Mohon tunggu...
Nurul Rahmawati
Nurul Rahmawati Mohon Tunggu... Blogger bukanbocahbiasa.com tinggal di #Surabaya

www.bukanbocahbiasa.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bahagia Melihat Orang Bahagia

7 Agustus 2019   10:49 Diperbarui: 7 Agustus 2019   10:53 552 2 15 Mohon Tunggu...

Disclaimer: Berikut ini adalah tausiyah Ustadz Heri Latif, Direktur Eksekutif Nurul Hayat Surabaya. Semoga bisa kita jadikan hikmah!

Dalam hubungan dengan orang lain, suasana hati kita tergambarkan dalam empat keadaan. Pertama, ini paling jelek. Yaitu, berbahagia ketika melihat orang lain dalam kesusahan. Ini tingkatan kondisi hati yang paling rendah. Paling parah. Kedua, mereka yang tidak senang melihat orang lain bahagia

Tingkatan ini juga jelek. Sama-sama terpapar penyakit dengki. Ketiga, mereka yang sedih melihat orang bersedih. Keempat, mereka yang bergembira melihat orang lain bergembira. Inilah level tertinggi.

Pola "Masak Kalah" Vs Pola "Ikut Bahagia"

Perhatikan dua kalimat ini. Kalimat pertama: "Kamu harus belajar lebih giat lagi agar bisa bersaing dengan teman-temanmu, kalau perlu kamu menjadi yang terbaik diantara mereka." 

Kita sebut saja kalimat di atas dengan kalimat pola "masak kalah".

Kalimat kedua: "Kamu harus ikut bersyukur dan senang kalau ada temanmu yang prestasinya lebih baik darimu."

Kita sebut kalimat kedua ini, adalah kalimat dengan pola "ikut bahagia". Yaitu ikut senang dengan kesenangan orang lain. Kalimat yang pertama nampaknya lebih sering dipakai. Yang kedua jarang. Bahkan yang kedua itu agak terdengar basa-basi.

Bagi kita, kalimat seperti yang pertama itu adalah hal biasa. Biasa dipakai untuk memprovokasi diri dan orang lain. Dengan kalimat pola "masak kalah" kita sering menggunakannya untuk memotivasi diri, anak, dan tim kerja kita. Pola "masak kalah" itu memang simpel, lugas, dan memunculkan gairah berkompetisi.

Tapi perlu diketahui. Bahwa kebiasaan itu akan menyusahkan kita manakala hendak serius mengamalkan pesan luhur kenabian. Perhatikan hadits nabi berikut ini. Rasulullah bersabda: "Kalian tidak akan disebut beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim)

Sudah sering dengar hadits ini bukan? Sejauh mana kita serius merenungkannya? Sampai dibagian mana kita jujur mencocokkan hadits ini dengan perilaku keseharian kita? Dengan lintasan-lintasan hati kita?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x