Ouda Saija
Ouda Saija Perupa | Fotografer Jalanan

A street photographer is a hitman on a run.

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

[Street Photography] Terjebak di Wilayah Konflik Bersenjata

9 Oktober 2018   23:31 Diperbarui: 10 Oktober 2018   05:53 3043 11 5
[Street Photography] Terjebak di Wilayah Konflik Bersenjata
Tentara di mana-mana (dokpri)

Foto-foto jalanan ini saya ambil sebelum dan ketika saya terjebak konflik bersenjata di Kashmir, India. Ketika saya sudah kembali ke daerah aman saya merasa senang bisa mendapatkan foto-foto yang menarik, tetapi ketika saya masih di daerah konflik pernah terbersit bahwa mungkin saya tak akan sempat kembali dengan selamat.

Konflik bersenjata dan saling bunuh antar manusia rasanya belum pernah berhenti. Kemungkinan mengetahui kabar dari sudut-sudut dunia yang lain semakin mudah dengan kemajuan teknologi informasi, namun tak jarang yang dikabarkan adalah pertikaian. Kisah bunuh membunuh bahkan tercatat dalam kitab-kitab kuno.

Semua sudut dijaga (dokpri)
Semua sudut dijaga (dokpri)
Kini ketika peradaban telah dikatakan lebih maju, konflik tetap ada. Saya sering merenung mengapa konflik tetap saja ada. Padahal kalau kita pikir, bumi menyediakan kecukupan bagi semua.

Ada daerah yang kekurangan tetapi ada daerah yang kelebihan. Secara umum, bumi kita masih cukup menopang kehidupan yang layak bagi penghuninya.

Berteduh bersenjata (dokpri)
Berteduh bersenjata (dokpri)
Alasan atau pembenaran klasik akan adanya konflik adalah perebutan sumber daya, perebutan makanan. Perebutan makanan memang hal yang memalukan karena sangat primitif. Maka konflik biasanya lalu dibalut dengan berbagai pembenaran yang seolah rumit dan canggih bahkan mulia dan kesatria.
Sembunyi (dokpri)
Sembunyi (dokpri)
Konflik biasanya terjadi ketika dua kehendak dasar manusia bertabrakan. Manusia selalu mempunyai kehendak bebas atau free will pada satu sisi, namun pada sisi lain manusia juga mempunyai kehendak untuk berkuasa atau yang biasa dikenal dengan the will to power.

Ketika manusia yang satu ingin 'bebas' tetapi manusia lain ingin 'berkuasa' atas kebebasan yang lain maka akan terjadi konflik.

Saya sendiri setidaknya pernah tiga kali terjebak di daerah konflik bersenjata. Saya terjebak dalam kerusuhan pertama kali pada tahun 1998 ketika terjadi pergantian kekuasaan di Indonesia. Kampus Universitas Sanata Dharma di kepung tentara selama beberapa hari. Suatu malam seorang mahasiswa tewas di jalan kecil dekat kampus.

Sampai sekarang tak terungkap apa yang terjadi malam itu. Mahasiswa berdemo dan bentrok dengan aparat sepanjang malam. Kira-kira jam 3 pagi Moses Gatotkaca, yang sekarang namanya menjadi jalan, ditemukan sekarat diselokan kecil di selatan kampus USD. Malam itu saya dan beberapa teman terkurung di kampus.

Dokpri
Dokpri
Pengalaman kedua terjadi waktu saya studi di Chicago. Pada tahun kedua di Chicago saya bersama dua orang teman dari Indonesia menyewa sebuah rumah di daerah Chicago selatan yang berbatasan dengan Chinatown. Katanya daerah ini tidak aman tetapi sewa rumah relatif murah. Pada suatu malam, kira-kira jam 1 saya mendengar serentetan tembakan.

Ternyata ada perampokan di toko kelontong yang buka 24 jam yang letaknya tiga rumah dari rumah kami. Seorang perampok berhasil ditembak mati tetapi satu perampok lagi berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di blok perumahan kami.

Semua warga dilarang keluar rumah. Dari jendela saya hanya mengintip polisi bersenjata lengkap lalu lalang dan helikopter terdengar berputar-putar sampai pagi.

Anak-anak yg ramah (dokpri)
Anak-anak yg ramah (dokpri)
Perjalanan ke Kashmir sebenarnya adalah sebuah perjalanan liburan. Kami berempat berangkat dengan pesawat dari New Delhi ke Kota Srinagar, kota terdekat dengan Kashmir yang memiliki bandara.

Di Srinagar kami menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan darat dengan menyewa mobil ke Kashmir. Srinagar sendiri adalah sebuah kota yang indah. Saya akan berbagi cerita tersendiri tentang street photography di kota ini lain waktu.

Kami berangkat dari Srinagar menuju Kashmir pada pagi hari. Jalanan yang indah di antara pegunungan dan kelok-kelok sungai. Hari itu langit sangat cerah. Kami melewati beberapa pos keamanan.

Pada salah satu pos semua orang dan barang harus turun dari mobil. Orang dan barang bawaan dicek dengan pemindai sinar X seperti di bandara. Sore hari kami sampai di Lembah Pahalgam dan mencari hotel untuk menginap.

Penjual sayur sebelum konflik (dokpri)
Penjual sayur sebelum konflik (dokpri)
Sepanjang perjalanan dari Srinagar ke Kashmir, selain pemandangan yang pegunungan, sungai, dan lembah yang indah saya juga melihat banyak polisi dan tentara bersenjata lengkap. Saya memotret beberapa secara candid. Saya sebenarnya sudah merasa kurang nyaman tetapi sopir kami yang orang lokal menyatakan itu hal biasa.

Ada satu kali kejadian saya mengurungkan mengambil foto yang sebenarnya sangat bagus. Ada seorang tentara dengan senapan mesin di atap sebuah bangunan, sebagian senapannya ditutupi semacam kain kamuflase, jari tangannya terlihat di pelatuk senapan, wajahnya siaga.

Ketika saya mengangkat kamera dengan lensa 18-135mm, matanya beradu dengan mata saya, sebuah tatapan konfrontatif. Sayapun menurunkan kamera saya.

Menikmati senja (dokpri)
Menikmati senja (dokpri)
Hari pertama di lembah Pahalgam di Kashmir sungguh pengalaman yang luar biasa. Kashmir adalah alam pegunungan yang luar biasa indah. Ketika kami akan berkeliling Kashmir pada hari kedua sebuah insiden terjadi malamnya.

Salah satu pimpinan tentara separatis tertembak mati. Dia seorang pemimpin pemberontak muda yang sangat diincar oleh pemerintah setempat karena popularitas dan pengaruhnya di media sosial.

Pertempuran antara tentara pemerintah dan pemberontak terjadi di berbagai tempat. Beberapa polisi dan tentara terbunuh. Jalan menuju bandara ditutup.

dscf6088-409x272-5bbcd608677ffb0c663ece93.jpg
dscf6088-409x272-5bbcd608677ffb0c663ece93.jpg
Kami terjebak di hotel dan tidak bisa pergi ke manapun. Akses internet di hotel juga sangat terbatas. Wifi hanya menyala di sekitar lobi, itupun sangat lambat danh putus sambung.

Kami hanya bisa memesan makanan di hotel karena semua restoran dan toko tutup. Pada hari pertama makanan di hotel masih lengkap tetapi pada hari kedua tidak semua makanan yang tertulis di menu tersedia.

Turis dan pendoa (dokpri)
Turis dan pendoa (dokpri)
Akhirnya pada tengah malam hari ketiga kami bisa meninggalkan hotel. Semua wisatawan berkonvoi dengan mobil sewaan masing-masing. Iring-iringan akan lebih aman menurut sopir kami yang orang lokal. Perjalanan 4 jam dari Pahalgam ke bandar Srinagar adalah perjalanan yang paling menegangkan dalam hidup saya.

Jalan gelap dengan satu sisi gunung dan sisi lainnya jurang. Blokade yang berupa batu-batu besar, batang pohon, dan tiang lampu berserakan disepanjang jalan.

Kami hampir celaka ketika sopir kami tidak melihat ada tiang listrik dihalangkan di tengah jalan. Untuk sepersekian detik sebelum menabrak kami semua berteriak dan dia berhasil menghindari tiang tersebut.

Kamuflase (dokpri)
Kamuflase (dokpri)
Kira-kira jam 4 pagi akhirnya kami mencapai bandara dengan selamat. Baru saat itu kami mampu berkata-kata satu sama lain. Sepanjang perjalanan tak ada satupun dari kami yang berbicara.

Sesampai di bandara kami harus membeli tiket yang baru karena tiket kami habgus semua, termasuk tiket saya untuk pulang ke Indonesia. Kami masih bersyukur hanya kehilangan tiket, bukan nyawa.