Haryadi Yansyah
Haryadi Yansyah wiraswasta

ex-banker yang kini beralih profesi menjadi pedagang. Tukang protes pelayanan publik terutama di Palembang. Pecinta film dan buku. Blogger, tukang foto dan tukang jalan amatir yang memiliki banyak mimpi. Http://omnduut.com | IG : @Omnduut

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan Pilihan

Cara Jomlo "Merayakan" Romantisme Ramadan

23 Mei 2018   11:02 Diperbarui: 23 Mei 2018   11:35 512 4 6
Cara Jomlo "Merayakan" Romantisme Ramadan
Foto milik pribadi

Pada ngeh nggak sih jika banyak orang yang memutuskan untuk segera menikah sebelum Ramadan tiba? Nggak usah jauh-jauh, coba lihat ke sekeliling, pasti ada aja orang yang kita kenal memutuskan menyegerakan proses akad nikah demi mengganti status sebagai suami/istri ketika Ramadan datang. Alasannya macam-macam, namun yang paling sering saya dengar itu....

"Iya, biar nanti pas sahur ada yang ngebangunin." Atau, "asyik tahu, nyantai bisa sahur dan buka puasa ditemani istri/suami." Tak jarang ada yang juga yang komen jujur, "biar malam Ramadannya makin terasa indah, abis tarawih kan bisa ena'-ena' soalnya." -yakin abis terawih? Jangan-jangan pas beduk berbukanya langsung "itu", alhasil yang jomlo makin merana buahahaha.

Sungguh, mereka benar. Siapa sih yang nggak mau segera menikah dan memiliki pasangan yang menyayangi? Cieh. Namun, jika memang jodohnya belum datang ya apa boleh buat, masih banyak cara untuk "merayakan" romantisme Ramadan walaupun berstatus jomlo (akut, kayak saya, uhuk). Intinya, jangan sampelah ngamuk-ngamuk di jalanan hanya karena jomlo buahahaha.

Apapun alasannya, menurut saya romantisme Ramadan itu mengerucut pada satu hal : kebersamaan.

Nah, jika ngomongin kebersamaan, toh tidak harus dilakukan bersama pasangan (menikah). Momen-momen kebersamaan itu dapat dirayakan bersama orang-orang terdekat yang kita sayangi. Dan, siapa lagi coba jika bukan keluarga di rumah.

Maksimalkan Waktu Kumpul Keluarga

Saya dilahirkan di keluarga yang kayaknya nggak ada romantis-romantisnya hwhw. Apa tolak ukurnya? Hmm, misalnya saat ada yang berulang tahun. Boro-boro akan dirayakan dengan beli kue atau makan pempek bareng -eh, sekadar mengucapkan ulang tahun pun tidak ada.

Namun, di satu sisi, saya tahu itu adalah cara orang tua untuk mengajarkan kami para anaknya untuk tidak terlalu terpaku pada simbol atau hari-hari penting. Ada kan tuh anak yang tiap kali ulang tahun maunya dirayakan. Belum lagi maksa orang tua minta dibelikan kado, dan jika tidak dituruti akan mengamuk. (Terakhir, saya baca berita ada yang nekat ngebakar rumah hanya karena gak dibeliin hape, hiks).

Ada satu kejadian unik soal ulang tahun ini, ketika satu waktu sahabat saya datang ke rumah dengan memberikan kejutan. Ibu saya yang melihat aksi sahabat saya itu sampai berujar, "ibu aja nggak inget kalau Yayan hari ini ulang tahun." Wakakakak. -aku rapopo, udah biasa.

Di keluarga, saya juga tidak terbiasa curhat dengan saudara atau orang tua. Jika ada masalah, ya pendam sendiri. Apalagi kalau masalahnya menye-menye kayak kehabisan pempek saat mau beli di warung depan -eh, haha, maksud saya masalahnya "sepele" saat diputusi pacar. -aku rapopo (lagi), aku tegar.

Kumpul bersama keluarga itu romantis. Jangan tanya yang di sebelah siapa hahaha. Foto milik pribadi.
Kumpul bersama keluarga itu romantis. Jangan tanya yang di sebelah siapa hahaha. Foto milik pribadi.
Pun bahkan ketika kami, para anak-anaknya berprestasi. (misalnya jadi juara kelas, atau memenangkan penghargaan bergengsi). Orang tua pun tidak memberikan reaksi yang berlebihan. Paling banter mereka akan berkata, "alhamdulillah."

Tapi jauh di balik sikap cuek mereka, saya sadar, mereka bangga kepada kami para anak-anaknya. Ini diketahui jika kemudian mereka berbicara kepada anggota keluarga lain tentang pencapain yang kami terima. Kadang jika gak sengaja nguping pas dengar mereka ngobrol, "alhamdulillah, saya gak pernah dibikin pusing sama tingkah laku anak," aja udah seneng banget.

Jika belum mampu membahagiakan orang tua, minimal tidak bikin mereka sedih, bukan? Makanya kami jaga betul kepercayaan orang tua dan berusaha untuk menjalani aktivitas sesuai aturan dan norma.

Kalau kata soundtrack lagu Keluarga Cemara, "harta yang paling berharga adalah keluarga" saya setuju banget. BANGET! Makanya, saya bertekat banget untuk terus berbuka puasa bareng keluarga di rumah. Saya rela deh menolak semua ajakan buka puasa bersama (tips cara menolaknya sudah saya tuliskan di sini).

Sebab, bagi saya -yang jomlo ini, romantisme Ramadan dapat saya rasakan penuh saat berada di tengah-tengah keluarga. Percayalah, berebutan ikan yang masih sepotong itu rasanya juga romantis loh hihihi.

Kencan Bersama Keponakan

Intensitas saya bertemu dengan dua keponakan sebetulnya cukup sering. Namun, untuk kumpul dalam waktu agak lama, berinteraksi dengan cara main atau ngobrol bareng biasanya jarang. Nah, di ramadan ini, karena bertepatan dengan selesainya ujian mereka, maka waktu jumpa saya dengan mereka lumayan banyak.

Nah di Ramadan kali ini, saya "paksa" mereka untuk membaca lebih banyak buku dan majalah. Ya, ketimbang mereka main game mulu di hape kan. Untuk ukuran om yang ganteng -pembaca langsung istighfar, saya ini termasuk yang galak... tapi sayang hwhw.

Ketimbang main game, mending baca, kan? Foto milik pribadi
Ketimbang main game, mending baca, kan? Foto milik pribadi
Jika saya sudah bilang A, mereka biasanya nurut. Ya nggak yang gimana-mana banget sih. Misalnya mengingatkan mereka untuk tidak main hape dengan gegulingan, atau menyuruh mereka merapikan pakaian sekolah atau juga menempatkan piring ke tempat cucian sehabis makan. Ya yang simpel aja dan itu saya lakukan agar mereka lebih disiplin.

Nah, Ramadan kali ini, kembali ada beberapa kegiatan yang saya -si jomlo ini, lakukan bersama keponakan. Misalnya saja baca buku dan majalah bareng, atau nonton tayangan edukatif di youtube. Jika mereka berbuka puasa di rumah, biasanya lebih seru lagi. Bisa ngobrol banyak sambil makan dan... bisa rebut-rebutan lauk juga hahaha -omnya ngalah tentu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2