Mohon tunggu...
Opa Jappy
Opa Jappy Mohon Tunggu... Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan

Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan. Akun Resmi Jappy M Pellokila di Kompas.Com dengan motto Bebas Menyuarakan Kebebasan. Tulisan lain: https://artikel867913207.wordpress.com http://jappy.8m.net https://twitter.com/OpaJappy">https://twitter.com/OpaJappy Dan juga ada di Berbagai Media Nasional dan LN. Akun Lama http://www.kompasiana.com/jappy

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Kampanye dan Potensi Konflik Sosial

22 September 2018   08:20 Diperbarui: 10 Desember 2018   11:05 0 4 1 Mohon Tunggu...
Kampanye dan Potensi Konflik Sosial
Dokumentasi Indonesia Hari Ini

Catatan I: Kofi A. Annan, (Mantan) Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa

Betapa menyenangkan karena di dunia ada kecenderungan ke arah demokratisasi dan penghargaan terhadap hak asasi manusia. Tak kurang dari 120 negara kini telah menjalankan pemilihan umum yang jujur dan adil, dan sejumlah besar konflik internal berakhir dengan perdamaian yang dirundingkan, termasuk sistem pemilihan umum yang ditujukan untuk membangun struktur politik yang dapat diterima semua pihak. Pihak-pihak ini pun telah bersepakat untuk menghasilkan penyelesaian damai yang berkelanjutan melalui transisi demokratis.

Prinsip-prinsip demokrasi telah menyediakan titik tolak untuk mengimplementasikan penyelesaian yang demikian, yang biasanya tidak hanya melibatkan demokratisasi sebuah negara tetapi juga memberi kekuasaan lebih kepada masyarakat madani. Sekali para aktor politik mengakui kebutuhan akan pengelolaan damai untuk konflik yang mengakar, sistem yang demokratis bisa membantu mereka mengembangkan kebiasaan untuk berkompromi, bekerjasama dan membangun konsensus. Ini bukan pernyataan abstrak, akan tetapi kesimpulan praktis yang ditarik dari pengalaman PBB dalam penyelesaian konflik di lapangan.

Sumber: Demokrasi dan Konflik yang Mengakar: Sejumlah Pilihan untuk Para Negoisator, Institute for Democracy and Electoral Assistance

Catatan II: Kampanye

Sederhananya, kampanye adalah memberitakan (menyampaikan sesuatu melalui tulisan, gambar, suara dengan berbagai media) daya tarik untuk mendapat perhatian, dukungan, dan pilihan. Isi pemberitaan itu, antara lain kapasitas, kualitas, bobot, prestasi, kelebihan (berdasar data, fakta, arsip, hasil yang telah ada/dicapai), dan keuntungan jika memilih sesuai yang dikampanyekan. Kampanye bisa dan biasa dilakukan oleh/pada berbagai kegiatan; dan utamanya pada proses pemilihan pimpinan (dan pengurus) di pada organisasi tertentu (ormas, keagamaan, kegiatan sekolah, kampus, dan partai politik), dan yang paling umum dilakukan adalah pada kegiatan politik.

Dengan itu, kampanye, bisa terjadi atau dilakukan pada semua bidang, utamanya kegiatan yang bersifat mempengaruhi orang lain untuk memilih seseorang, kelompok, atau hasil produksi tertentu. Demikian juga (yang terjadi) pada Pilpres RI tahun 2019, semua calon presiden dan wakil presiden (akan) melakukan kampanye tertutup (dalam/di ruangan) dan terbuka atau area terbuka yang tanpa batas.

Isi atau muatan dalam/di pada waktu kampanye pun, wajib berisi sejumlah visi, misi, program, janji politik, dan lain sebagainya yang bersifat (upaya) menarik perhatian, mempengaruhi, dan menjadikan orang lain tertarik (dan juga memilih) orang (dan visi, misi, program, dan janji) yang dikampanyekan atau ditawarkan. Itu yang seharusnya.

Namun, menurut saya, jika mengikuti dan melihat perkembangan selama ini yang saya sebut sebagai ‘pra-kampanye;’ yang akan terjadi adalah hal-hal bukan merupakan muatan atau isi kampanye. Atau, jika terjadi, maka porsinya hanya kecil. Jadi, isi narasi dan orasi pada kampanye, bakalan sedikit penyampaian program; tapi penuh janji-janji (surga) serta bualan politik. Kampanye hanya (akan) berisi ‘live musics’ teriakan yel-yel, umpatan, bahkan sekedar pengerahan massa bagaikan pasar malam. Dengan itu, maka yang terjadi adalah pembodohan publik serta bukan edukasi politik.

Akibatnya, (akan) memunculkan pemilih yang memilih (hanya) karena ‘emosi politik,’ ikut-ikutan, ikuti arus, berdasarkan ‘provokasi politik,’ dan terbuka kemungkinan ‘memilih karena berapa banyak rupiah yang didapat. Tragis.

##

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x