Mohon tunggu...
Okto Klau
Okto Klau Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis lepas

Menulis adalah mengabadikan pikiran

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

KIP Kuliah, Mengapa Tidak Pendidikan Gratis untuk Daerah-Daerah 3T?

8 April 2022   14:31 Diperbarui: 10 April 2022   06:43 744
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Sumber: Kemendikbud via Kompas.com

Pemerintahan Jokowi kembali menelurkan satu kartu sakti, yaitu KIP Kuliah. Sebelumnya sudah ada beberapa macam kartu yang lain dimana satu di antaranya adalah Kartu Indonesia Pintar.

Maksud pemerintah mulia, yaitu memberi kesempatan kepada anak bangsa yang berprestasi dan ingin melanjutkan kuliah tapi terkendala biaya.

Namun, barangkali lebih baik jika pemerintah coba membuat pemetaan yang jelas, daerah-daerah mana saja yang seharusnya tidak memerlukan kartu itu dan memberikan pendidikan gratis untuk semua anak di sana sampai perguruan tinggi.

Pendapat ini mungkin terlalu berlebihan, tapi untuk kemajuan bangsa kenapa tidak.

Menurut saya kartu sakti, entah itu KIP atau pun KIP Kuliah hanya sifatnya insidental dalam menolong siswa atau mahasiswa yang tidak mampu. Tetapi, itu tidak bisa mendongkrak pendidikan kita menjadi yang terdepan, minimal di Asia Tenggara.

Kartu-kartu sakti sudah terlalu banyak. Takutnya nanti dompet dan tas orang-orang miskin hanya penuh dengan kartu-kartu tersebut.

Mengapa tidak pendidikan gratis sekalian?

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa nilai PISA untuk anak-anak kota memang jauh berbeda dengan anak-anak yang ada di area 3T (terdepan, terluar, dan terpinggir). Jadi meskipun anak-anak di Jakarta nilai PISA tinggi tapi ketika dirata-ratakan tetap akan rendah karena merupakan akumulasi dari seluruh Indonesia.

Hal ini terjadi karena memang pendidikan kita belum merata. Kalau boleh sedikit kritis, pendidikan kita masih bersifat Jawasentris.

Bukan karena rasa benci atau tidak suka Jawa. Sama sekali bukan. Tetapi kenyataannya demikian. Bukankah Indonesia kita begitu beragam?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun