OtnasusidE
OtnasusidE Pembelajar

Petani literasi I Bertanam kata-kata di Punggung Bukit Barisan Sumatra

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Mengejar Cinta di Tanjung Bunga

9 Maret 2018   05:00 Diperbarui: 9 Maret 2018   19:41 641 19 14
Cerpen | Mengejar Cinta di Tanjung Bunga
Altar Utama di Kelenteng Kwan Tie Miaw I Foto Dokumentasi Pribadi

Selamat pagi  Bangka...!

Pagi ini diriku terbangun dengan rasa bahagia dan bersemangat.

Aku sudah mandi sejak sebelum matahari menerpakan cahayanya di Pulau Bangka. Aku harus berangkat pagi ke Tanjung Bunga karena sudah janjian dengan Prameshwari untuk menemaninya ke Kota Pangkal Pinang.

King Kobra milik Gung menjadi alat transportasi yang efektif dan efisien. Memang tarikan tidak semelesat ketika spuyernya belum dimodifikasi tetapi ini menjadi pilihan berhemat selama aku di Bangka. Motor pun kupacu dari Pangkal Pinang ke Tanjung Bunga.

"Aduuhh.  Telat. Mesh sudah pergi ke kelenteng di Pangkal Pinang,  nyari info obat tradisional untuk gondongan," kata temannya.

Hadeuhhh.  Kemarin sudah disampaikan kalau mau ke Pangkal Pinang, nanti akan kuantarkan naik motor. Pagi ini dia sudah ngeloyor sendiri naik angkutan desa ke kota. Mesti nyari di kelenteng mana  nih gadis?  Pramesh... kamu betul-betul menguji diriku.

Jarak memang tidak begitu jauh. Tetapi mencari kelenteng di Pangkal Pinang yang jumlahnya banyak, bukan perkara mudah. Aku lalu bertanya ke warga yang menjaga kelenteng di pinggiran kota mengenai kelenteng yang banyak dikunjungi oleh pendatang atau wisatawan.  "Coba ke Kelenteng Kwan Tie Miaw, itu salah satu kelenteng yang tertua," katanya.

Sempat beberapa kali bertanya akhirnya sampai juga. Kelenteng Kwan Tie Miaw berada di tengah pasar,  downtown  kota Pangkal Pinang. Aku celingukan dari luar pagar mencari sosok perempuan tinggi berambut setengah bahu. Beberapa pegawai kelenteng terlihat menyapu bagian dalam kelenteng. Namun, Mesh tak nampak.

Perasaanku pun sudah tak karuan. Kesal. Gemes. Marah. Cemas. Semua bercampur aduk, kacau balau.

Seorang Mpek*) yang duduk di pojokan pintu masuk terlihat sedang menulis dan membolak-balik kertas warna kuning. Di dekat tumpukan kertas ada radio tape kecil. Aku mendekat dan bertanya mengenai keberadaan seorang perempuan tinggi dengan rambut sebahu yang mungkin terlihat olehnya.

"Tidak ada. Atau aku yang tak melihatnya  ya?  Pagi ini banyak yang sembahyang.  Duduklah dulu! Dari mana?" katanya.

"Palembang," kataku sambil duduk. 

"Ini adalah salah satu kelenteng tertua di Bangka. Berdiri sejak 1846."

"Sudah tua sekali ya, Mpek."

Aku kembali celingukkan melihat ke dalam dari jendela. Asap dupa membumbung memenuhi ruangan. Samar-samar aku melihat beberapa orang sedang sembahyang.

Mereka bergerak dari satu altar ke altar lainnya. Gerakannya ritmis. Penuh konsentrasi.

Akhirnya mataku membelalak melihat seorang perempuan yang kuyakini itu adalah Prameshwari. Perempuan tersebut terlihat berada di depan altar utama. Gaya rambutnya khas. Pundaknya khas.

Pramesh... kamu selalu mempermainkan perasaanku.

Setelah meyakini perempuan yang kucari berada di dalam kelenteng, hatiku menjadi tenang. Sayup terdengar lagu mendayu dari radio tape kecil di depan Mpek. Iramanya begitu tenang, suara perempuan yang menyanyi  juga lembut.

Ni wen wo ai ni you duo shen

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5