Ony  Maharani
Ony Maharani

Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Dasar konsentrasi Bahasa Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Muda

Reformasi Iklim Membaca: Pendekatan Strategis Menuju Sekolah Berbudaya Baca

12 Oktober 2017   23:18 Diperbarui: 12 Oktober 2017   23:25 814 0 0

Abstrak

Membaca merupakan ujung tombak perluasan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi siswa. Paradigma kegiatan membaca sebagai suatu tuntutan dapat bergeser menjadi kebutuhan hidup, apabila telah tercipta budaya membaca di sekolah. Budaya baca dapat diciptakan dan dibina melalui beberapa kegiatan, yaitu (1) Mengetahui bekal awal yang dibawa siswa dari rumah; (2) Menciptakan lingkungan kelas yang tidak mengancam; (3) Menghargai berbagai respon siswa; (4) Menghadirkan buku pada banyak ruang di sekolah; dan (5) Mendekatkan siswa dengan beragam bahan bacaan. Budaya baca di sekolah akan mengantarkan siswa dekat dengan buku dan menjadikan membaca sebagai senjata paling ampuh mengubah dunia.

Kata kunci: Budaya Baca, Minat Baca, Kebutuhan, Tuntutan

Pendahuluan

Peningkatan minat baca masih menjadi perkerjaan rumah yang belum terselesaikan. Berbagai program telah dilakukan untuk menemukan solusi terbaik. Pembiasaan membaca buku non pelajaran, pengelolaan sudut baca, hingga diterapkannya kunjungan wajib ke perpustakan belum juga memperoleh hasil maksimal. Rendahnya koloborasi dan kegagalan bersinergi dari beberpa pihak semakin memperkeruh permasalahan ini. Minat baca tidak selalu berhubungan dengan kebutuhan, namun besar kemungkinan berkaitan dengan keinginan hati seseorang (Maharani, 2016:106). Pemberian buku yang tidak sesuai dengan usia siswa atau memaksa siswa membaca buku yang tidak digemari, secara langsung dapat berpengaruh terhadap suasana hati siswa.

Data dari Program for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2015 menunjukkan keterpurukan kemampuan anak-anak Indonesia di peringkat ke 64 dari 72 negara. Data terbaru dari Most Littered Nation In The World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, menunjukkan bahwa Indonesia berada pada urutan ke 60 dari 61 negara anggota riset. Kondisi ini kurang menguntungkan apabila ditinjau dari tuntutan dan tanggung jawab untuk menjadikan buku sebagai bagian dari proses kebutuhan belajar di sekolah.

Mencermati permasalahan yang terjadi, sistem pendidikan Indonesia secara proaktif perlu menemukan strategi dan mengubah orientasi program-program peningkatan minat baca atas dasar kebutuhan nyata kehidupan masa depan berdasarkan hasil kajian lapangan yang objektif. Minat baca yang dibangkitkan pada usia dini dapat dijadikan landasan bagi berkembangnya budaya baca di masa depan. Tujuan pembuatan artikel ilmiah ini adalah mengeser pola pemikiran dalam menyikapi rendahnya minat baca yang masih saja terjadi di sekolah. Guru dan seluruh kalangan yang terlibat diharapkan dapat lebih peka dalam memahami tuntutan dan kebutuhan anak agar tercipta iklim gemar membaca sehingga budaya baca di sekolah dapat segera ditunaikan.

Pembahasan

Retorika pendidikan yang menyebutkan "semakin banyak membaca buku, semakin berilmu" merupakan perwujudan dari pentingnya membaca buku sebagai ujung tombak memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan. Seyogyanya retorika tersebut direalisasikan dalam program-program yang kongkret dan terencana. 

Sebelum menelaah terlalu jauh berbagai pendekatan, perlu diketahui terlebih dahulu potret permasalahan yang terjadi saat ini. Beberapa tuntutan perubahan mendasar perlu segera dilakukan, namun perubahan tidak bisa dilakukan begitu saja tanpa persiapan dan kajian yang matang. Sistem pendidikan Indonesia terlalu sering mengalami perubahan yang menyebabkan terbentuknya lingkungan yang "terburu-buru".

Secara umum reading comprehension skills merupakan satu dari tiga poin penting kebutuhan pendidikan yang menuntut perhatian serius. Sekolah dianggap memiliki peranan strategis sebagai pemandu terjadinya perubahan. Langkah awal dalam mencermati apa yang menjadi tuntutan adalah dengan menciptakan iklim gemar membaca di sekolah. Iklim gemar membaca tidak akan optimal jika hanya ditularkan melalui kegiatan 15-20 menit membaca buku di luar jam belajar. 

Hal-hal semacam ini perlu ditinjau ulang melalui studi empiris yang objektif, karena bukan tidak mungkin penciptaan program-program gemar membaca yang dilakukan selama ini kontraproduktif terhadap tujuan yang ingin dicapai. Reformasi penciptaan iklim gemar membaca harus dirancang secara komprehensif dan dilaksanakan secara konsisten dengan arah yang jelas. Perlu untuk selalu dipahami bahwa pembaharuan tidak terjadi secara instan dan simplistic. Pembaharuan harus dilakukan melalui studi yang kompleks dan diimplemantasikan dalam kurun waktu yang lama.

Pada program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah terbangun konsensus tentang penciptaan lingkungan literat bagi anak. Tugas kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidik adalah bersinergi mencetak generasi literat masa depan. Pribadi siswa juga sangat penting diperhatikan untuk memastikan bahwa siswa dapat menemukan relevansi antara bacaan dan diri mereka sendiri secara pribadi, sehingga dapat tercipta keinginan dan hubungan yang kuat terhadap bahan bacaan.

Menterjemahkan hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan iklim gemar membaca dalam menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar, perlu dimulai dari hal-hal sederhana sebagai berikut.

Pertama: Mengetahui bekal awal yang dibawa siswa dari rumah.

Sering kali terjadi kesenjangan antara siswa yang berangkat dari rumah literat/kaya bacaan, dengan siswa yang berangkat dari rumah yang tidak literat. Semakin tinggi aktivitas kegiatan berliterasi yang terjadi di rumah, maka semakin tinggi minat baca yang dibawah anak ke sekolah (Weigel dkk., 2006). Keberagaman latar belakang literasi rumah inilah yang sering diabaikan oleh guru. 

Idealnya, guru dapat memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan membaca yang dibawah siswa dari rumah untuk menghindari pemberian bahan bacaan yang tidak sesuai dengan kemampuan awal dan minat mereka. Guru sebaiknya bersikap menerima, mendukung, dan selalu mengapresiasi bahan bacaan yang dipilih sendiri oleh siswa. Siswa secara berkelanjutan akan merasa nyaman dengan lingkungan literat yang diciptakan guru di sekolah. Perasaan nyaman yang terbina dapat menumbuhkan kebiasaan untuk gemar membaca di sekolah.

Kedua: Menciptakan lingkungan kelas yang tidak mengancam.

Masih terjadi miskonsepsi terhadap praktik pembelajaran di sekolah, bahwa hanya ada satu kebenaran objektif dan tunggal. Jarang sekali guru memberikan pertanyaan untuk mengetahui tingkat ketertarikan siswa terhadap buku. Guru lebih sering bertanya untuk mengetahui apakah siswa dapat menjawab dengan benar isi dari buku tersebut. Dampak dari kesalahan inilah yang membuat siswa merasa tidak bebas dan takut. Siswa akan menarik diri untuk tidak lagi dekat dengan buku agar terhindar dari jawaban salah. Perspektif yang demikian harus segera diubah agar hubungan siswa dengan buku tidak berjarak semakin jauh.

Ketiga: Menghargai berbagai respon siswa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2