Anak Tansi
Anak Tansi Jurnalis

Seorang perantau yang datang ke ibu kotar karena niat ingin melihat dunia lebih luas dari Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Penguatan Peran Petani Sawit dalam Program Biodiesel

23 April 2019   23:25 Diperbarui: 23 April 2019   23:34 30 1 0
Penguatan Peran Petani Sawit dalam Program Biodiesel
haluancorp.com

Memperkuat daya tahan petani sawit melalui program peremajaan pohon kelapa sawit jangan dilihat hanya semata untuk peningkatan produksi lahan yang mereka miliki. Karena bersamaan dengan program tersebut pemerintah juga mulai melakukan akselerasi penyerapan produksi sawit nasional  melalui program  biodiesel.

Sebab tanpa penguatan tersebut, maka petani sawit yang memiliki tidak kurang dari 40 persen lahan sawit akan menjadi anak tiri untuk sebuah industry masa depan yang diyakini tetap memiliki prospek bagus ini.

Pemerintah harus berada di belakang dan menjadi tulang punggung bagi petani karena sejumlah factor antara lain.  Mayoritas petani  lokal ini berpendidikan cuma tamatan SD sebanyak 36 persen. Sisanya adalah mereka yang berpendidikan satu tingkat lebih tinggi atau SMP sebesar 63% dan umumnya adalah transmigran. Dengan tingkat pendidikan demikian serta telah bertani pohon ini selama 10 tahun, sulit bagi mereka untuk beralih profesi.

Hal lain yang tak kalah menyedihkan adalah, rendahnya tingkat kesejahteraan mereka, itu tak lain karena  produktifitas lahan yang sangat rendah hanya 2-3 ton/Hektar/tahun. Bandingkan dengan produktifitas perkebunan swasta yang mencapai 5-6 toh/hektar/tahun. Salah satu sebab produksi rendah itu karena bibit yang dibeli bukan yang terbaik.

Padahal, dengan segala keterbatasan tersebut,  usaha perkebunan ini secara statistic  berhasil mengurangi persentasi kemiskinan di masyarakat sebanyak 10 persen sejak tahun 2000 oleh oleh faktor2 terkait sawit.

Atau menurut  data Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit (BPDPKS), perkebunan sawit  rakyat serta mengangkat tidak kurang dari 1,3 juta orang dari garis  kemiskinan.

Data juga menyebutkan, dibandingkan wilayah yang tak memiliki perke bunan sawit rakyat, Pengurangan penduduk miskin lebih terlihat behasil di daerah yang petaninya menggarap sawit, dibandingkan  daerah yang tak punya perkebunan ini.

Maka kebijakan penanaman kembali bisa menjadi turning poin agar perkebunan sawit rakyat bisa setidaknya mengimbangi atau mengikuti hasil sawit yang dikelola secara professional oleh perusahaan perkebunan  swasta maupun BUMN. Karena dengan target  penanaman ulang, lahan sawit petani jika sudah berbuah, diharapkan mampu memenuhi produkivitas 10 ton TBS/ha/tahun; Kerapatan tanaman < 80 Pohon/ha

Karena tak hanya membantu dalam pendanaan yang diambil dari pungutan dana kelapa sawit oleh BPDPKS terhadap hasil ekspor oleh korporasi dan perusahaan.  Peremajaan itu juga untuk membantu petani memastikan legalitas lahan serta tak menyalahi prinsip konservasi. Karena dengan adanya legalitas, maka proses untuk mendapatkan sertifikat ISPO bisa lebih mudah.

Meski  capaian target belum memenuhi harapan, namun dengan kerangka kerja ideal seperti ini, boleh diharapkan bahwa petani juga akan mendapat keuntungan wajar yang pada gilirannya mampu meningkatkan taraf hidup mereka.

Sebab, manakala program B30 sudah berjalan maksimal, maka serapan produksi sawit petani untuk program ini dipastikan akan stabill.

Yang bisa mendapat keuntungan dari program biodiesel itu tak hanya korporasi atau BUMN, namun petani juga ikut menikmati melalui harga yang sesuai dan layak.

Maka pada titik ini, keadilan social bagi petani dalam program biodiesel pemerintah  adalah salah satu target besarnya.