Mohon tunggu...
Haryadi Yansyah
Haryadi Yansyah Mohon Tunggu... Penulis

ex-banker yang kini beralih profesi menjadi pedagang. Tukang protes pelayanan publik terutama di Palembang. Pecinta film dan buku. Blogger, tukang foto dan tukang jalan amatir yang memiliki banyak mimpi. | IG : @Omnduut

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Cerpen: Uring-uringan Sarung ala Pak Manto

14 Mei 2020   10:51 Diperbarui: 14 Mei 2020   16:03 91 19 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Uring-uringan Sarung ala Pak Manto
Sarung yang biasa digunakan pria. Sumber brilio.net

Hampir semua penduduk kampung Naga Pesolek mengenal Pak Manto. Beliau adalah salah satu sosok yang dituakan di kampung. Sehari-hari ia bekerja sebagai pedagang sayur dan sembako bersama Ijah, istrinya. 

Warung mereka cukup besar dan bisa dibilang hampir tak ada pesaing. Pantaslah jika Pak Manto dikenal cukup berada dan tergolong beken di kalangan ibu rumah tangga.

Pak Manto dan Bu Ijah punya 2 anak. Semua sudah besar dan pasca lulus kuliah, keduanya menikah dan memilih menetap di ibukota. Sehari-hari Pak Manto dan istri menjalani hidup apa adanya. 

Jam 3 pagi mereka bangun lalu sembahyang. Oh ya tentu mereka mandi besar dulu sebelum sembahyang jika sebelumnya mereka tidur bercampur. Yang jelas, mereka berdua orang yang taat beragama.

Nah, setelah sembahyang, barulah mereka ke pasar dan kembali lagi menjelang subuh. Matahari masih sembunyi warung mereka sudah buka. Dan, jam segitu sudah ada saja yang belanja. Sebagian orang ini sengaja datang lebih awal agar mendapatkan daging dan sayuran kualitas baik.

Satu yang menjadi ciri khas dari Pak Manto. Sehari-hari dia beraktifias menggunakan sarung. Mau ke pasar, jaga warung atau kondangan, Pak Manto tetap dengan sarung yang menjadi ciri khasnya. Sebetulnya, sudah banyak yang mempertanyakan tentang hal ini.

"Pak, pakai sarung terus, emangnya nggak kedinginan?" celetuk Pak RT satu waktu.

Tak sedikit orang yang menghubungkan ramainya warung Pak Manto dengan kebiasaannya memakai sarung ini. "Mungkin itu syarat dari dukun biar warungnya ramai kali," desus beberapa warga yang bisa jadi sirik. Tentu saja itu nggak benar. Pak Manto dan istrinya menjalani usaha dengan lurus. Kuncinya ya kerja keras.

Di Myanmar juga mereka sehari-hari menggunakan sarung. Sumber nonikhairani.com
Di Myanmar juga mereka sehari-hari menggunakan sarung. Sumber nonikhairani.com
"Lagian sesekali pake celana kan nggak apa-apa, Pak," ujar Bu Ijah suatu kali. "Saya kadang malu loh kalau dibercandai tetangga yang bilang bapak pakai sarung biar ringkes kalau mau duaan sama saya," sahutnya lagi dengan muka bersemu merah sambil menyusun sayur mayur di warung.

"Lha kan emang iya tuh, Bu!" cecar Pak Manto sambil terkekeh.

"Iya tapi kan ya saya malu loh dibercandai begitu."

"Cuekin sajalah. Saya kan sarungan gini karena merasa nyaman. Lagian kita ini kan orang kampung. Mosok iya saya pake celana jin. Itu kan produk Amerika. Saya ini wong Indonesia, loh."

Mendengar itu, Bu Ijah cuma bisa misuh-misuh. Ini bukan kali pertama dia protes dengan cara suaminya berpakaian. Dulu, mereka sempat ribut juga karena menurut Bu Ijah, suaminya sengaja pamer sarung mahal kalau sedang ke masjid.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x