OtnasusidE
OtnasusidE Pembelajar

Petani literasi I Bertanam kata-kata di Punggung Bukit Barisan Sumatra

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Beda Politik Praktis Pedagang dan Politikus

14 September 2018   19:32 Diperbarui: 15 September 2018   14:10 1979 27 17
Beda Politik Praktis Pedagang dan Politikus
Ilustrasi (Pixabay)

Harga kebutuhan pokok yang terus mengalami penurunan sejak awal September ini membuatnya sudah tidak seksi lagi untuk menjadi isu media massa dan juga isu para politikus. Harga kebutuhan pokok kemungkinan besar akan mengalami keseimbangannya pada awal Oktober ini.

Mohon maaf penulis bukan ahli ekonomi ataupun politikus yang pandai goreng menggoreng isu dan pandai mencari keuntungan dari isu. Penulis hobi menggoreng telur dan juga nasi goreng serta demen dengan ubi goreng.

Telur ayam yang sempat meroket setelah Lebaran dan kemudian menjadi isu yang seksi di panggung nasional kini sepi. Sesepi ketika penjual bakso di depan Terminal Nendagung Kota Pagaralam menahan untung ketika menjual bakso telur. Bakso telur tetap dijual Rp 12 ribu permangkok, walau bulan  Juli lalu harga telur di kisaran Rp 30 ribu perkilogram.

Telur yang sekarang sudah turun harga jadi Rp 20 ribu perkilogram I Foto: OtnasusidE
Telur yang sekarang sudah turun harga jadi Rp 20 ribu perkilogram I Foto: OtnasusidE
Bahkan di Bulan Agustus, Ketua MPR Zulkifli Hasan langsung menyampaikannya pada Presiden di Sidang Tahunan MPR 2018 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2018). "Pak Presiden, ini ada titipan dari emak-emak agar harga bahan pokok terjangkau," kata Zulkifli. (1)

Kini setelah harga telur dari Rp 22.500 perkilogram awal September dan kemudian hari Jumat (14/9) turun lagi menjadi Rp 20 ribu perkilogram. Semua sepi. Sepertinya harga telur dan ayam potong yang juga sempat heboh nyungsep entah ke mana.

Hanya sepasang suami istri yang menjual gado-gado di kawasan Kampus POM IX Palembang yang tersenyum. "Alhamdulillah, berkat sabar. Telur naik jual gado-gado pake telur tetap Rp 14 ribu per bungkus dan kini harga telur turun, harga gado-gado masih tetap Rp 14 ribu per bungkus pakai telur. Tak pakai telur Rp 12 ribu per bungkus," kata Mas Rob.

Gado-gado di Kampus POM IX Pakai Telur Rp 14 Ribu Per Porsi, Nggak Pakai Telur Rp 12 Ribu Per Porsi I Foto: OtnasusidE
Gado-gado di Kampus POM IX Pakai Telur Rp 14 Ribu Per Porsi, Nggak Pakai Telur Rp 12 Ribu Per Porsi I Foto: OtnasusidE
Setelah telur dan ayam potong, kini tempe pun menjadi seksi. Tempe disebut setipis kartu ATM dan tempe menjadi mahal karena kacang kedele sebagai bahan baku utamanya terkena imbas kenaikan dollar Amerika Serikat. Pedagang tak mau menaikkan harga karena takut orang nggak ada yang mau beli. 

Di dusun kami yang berada di Punggung Bukit Barisan Sumatra, ada warung nasi di depan rumah dinas walikota Pagar Alam. Si pedagang masih menjual Rp 500 per potong untuk tempe dan tahu isi. Jadi jangan heran kalau warungnya penuh terus dan banyak ASN yang tak sempat pulang, makan siang di situ.

Makanan itu jangan dipolitisir. Semua akan mencari jalan sendiri. Tentu dengan catatan si orang itu mencari makan dengan bekerja maka rezeki itu akan datang. Bisa jadi datangnya lambat, tetapi dia akan tetap datang pada waktunya. 

Nasehat si kaki kupu-kupu pada satu waktu ketika aku bekerja tak mengenal waktu hingga hampir melupakan dirinya dan anak-anak selalu terbayang. Rezeki itu sudah ada yang mengatur. 

Kalau hari ini hanya semangkok maka rezeki itu hanya semangkok. Rezeki itu kadang ditahan dulu karena memang belum waktunya. Pada akhirnya rezeki akan mengalir sesuai dengan usaha yang telah dikeluarkan.

Rezeki juga terkadang ada pada istri. Istri yang rezekinya sedang deras mengalir jangan sampai sombong dengan suami yang mungkin sedang seret atau gagal. Rezeki juga ada pada anak. Rezeki itu misteri.

Aku belajar dengan seorang penjual sarapan pagi ketika harga telur mencapai Rp 30 ribu perkilogram tetapi dia masih tetap menjual satu potong bolu Rp 1.000. Ketika ditanya apakah tidak rugi? Dengan lugas si penjual kue di jalan gunung Pagaralam itu berkata, "Kalau rugi. Kami tutup. Tidak jualan lagi. Tidak jual bolu lagi,".

Satu kenangan masa kecil muncul ketika Mak Acok, memberikan permen kojek kepada seorang anak kecil yang menangis. Anak kecil itu menangis karena emaknya nggak ada duit untuk membelikannya permen kojek. Duit emaknya hanya cukup untuk membeli minyak tanah seperempat liter dan gula seperempat kilogram.

Emaknya menolak keras karena malu dengan tingkah dan keinginan anaknya. Tapi sentuhan lembut Mak Acok dipundak si emak meluluhkan kekerasan hati si emak. Permen kojek itupun diterima dan diberikan kepada si anak. Si anak diam dan tersenyum.

Aku yang menjadi saksi di warung Mak Acok karena aku adalah cucu laki-laki yang paling nakal dan dimanja setiap liburan sekolah di salah satu dusun di Punggung Bukit Barisan Sumatra. Satu sore di bale-bale, Mak Acok bilang, "hidup itu hanya numpang minum. Jadi berbuat baiklah pada sesama. Jangan takut tidak makan,".

Senyuman konsumen ketika boleh nguntang dan baru bayar ketika panen. Anak-anak kecil yang tertawa ketika diberi bipang dan makanan kecil lainnya merupakan roh warung Mak Acok.

Itu misteri. Tapi satu hal yang mungkin diatur oleh yang Maha Hidup ketika penjual makanan di jalan gunung, penjual bakso di depan Terminal Nendagung, warung makan di depan rumah dinas walikota Pagaralam dan gado-gado Kampus POM IX Palembang berlaku jujur, membuat pelanggannya tersenyum karena masih bisa makan. Mereka tidak menaikkan harga makanan. Mereka menahan rezeki mereka untuk mereka yang sedang membutuhkan makanan.

Pedagang mengambil secukupnya. Mereka tidak ikut berpolitik praktis ambil untung seperti politikus tetapi justru pedaganglah yang berpolitik praktis membantu sesama dengan apa yang mereka punya.

Salam dari Punggung Bukit Barisan Sumatra
Salam Kompal

logo kompal
logo kompal
(1) nasional.kompas.com