Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pencinta Tilawah

Selalu menanam harapan walau kemarau panjang. Singgah ke: www.ozyalandika.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

12 Juli, Tepat 3 Tahun MOS Dihapus, Rindukah?

12 Juli 2019   14:44 Diperbarui: 12 Juli 2019   15:09 124 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
12 Juli, Tepat 3 Tahun MOS Dihapus, Rindukah?
idntimes

Beberapa hari lagi, siswa-siswa akan bersekolah. Karena ingat sekolah saya ingat masa-masa SMA. Waktu itu tahun 2010, masih ada sistem MOS (Masa Orientasi Sekolah). Seingat saya bahkan tidak sehari, sampai 3 hari waktu itu.

Pada 12 Juli 2016, lansiran dari CNN Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Anies Baswedan resmi melarang MOS oleh  pelajar/siswa. Keputusan tersebut diambil karena banyaknya laporan kekerasan, baik psikis maupun fisik, yang dialami murid baru saat memasuki tahun pertama sekolah. Beberapa kali kasus kekerasan saat MOS bahkan berakibat fatal, yakni kematian siswa. Dan juga karena tidak ada orang tua yang ingin mengantar anaknya ke sekolah dalam kondisi bahagia.

Tapi, apakah kalian bahagia di MOS oleh OSIS sewaktu SMA? Tak terpungkiri ada suka ada duka. Saya kira masa itu istilah Pem-bully-an belum begitu keras terdengar ditelinga kita. Kalaupun ada, kita tidak menganggapnya sebagai suatu yang amat serius. Ya, karena hanya sebatas main-main dan masih bisa dimaklumi. Sangat jarang kasusnya sampai heboh ke kantor polisi.

Mari kita memasuki masa-masa MOS:

Hari pertama sekolah, setelah sambutan Kepala Sekolah, biasanya kita dibagi menjadi beberapa regu/gugus yang nantinya dikomando oleh anggota senior, alias OSIS. Dari regu ini, kesempatan untuk sekelas sangat besar. Rasanya kita pada masa itu lebih nurut dengan senior, dibandingkan dengan anak-anak milenial zaman sekarang. Jangankan senior, guru, orang tua, presiden, bahkan Tuhan mereka lawan. Sungguh hebat, mau menyaingi Lord Fir'aun kali ya. Hehe

Uniknya, lain senior lain pula tingkahnya. Kadang kala, gugus dengan senior A lebih di istimewakan dari pada gugus lain. Akhirnya timbullah kecemburuan dan ingin saling mengalahkan. Dan ketika senior berbicara, sontak kita terdiam dan bersiap dengan pena. Rasanya pertengahan kertas buku yang 2 lembar itu tidak cukup untuk mencatat begitu banyak keperluan yang  kita bawa esok hari. Mulai dari topi segitiga, segi empat, kubus, prisma, bahkan segitiga sembarang pun dimintanya. Tidak lupa juga karung, cabe rawit, telur ayam kampung, permen karet dengan merek tertentu, sepatu butt, daster, sarung, hingga terong harus kita siapkan. Dan setelah senior OSIS sambutan mulailah grasak grusuk.

Ketika jam pulang, kita sebagai "anak baru" mulai sok sibuk. Sampai-sampai tidak sempat makan karena harus cepat-cepat kerumah teman, lalu pergi ke kebun untuk mencari perlengkapan. Dan anehnya, kita tidak begitu mengeluh dengan apa-apa yang harus dibawa, padahal jika kita pikir untuk apa bawa barang-barang seperti itu, menghabiskan waktu saja. Tapi apalah daya, rasanya begitu menyenangkan.

Setelah barang-barang yang harus dicari diluar rumah dikumpulkan, mulailah kita membuat perlengkapan pakaian. Mulai dari dari topi beragam bentuk, hingga baju dengan corak adat suku anta brantah. Dan serunya, teman-teman kelompok begitu antusias dan panik jika ada perlengkapannya yang kurang, bukan malah apatis dan masa bodoh. Jika perlengkapan sudah selesai, maka rasa hati pun aman.

Tibalah hari kedua MOS. Perlengkapan sudah disiapkan, dan pastinya tidak ada satupun siswa yang sok keren berani memakai perlengkapan itu dari rumah, apalagi jika naik ojek dan mobil. Dan, ketika tiba saatnya senior OSIS yang "berkuasa", mulailah keanehan terjadi. Ada yang dandanannya kayak ultraman, ibu-ibu hamil, pengemis, hingga yang mirip power rangers pun ada. Haha. Ini melahirkan keseruan sejenak. Canda tawa lepas antara senior dengan kita siswa baru seakan melupakan dandanan norak. Rasa malu dan gengsi itu seakan pergi karena timbul kedekatan hubungan antara senior dan junior.

Momen paling seru adalah ketika kita menjalankan misi dan tugas senior. Mulai dari meminta tanda tangan kepala sekolah, guru, ibu kantin, tukang ojek depan sekolahan, hingga "artis" ibu kota yang "katanya" populer di SMA. Sontak saja semua gugus berpencar dan bertanya dengan kakak kelas yang mereka kenal. Tidak sedikit pula yang memalsukan tanda tangan guru, karena beberapa kali mencari tidak ketemu. Itu baru agenda pertama dari senior OSIS.

Tibalah agenda kedua, yaitu perintah-perintah yang kadang sulit dicerna akal sehat. Mulai dari memanjat pohon, mencari rumput langka, bernyanyi, menari, membaca puisi, hingga bertukar sepatu. Terang saja, waktu itu saya disuruh untuk mencari bunga mawar, dan setelah dapat saya harus menembak salah satu cewek di gugus. Sontak saya menolak, tapi kata senior jika menolak maka saya harus angkat batu besar didekat saya. Tentu saja wajah saya memerah, karena jadi pusat perhatian. Dan pada saat itu saya pun memberanikan diri untuk menembak salah satu cewek dengan bunga mawar. Dan anehnya, siapa cewek itu saya tidak ingat lagi. Entahlah. Mungkin kalian juga pernah mengalami momen lain, yang berkesan tentunya.

Dari sederet kesan seru, asyik dan menyenangkan itu banyak nilai yang didapat. Mulai dari keakraban, kerjasama, kekompakan, dan silaturahmi. Meskipun dirasa sia-sia, buang waktu, dan tidak menutup kemungkinan terjadi perkelahian. Itu masih lumrah. Yang membuat miris adalah dendam kesumat dan pembully-an yang sudah terlewat batas, apalagi jika berujung kematian. Tentu siapapun tidak mau seperti itu.

Dan sekarang, MOS sudah diganti menjadi PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah). Kegiatannya lebih terstruktur, sistematis, dan lebih mendidik. Yaitu dengan kegiatan kebersihan, pengenalan area lingkungan sekolah, keamanan, ketertiban, tata krama berpakaian, hak dan kewajiban siswa, baris-berbaris kegiatan kepramukaan, hingga pengenalan berbagai cabang Ekstrakulikuler di sekolah.

Jika arah dan cita-citanya adalah untuk menciptakan kualitas pendidikan yang lebih baik, maka apapun usulan pemerintah kita tentu akan dukung dengan sepenuh hati. Karena, semakin tinggi kualitas pendidikan kita, akan membuat negara kita semakin diperhitungkan. Pendidikan begitu intens, karena menyangkut harga diri bangsa. Dan dengan pendidikan, segala aspek kehidupan dapat dikembangkan ke arah yang lebih baik. Jadi, jangan pernah putus belajar.

Salam Long Life Education

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x