan pada malam pertama tersebut. Jika pengantin perempuan sudah mendahului berada di kamar, pihak laki-laki mengetuk pintu perlahan-lahan sembari mengucapkan salam yang lembut bagi istrinya yang telah menunggu di dalam. Segera suami masuk ke dalam kamar dan melakukan hal-hal berikut ini.

Pertama, memegang ubun-ubun pengantin perempuan

Pada malam pertama, dituntunkan kepada pengantin lelaki agar meletakkan tangannya pada ubun-ubun pengantin perempuan untuk mendoakan. Rasulullah Saw bersabda:

"Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah 'basmalah' serta doakanlah dengan doa berkah...". Hadits Riwayat Abu Dawud no. 2160, Ibnu Majah no. 1918, al-Hakim II/185 al-Baihaqi VII/148.

Kedua, mendoakan pengantin perempuan

Sembari meletakkan tangan di ubun-ubun istri, suami dianjurkan membaca doa untuk keberkahan istri. Adapun doa yang dibaca adalah:

"Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha alaih, wa a'udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha alaih. Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa." Hadits Riwayat Abu Daud, no. 2160; Ibnu Majah, no. 1918. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.

Ketiga, shalat sunnah pengantin

Dianjurkan bagi kedua mempelai untuk mengerjakan shalat sunnah dua raka'at. Ingat, ini dilakukan hanya berdua saja, oleh suami dan istri. Jangan mengajak orang tua, mertua, apalagi tetangga. Suami menjadi imam, dan istri menjadi makmum. Syaikh Al-Albani menyatakan, "Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf ---yakni Sahabat dan Tabi'in".

Di antara sandarannya adalah hadits dari Abu Sa'id, ia berkata: "Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya 'Abdullah bin Mas'ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu 'anhum. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: 'Kamulah (Abu Sa'id) yang berhak!' Ia (Abu Dzarr) berkata: 'Apakah benar demikian?' 'Benar,' jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak.

Selanjutnya mereka mengajariku, 'Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka'at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua." Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan 'Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192).

Keempat, membaca doa setelah shalat sunnah pengantin

Berdasarkan hadits dari Abu Waail, ia berkata, "Seseorang datang kepada 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, lalu ia berkata, 'Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.' 'Abdullah bin Mas'ud berkata, 'Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka'at di belakangmu. Lalu berdo'alah:

"Allahumma baarikli fi ahli, wa baarik lahum fi, Allahummarzuqni minhum, warzuqhum minni, Allahummajma' bainana maa jama'ta ila khair, wa farriq bainana idza farraqta ila khair. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan." Hadits Riwayat 'Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf VI/191, no. 10460, 10461.

Kelima, bersenang-senang dan bercumbu rayu di malam pertama

Di antara sunnah kenabian pada malam pertama adalah bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kehangatan. Hal ini berdasarkan hadits Asma' binti Yazid binti as-Sakan ra, ia berkata: "Saya merias 'Aisyah untuk Rasulullah Saw. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada 'Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping 'Aisyah. Ketika itu Rasulullah Saw disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada 'Aisyah. Tetapi 'Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.

'Asma binti Yazid berkata: "Aku menegur 'Aisyah dan berkata kepadanya, 'Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah Saw". Akhirnya 'Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit. Hadits Riwayat Ahmad VI/438, 452, 453, 458.

Keenam, melakukan hubungan seksual

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2