Mohon tunggu...
okta yuripta syafitri
okta yuripta syafitri Mohon Tunggu... Mahasiswi Pascasarjana Ekonomi dan Keuangan Syariah Universitas Indonesia

Never underestimate yourself. If you are unhappy with your life, fix what's wrong, and keep stepping.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Evolusi Konsep Ekonomi Pembangunan, Apakah Semakin Islami?

8 Desember 2020   08:04 Diperbarui: 15 Desember 2020   07:37 95 2 0 Mohon Tunggu...

The Great Depression yang berawal di Amerika menjadi awal dari terjadinya depresi ekonomi di berbagai belahan dunia, Krisis ini dipicu oleh kehancuran saham di Wall Street pada tahun 1929 dan kemudian diperburuk oleh keputusan kebijakan yang diambil pemerintah AS. The Great Depression di Amerika Serikat  hanyalah satu dari sekian banyak kiris yang terjadi. Hal inilah yang membuat para ekonom dan beberapa pemangku kebijakan di berbagai dunia melakukan pengkajian ulang terhadap konsep dan tujuan dari ekonomi pembangunan yang selama ini meraka terapkan.

Setidaknya terdapat empat kali perubahan konsep dan tujuan dari ekonomi pembangunan sejak tahun 1950-saat ini, perubahan konsep dari pembangunan ekonomi dari masa ke masa terlihat semakin humanis dan tidak hanya bertumpu pada aspek material saja. Di era 50an hingga 20 tahun setelahnya,tingkat keberhasilan dari pertumbuhan ekonomi di hampir seluruh negara di dunia hanya diukur dengan indikator GDP dan GNP. Jadi suatu negara dapat dikatakan tumbuh jika GDP dan GNP mengalami peningkatan, namun problematika kemiskinan yang tidak terelakkan di beberapa negara menyebabkan perubahan dalam mengukur keberhasilan suatu ekonomi. 

Pada tahun 1970 GDP dan GNP bukan lagi menjadi satu - satunya indikator dari keberhasilan pembangunan suatu negara, namun terdapat beberapa indikator sosial yang digunakan dengan tujuan pengentasan kemiskinan, pengurangan jumlah pengangguran dan tingkat kesenjangan. secara singkat pertumbuhan ekonomi sebagai output dari pembangunan dapat terdistribusi baik dan merata kepada seluruh lapisan masyarakat, melahirkan sebuah outcome yaitu pengentasan kemiskinan. pada konsep ini beberapa negara menggunakan indeks koefisien gini untuk mengukur keberhasilan ekonomi di negara mereka.

kemudian sekitar tahun 1990 Sumber Daya Manusia atau Human Resources yang awalnya bersifat pasif, dituntut aktif dengan menjadi aktor dari pembangunan itu sendiri atau biasa disebut people centered development. pada fase ini sering disinggung berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari aspek kesehatan, pendididkan dan pendapatan rumah tangga untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia suatu negara .  Munculnya krisis pangan, shortage energy, bencana alam dll  akhirnya mendorong dilibatkannya aspek lingkungan  ke dalam konsep ekonomi pembangunan untuk tujuan SDGs atau sustainable development goals. SDGs ini mulai muncul dan berkembang pada tahun 2012 dan berlaku hingga saat ini.

 SDGs merupakan komitmen global dan nasional dalam upaya untuk menyejahterakan masyarakat mencakup 17 tujuan yaitu (1) Tanpa Kemiskinan; (2) Tanpa Kelaparan; (3) Kehidupan Sehat dan Sejahtera; (4) Pendidikan Berkualitas; (5) Kesetaraan Gender ; (6) Air Bersih dan Sanitasi Layak; (7) Energi Bersih dan Terjangkau; (8) Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; (9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur; (10) Berkurangnya Kesenjangan; (11) Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan; (12) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; (13) Penanganan Perubahan Iklim; (14) Ekosistem Lautan; (15) Ekosistem Daratan; (16) Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh; (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Bappenas, 2017) 

Gambaran dari perubahan dan pergeseran paradigma dari konsep ekonomi pembangunan dunia yang telah dipaparkan diatas, menjadikan tolak ukur dari keberhasilan ekonomi tidak lagi hanya ditinjau dari aspek materi saja seperti pendapatan nasional sebuah negara, akan tetapi juga dilihat dari bagaimana pendapatan tersebut dapat terdistribusi secara baik serta berpengaruh pada keberhasilan dalam mengurangi jumlah masyarakat miskin. Berkaitan dengan hal ini, isu kemiskinan yang menjadi problematika hingga saat ini dalam pengentasannya tidak lagi diukur dari indikator ekonomi secara materi melalui pendapatan perkapita rumah tangga. Namun juga memperhatikan aspek non materi yang menggambarkan kesejahteraan seperti yang telah dipaparkan oleh UNDP dengan alat ukur Indeks Pembangunan Manusia meliputi 3 aspek dasar yaitu, angka harapan hidup, akses terhadap pendidikan dan rata – rata pengeluaran rumah tangga. 

Keberhasilan yang diukur berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia jika ditelaah sangatlah dekat dengan kesejahteraan yang menjadi tujuan utama dari ekonomi pembangunan Islam yang disebut dengan istilah Falah. lebih lanjut jika dilihat mayoritas aspek yang terkandung dalam SDGs  ini dapat menjadi perantara tercapainya 4 tujuan dari Maqhasid syariah yaitu Hifdzu Nafs (Perlindungan Jiwa Raga), Hifdzul Maal (Perlindungan Harta), Hifdzul ‘Aql (Perlindungan akal) dan Hifdzu Nasl (Perlindungan Keturunan). Namun, dalam konsep falah, setiap peningkatan taraf hidup masyarakat itu hendaknya disertai dengan niat dan tujuan untuk mendapat Ridho Allah SWT sebagai Tuhan yang telah menciptakan manusia. Aspek Religiusitas inilah yang luput dari konsep ekonomi pembangunan konvensional.

 Terdapat 6 objek utama pembangunan dalam kerangka Ekonomi Islam adalah: (Ahmad, 1980) Pembangunan Sumber Daya Manusia, Pertambahan output yang bermanfaat, Perbaikan kualitas kehidupan, Pembangunan seimbang, Penggunaan teknologi baru, Pengurangan ketergantungan dengan Negara luar.Terkait dengan salah satu objek utama pembangunan dalam kerangka Ekonomi Islam yaitu Pembangunan Sumber Daya Manusia. Seorang pakar Maqasid Syariah, Jasser Auda mengatakan dalam buku nya yang berjudul ‘membumikan hukum Islam melalui maqasid syariah’. “pembangunan SDM (sumber daya manusia) menjadi salah satu tema utama bagi kemaslahatan publik pada zaman kita sekarang”. Kemaslahatan publik dan pengembangan SDM seharusnya menjadi salah satu tujuan pokok maqasid syariah, yang direalisasikan melalui hukum islam. Dan Mengaitkan pembangunan SDM dengan maqasid hukum islam dapat memberikan landasan yang kokoh di dunia Islam bagi perwujudan tujuan pembangunan SDM di dunia.  (Auda, 2008)

VIDEO PILIHAN