Joselito Poulli Lucianno
Joselito Poulli Lucianno

Jl. Raden Saleh II no 274, Menteng, Jakarta 10330

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

El Sosioso, Tempat Nongkrong dan Inspirasi

6 Oktober 2017   12:37 Diperbarui: 7 Oktober 2017   03:29 973 0 0
El Sosioso, Tempat Nongkrong dan Inspirasi
koleksi pribadi

Kami tujuh orang gabut, dari berbagai profesi. Mulai dari pegawai swasta,mahasiswa hingga seniman. Diantara kami bertujuh Nyongyang paling tua diantara kita (24 tahun) berprofesi sebagai pegawai swasta.

Lalu Rafi, Levty (adik saya), Dan Bio One berprofesi sebagai pemain sinetron dari bertujuh mereka bertiga lah yang paling muda (15-16 tahun). Sedangkan saya (penulis), Ichal (mahasiswa), Dan Josh (gitaris) berada ditengah (19-20 tahun).

Walau berbeda profesi dan  juga usia, masing-masing dari kami tetap menghormati satu sama lain dan saling melengkapi, sehingga jarang tercipta konflik. Sesibuk apapun kami selalu menyempatkan diri untuk berkumpul, entah untuk sekedar nyanyi-nyanyi dan bercanda, menginap selama berhari-hari hingga pergi kepulau setahun sekali.

Masing-masing dari kami pun memiliki penghasilan, soal besar dan kecil relatif. Itu lah mengapa setahun sekali kami dapat pergi kepulau untuk sekedar refreshing.

Diusia yang masih relatif muda serta kurangnya pengetahuan akan pentingnya tabungan, dan investasi jangka panjang menyebabkan kami terlalu royal dalam berbelanja.

Tak terhitung berapa banyak uang yang kami habiskan dalam waktu sebulan, saya prediksi jumlahnya "wah" untuk anak-anak seusia kami. Semua hal pun telah kami coba namun masih dibatas wajar dan tidak melanggar hukum.


Suatu ketika, entah setan apa yang merasuki pikiran. Kami menyudahi agenda kumpul tanpa manfaat yang diadakan setiap akhir pekan, masing-masing terutama nyong mulai berfikir jangka panjang, sertasadar akan pentingan tabungan dan investasi untuk menjamin masa depan. Perasaan ini lah yang mendorong kami untuk mendiskusikan hal ini.

Hasil diskusi memutuskan membuka usaha, bisnis kuliner kami pilih karena Bio memiliki pengalaman dibidang kuliner khususnya didapur, sedangkan ichal sempat bekerja di restoran cepat saji.

Sosis dipilih sebagai bahan dasar, karena kami mendapatkan dukungan dari ayah saya yang memiliki pabrik sosis dan bersedia mensupply restoran kami dengan membayar harga modal, bahkan ia mau membantu modal pertama bahan.

Kami mulai mencari-cari dimana lokasi yang cocok. Mulai dari Pasar Santa yang saat itu sedang happening sayang dibarengi dengan isu penggusuran, lalu beralih ke Pluit yang langsung mendapatkan penolakan karena tidak masuk kedalam konsep, berlanjut ke food court Plaza FestivalKuningan.

Awalnya kami berpikir Plaza Festival adalah paket komplit dengan fasilitas serba ada. Mulai dari parkiran,ruang AC,Panggung, hingga meja dan kursi. Selain itu tempatnya yang strategis dan harga sewanya yang murah (tadinya).

Kami menganalisa dan mendiskusikan ketiga tempat hasil survey tadi, sayangnya hasil diskusi dan analisa kami menyatakan tidak memungkinkan, Plaza Festival sendiri yang saya gadang-gadang sebagai tempat yang pas. Sayang tidak masuk, berdasarkan perhitungan Break Event Pointkami harus menjual 25 porsi. Itu pun belum mendapatkan keuntungan. Sementara 2 tahun belakangan food court Plaza Festival, telah mengalami pergantian management sebanyak 5 kali, tentu membuat kami ragu.

Tak kunjung mendapatkan titik terang, Rafi buka suara menawarkan warung bakso pinggir jalan milik tantenya yang dapat kita sulap menjadi sebuah kafe.

Dengan biaya sewa yang murah berdasarkan system bagi hasil, strategis berada di pinggir jalan, dan prestisius karena terletak di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Selesai dengan lokasi, kami dihadapkan dengan masalah baru. Renovasi. Malam itu rapat umum pemegang saham ke dua dengan agenda renovasi, masing-masing dari kami diharuskan membawa buku tabungan dengan cetakan terakhir, dan jujur mengungkapkan kondisi keuangan masing-masing.

Hasil rapat memutuskan untuk menggunakan dana patungan dari pemegang saham, dengan asumsi tujuh orang dan dana patungan 3 Jt /orang, sehingga dana yang dikumpulkan sebesar 21 jt.

Sayang keputusan ini mendapat pertentangan dari banyak orang, salah satunya adalah nyong, yang pada akhirnya memutuskan menarik diri dari proyek ini, kami menghormati keputusan dia dan tetap lanjut.

Dana yang semula kami asumsikan berjumlah 21 jt, ternyata hanya bisa kekumpul 19 jt. Tidak ada kata untuk berhenti, renovasi harus berjalan.

Perobakan warung bakso menjadi kafe sendiri, memakan waktu hampir tiga bulan melewati bulan Ramadhan, dengan dana yang terbatas kami memutuskan melakukan renovasi sendiri tanpa ada bantuan tenaga ahli, rupanya keadaan ini membuat ke dua orang tua Rafi iba dan mengirim kan Om Dede, yang tak lain adalah omnya Rafi untuk membantu meringankan pekerjaan.

Semula dengan pengalaman kami serta informasi yang kami dapatkan dari youtube dan google, kami dapat menyelesaikan mengaci lantai kafe dalam waktu satu hari, setelah ada om dede pekerjaan selesai dalam waktu 4 jam ....  Selanjutnya om Dede kami putuskan bagian dari kami, bukan sebagai pegawai melainkan pemegang saham.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3