Nyonya Ria
Nyonya Ria Front End Developer

Saya adalah Pembelajar. Belajar menjadi ibu, belajar menjadi penulis, belajra mengenal sejarah lokal, belajar untuk memiliki hidup yang lebih berkualitas.

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Jangan-jangan Anak Kita adalah The Next Koruptor?!

17 Mei 2018   16:07 Diperbarui: 17 Mei 2018   16:42 263 1 2
Jangan-jangan Anak Kita adalah The Next Koruptor?!
Foto: Nyonya Ria


Pola pendidikan sosialisasi yang benar mungkin akan mengurangi kemungkinan besar, anak kita menjadi the next koruptor.

Apa itu Sosialisasi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sosialisasi adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk mengubah suatu milik individu menjadi milik orang ramai (milik negara) atau bisa juga disebut sebagai proses belajar seseorang sebagai anggota masyarakat dalam mengenal dan menghayati kebudayaan di lingkungannya atau sebuah usaha untuk memasyarakatkan sesuatu sehingga menjadi dikenal, dipahami, dihayati oleh khalayak umum atau masyarakat luas.

Jadi, proses sosialisasi adalah sebuah proses sosial yang terjadi di dalam diri seseorang dalam mempelajari, menyesuaikan diri atau mematuhi norma -- norma sosial, nilai, perilaku, dan adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakat sehingga dapat berperan dan berfungsi secara aktif di dalam kelompok atau masyarakatnya.

Proses Belajar Sosialisasi Anak

Mengacu pada keterangan di atas, bisa dikatakan proses belajar sosialisasi anak bukan hanya berhubungan antara dia dengan anak sebayanya namun mempersiapkan seorang anak untuk mampu mempelajari, menyesuaikan diri dalam aturan yang berlaku dalam masyarakat atau kelompok yang jelas lebih heterogen.

Secara alamiah anak akan berkembang dan harus mengerti bahwa ada satu tempat dimana mereka harus menghadapi berbagai macam makhluk sosial yang beragam bukan hanya sama atau sekelompok seperti keluarga atau lingkungan sekolahnya.

Apakah sekolah menjadi adalah tempat utama anak belajar bersosialisasi ?

Kalau sekolah menjadi media sosialisasi, jelas jawabannya iya. Hanya kalau lingkungan sekolah dianggap sebagai tempat utama anak belajar bersosialisasi, tentu saja TIDAK! Dalam sekolah anak dibentuk dalam satu komunitas yang sama, komunitas belajar dengan usia yang hampir sama dan pencapaian orang tua terhadap anak yang hampir sama. Belum lagi, banyak sekali sekolah yang lebih mengecilkan ruang lingkupnya misalnya sekolah islam, sekolah katolik, sekolah internasional, sekolah favorit, sekolah kejuruan, dll . Semakin sempit saja kemampuan sosialisasi anak dikembangkan. Mereka yang sekolah di sekolah favorit tentu saja akan jadi lebih "jumawa" dengan status yang dimilikinya, anak pintar atau anak dari keluarga 'the have'. Mereka yang bersekolah di sekolah berdasarkan agama akan semakin militan dan merasa kelompoknya lebih eksklusif dari yang lain. Di sinilah akan tumbuh sedikit demi sedikit paham radikalisme. Meskipun tentu saja kita tidak bisa "nggebyah uyah" pada setiap individu.

Sosialisasi pada anak bukan hanya sebatas mencari teman bermain.

Buat saya belajar sosialisasi pada anak adalah mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia saat mereka dewasa dan berkumpul dalam komunitas atau masyarakat. Tujuan inti dari belajar sosialisasi sebagai berikut

1. Memberikan keterampilan kepada seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat. Dengan memberikan sosialisasi kepada individu, maka individu tersebut pada akhirnya dapat dengan mudah belajar untuk bersosialisasi pada masyarakat, sehingga individu tersebut dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat.

2. Mengembangkan kemampuan sesorang dalam berkomunikasi secara efektif. Dengan sosialisasi, individu dapat dengan terbiasa untuk berkomunikasi dengan dunia luar dan masyarakat.

3. Mengembangkan fungsi-fungsi organik seseorang melalui introspeksi yang tepat. Dengan bersosialisasi, fungsi organik dalam tubuh/jiwa seseorang akan dapat terlatih dengan baik, sehingga individu tersebut dapat dengan mudah untuk berkumpul pada masyarakat. Serta, dengan komunikasi yang baik, maka individu tersebut dapat dengan mudah untuk hidup berdampingan di masyarakat.

4. Menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat. Dengan sosialisasi, individu dapat dengan mudah untuk mendapatkan kepercayaan diri karena mereka memiliki komunikasi yang baik di masyarakat. Dengan adanya kepercayaan dan komunikasi tersebut maka individu dapat dengan mudah untuk bersosialisasi pada masyarakat.

Ajak Anak Anda Keluar Dari Zona Nyamannya dan Kenalkan Pada Realitas.

Kalau saat ini anda ibu yang sangat perduli dengan anak, dari gizi makanan sampai gizi bagi asupan pikiran & jiwa mereka anada pikirkan dengan seksama. Coba ajak anak anda melipir di desa atau kawasan marjinal. Disana banyak sekali anak yang harus "dipaksa mandiri" karena orang tua mereka sibuk memenuhi kebutuhan perut. Kenalkan pada anak kita, kalau ada anak lain di luar sana yang pagi berangkat sekolah sudah ditinggal ibunya bekerja, saat mereka pulang sekolah - ibunya hanya menyiapkan nasi dan mie instan, dan malam harinya - bukannya si ibu membantu si anak menyiapkan pelajaran untuk esok harinya, kadang anak masih harus menerima omelan si ibu yang sedang kelelahan ditambah PMS. Esoknya siklus itu akan seperti itu lagi.

Coba sesekali ajak anak anda naik angkutan umum. Bertemu dengan berbagai macam manusia dari yang sibuk dengan hapenya, ibu yang tertidur karena kecapekan bekerja, seorang bapak tua yang lusuh dengan barang dagangan masih banyak di tangannya tapi masih bisa tersenyum ramah dengan kita, atau sopir yang mengumpat karena pendapatannya turun sejak ada angkutan online.

Ajak anakmu pergi ke sawah dan kalau bisa membantu pekerjaan para petani. Mungkin memanen, menanam padi, atau membajak. Biar anak kita tahu kalau dari sepiring nasi yang kita makan ada keringat para buruh tani yang bekerja keras & dibayar di bawah UMR.

Sekali - kali asah kemanusiaan anak kita. Masih banyak dunia yang lebih kecil dari dunia yang kita miliki. Mengajarkan mereka bersyukur dengan apa yang dimiliki. Menanamkan rasa cinta pada sesama sejak dini. Mendoktrin mereka bukan hanya dengan kata "besok kamu pasti sukses & kaya" tapi "besok kamu pasti sukses, kaya, & jangan lupa ada banyak orang yang membutuhkan bantuanmu untuk memperbaiki hidup mereka."

Kitalah orang tua yang akan menghantarkan Bangsa ini menjadi hebat di masa depan. Kitalah orang tua yang akan mempersiapkan generasi - generasi hebat yang bersih untuk Indonesia lebih baik. Kalau anda saat ini mengutuk para koruptor, para bangsat di gedung rakyat, simpan energi kita untuk menyiapkan calon pemimpin yang cerdas, inovatif, dan arif memanusiakan manusia.