Mohon tunggu...
Odi Shalahuddin
Odi Shalahuddin Mohon Tunggu... Pegiat hak-hak anak dan pengepul arsip teater, sastra dan kebudayaan

Bergiat dalam kegiatan sosial sejak 1984, dan sejak tahun 1994 fokus pada isu anak. Lima tahun terakhir, menempatkan diri sebagai pengepul untuk dokumentasi/arsip pemberitaan media tentang seni-budaya

Selanjutnya

Tutup

Catatan

(Pray for Pak RW) Semangat Malam dan tetap Manstaf Pak!

1 Februari 2012   13:15 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:11 314 7 30 Mohon Tunggu...
Lihat foto
(Pray for Pak RW) Semangat Malam dan tetap Manstaf Pak!
13281020081736937361

(Pray for Pak RW) Semangat Malam dan tetap Manstaf Pak!

[caption id="attachment_159703" align="alignleft" width="300" caption="Edy Priyatna"][/caption] Sembilan jam yang lalu, kira-kira, seorang kawan di group komunikasi sastra memberikan kabar dalam statusnya:

mohon doanya utk ayah dari kawan saya yang juga teman kita PakEdy Priyatnayang saat ini dirawat di Rumah Sakit Sari Asih, Ciputat karena stroke. Semoga Allah Swt. memberikan kesembuhan utk beLiau sehingga beLiau bisa beraktivitas dan kembaLi menuLis, aamiin Allahumma aamiin...

Saya membaca berulang-ulang, lalu bertanya kepada istri dan seorang kawan yang berada di dekat saya, kira-kira siapakah yang dimaksud? Apakah ayahandanya Pak Edy atau Pak Edy sendiri.

Dengan rasa ragu dan masih menduga-duga, akhirnya saya menuliskan komentar berharap ayahanda dari Edy Priyatna bisa diberikan kesembuhan. Komentar yang mendapat balasan: duhhh ini Lagi pak Odi Shalahuddin Mahdami, bukan ayahanda beLiau yang sakit tapi beLiau.

Sarah Mantovani, kawan yang membuat status tersebut adalah tetangga dari Pak Edy.

Sungguh, saya sangat terkejut. Apa yang dikhawatirkan dalam kepala memang nyata. Segera saya berpindah ke group Desa Rangkat. Memperhatikan berbagai status yang ada, tidak ada status yang mengabarkan tentang sakitnya Pak Edy. Ini malah membuat saya menjadi ragu. Tidak mungkin warga rangkat tidak mengetahui mengingat selama ini beliau sangat aktif berkomunikasi baik melalui status, penyebaran link tulisan, diskusi di inbox-inbox, komentar-komentar yang ditorehkan ataupun komunikasi melalui telpon.

Maka untuk mengabarkan dan agar tidak merasa bersalah, saya membuat status dengan melontarkan pertanyaan tentang kebenaran sakitnya Pak Edy,  yang di desa Rangkat berposisi sebagai Pak RW. Senggol kepada warga rangkat yang lain, terus bermunculan untuk mengetahui kebenaran. Juga saling menanyakan siapa yang memiliki nomor HP Pak Edy. Sayang, ternyata nomor HP-nya, saya juga tidak memiliki, walau saya merasa pernah menyimpan karena pernah berkomunikasi intens melalui telpon.

Terjawab kemudian ketika Mommy De Rangkat membuat status yang mengabarkan kebenaran berita itu. Sedih memang, keyakinan yang masih goyah atas kebenaran itu, tetap saja menyeruak di hati.

* * *

Tiada hari tanpa postingan dari dirinya, bahkan bisa berulangkali dalam seharinya, utamanya dalam bentuk puisi yang banyak mengungkap fakta sosial dan juga tentang cinta terhadap sesama. Sebagian kawan, bisa merasa diasyikkan dengan postingannya dan segera mengetahui secara cepat mengingat ia sangat aktif menyebarkan link-link tulisannya ke berbagai group yang ada. Walau bisa berarti pula ada sebagian kawan yang merasa ”risih” melihat keaktifannya.

Tapi saya pasti akan senada dengan para kawan-kawan lain bahwa ia adalah orang yang selalu bersemangat, dengan sapa yang yang khas dari dirinya dan seringkali ditiru oleh kawan-kawan lain, termasuk diri saya: Semangat pagi, Semangat Siang, Semangat Malam, dan istilah Manstaff.....

Ia akan selalu menorehkan komentar yang positif terhadap postingan para kompasianer, dan memberikan dorongan agar selalu tetap mempertahankan gairah berkarya. Tidak hanya itu, ia juga aktif men-share-kan tulisan kawan-kawan yang dinilainya baik ke berbagai group, men-screenshoot dan men-share tulisan kawannya yang menempati headline. Ini menunjukkan dirinya sama sekali bukan orang yang egois. Ia adalah orang yang sangat aktif, apresiatif, dan respek terhadap karya kawan-kawan.

***

Secara tepat, saya lupa kapan pertama kali mengenal dirinya, baik di Kompasiana ataupun di group Desa Rangkat di Facebook. Tapi pertemuan saya pertamakali dengan dirinya adalah saat Kopdar Desa Rangkat di Yogya.

Perbincangan intens, walau sejenak, justru terjadi di pinggir jalan, di depan toko ”Mirota Batik” saat menunggu para warga Rangkat yang bertebaran untuk mencari oleh-oleh. Ia datang ke Yogya bersama istri dan anak-anaknya, selalu menunjukkan wajah ceria penuh semangat dengan cara bicara berapi-api namun bisa juga menunjukkan wajah yang memberikan perhatian saat lawan bicara tengah bicara.

Ia menyatakan merasa mendapatkan gairah untuk menulis ketika membuka akun di Kompasiana pada tanggal 8 Maret 2011. ”Memang luar biasa, kita bisa sangat bergairah untuk terus memposting,” katanya dalam perbincangan di Yogya.

Menulis, utamanya fiksi, utamanya lagi dalam bentuk puisi, sungguh teramat jauh dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang digelutinya. Lelaki kelahiran tahun 1960 ini, bekerja di bidang teknik sipil. Tapi, menyimak ceritanya, pada periode akhir tahun 1970 hingga awal tahun 1980-an ia pernah sangat aktif menulis fiksi seperti puisi dan cerpen. Banyak tulisannya yang telah termuat di berbagai media massa pada saat itu.

Gairah berkarya dipengaruhi oleh rekan-rekannya yang berhimpun di ”Teater Bersama” yang bermarkas di kawasan Bulungan. Pada saat itu ia menggunakan nama pena: Edy Nawir.

Menulis, sebagaimana dialami oleh kebanyakan penulis lain, dan kita mungkin termasuk di dalamnya, selalu ada pasang surut. Demikian pula yang dialami oleh Edy Priyatna. Pada tahun 2001, ia menerbikan buku berisi cerpen dan puisi dengan judul ”Gempa” yang diproses ketika ia membantu pembangunan sekolah yang rusak akibat gempa  (kalau tidak salah) di Bengkulu. Pada tahun 2002 ia sama sekali tidak menulis. Tahun 2003-2004, tidak aktif lagi. Tahun 2005 mulai menulis lagi hingga saat ini dan saat-saat sangat produktif dialami tahun 2011, saat menjadi Kompasianer. Pada saat ini tercatat 840 tulisan yang pernah ia posting di sini.

Semangat, yang tampaknya memang sesuai dengan sikapnya, misalnya tertuang dalam salah satu puisinya:

Sudah banyak buku yang aku baca hampir tak ada yang terlewati namun masih belum pernah selesai karena setiap detik selalu terlahir kembali dari rahim-rahim para penyair dari perut-perut para ilmuawan mengikuti perjalanan matahari

(Kenyang)

***

Kini ia tengah terbaring di rumah sakit. Ia, menurut keterangan seorang kawan yang mendapat kabar dari istrinya, tiba-tiba terjatuh ketika tengah menulis bersama anaknya. Sempat tidak sadarkan diri, dan sempat tidak mengenali siapapun termasuk istrinya, namun kini telah sadar.

Saya yakin, kalau saja ia bisa bicara, maka kata-kata yang akan diucapkan sebagai sapanya adalah: Semangat Malam, Manstaff....!

Istirahatlah, jangan lama-lama Pak Edy, segeralah pulih, kembali bergairah dan membangkitkan semangat kawan-kawan, para kompasianer, khususnya para warga rangkat, yang selalu tidak ia lupakan. Tengoklah, seluruh postingan selalu tidak lupa ia lekatkan logo Desa Rangkat.

Semangat malam Pak Edy..... Manstafffffffff...!

Mari segera bangkit...!

Yogyakarta, 1 Pebruari 2011 ( Odi Shalahuddin)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x