Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pencinta Tilawah

Selalu menanam harapan walau kemarau panjang. Singgah ke: www.ozyalandika.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berhijrah dan Menjemput Hidayah

2 September 2019   21:21 Diperbarui: 2 September 2019   22:40 552 12 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berhijrah dan Menjemput Hidayah
Pixabay.com

Jika Sekedar Pindah, Bukan Hijrah Namanya

Hijrah, secara bahasa artinya berpindah. Pemaknaannya bukan sekedar berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hijrah berarti kita berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan kepindahan itu menjadikan kita lebih dekat dengan Sang Pencipta. Jika misalnya ada kejadian, kita pindah rumah ke dekat panti asuhan, tetapi kita tidak pernah sekalipun menderma ke panti tersebut. Nah, ini bukan hijrah namanya. Kenapa? Karena perpindahan itu tak membuat kita lebih dekat kepada Allah.

Beda hal jika kita berniat hijrah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya kita beli kontrakan di dekat masjid, dan dari kontrakan itu kita lebih sering ke datang masjid. Inilah salah satu contoh hijrah yang sebenarnya. Jadi, jika suatu saat kita pindah entah ke Kalimantan Timur, entah ke Papua, ataupun ke Luar Negeri, maka jadikanlah perpindahan itu sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.

Hijrah pula tak mesti harus pindah sana-sini. Berhijrah bisa dengan dilakukan dengan menata diri untuk menjadi lebih dekat kepada Allah. Namun lagi-lagi harus jelas pemaknaan dan tingkah lakunya. Misalnya, kita berhijrah dari perilaku malas beribadah menuju taat beribadah. Tapi hijrah ini hanya secara fisik saja, yaitu dengan memakai pakaian muslim rapi, dan bahkan membawa Al-Qur'an kemana-mana.

Artinya fisik dan penampilan saja yang berubah. Lalu hati dan iman apakah bertambah? Jika benar-benar hijrah harusnya iya. Jangan sampai kata-kata hijrah kita jadikan perisai agar dipandang alim oleh orang lain, agar dipandang lebih sholeh oleh orang lain, dan bahkan dijadikan perisai untuk mengkafirkan orang lain. Nauzubillahi min dzalik.

Menjemput Hidayah, Tak Harus Menunggu Tua

Sebagai petunjuk dari Allah, adanya hidayah akan membimbing kita ke jalan yang  lurus. Hanya saja, fenomena yang berkembang saat ini memberikan kesan bahwa hidayah itu diberikan kepada orang-orang yang sudah tua saja. Beberapa masyarakat berpikir bahwa beribadah dimasa muda itu "kurang populer". Masa muda malah dihabiskan untuk memuaskan diri dan bersenang-senang. Alasannya? "kapan lagi... selagi muda nikmatilah dan bersenang-senanglah!"

Pemikiran ini agaknya akan menjauhkan kita dari Allah. Jika umur kita akan bertahan sampai tua sih tidak masalah, karena kita bisa bertaubat dan berubah. Yang jadi masalah adalah kita tidak tahu umur ini panjang atau tidak. Bisa saja sebentar lagi kita mati, besok, lusa, atau tahun depan. Sayangnya, perkara mati ini tak bisa ditunda walau sedetik pun.

Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 61: "Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya". Ajal atau kematian sungguh akan datang secara tiba-tiba, dan bisa saja tak tertebak. Kadang, pagi tadi kita masih mengobrol dengan teman, kita lihat ia sehat-sehat saja. Tiba-tiba sore harinya, teman itu meninggal. Uniknya, Riwayat sakit tidak ada, kecelakaan pun tidak. Tapi.... Ya, itulah kematian.

Maka darinya, jangan sampai perkara kesenangan dunia ini menjadikan kita lalai dan menunda untuk berhijrah, menjemput hidayah dari Allah. Berhijrah tak harus menunggu tua, dan menjemput hidayah adalah secepat-cepatnya. Untuk itu, kita perlu terus menguntaikan doa: "Ya Allah, tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus!". Al-Qur'an Surah Al-Fatihah ayat 6.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN