Mohon tunggu...
dodo sang
dodo sang Mohon Tunggu... buruh

Biarkan takutku menjadi bagian hidup yang selalu mengingatkan..

Selanjutnya

Tutup

Kuliner

Lotek Penggoyang Lidah nan lincah

18 September 2019   22:55 Diperbarui: 18 September 2019   23:00 0 3 0 Mohon Tunggu...
Lotek Penggoyang Lidah nan lincah
lotek gak pedas kok (dokpri)

."Loteknya diberi cabe berapa, Om?" Tanya penjual dengan suara keras mengagetakanku yang lagi asyik bermain gawai di tangan.

"Tiga saja." Tukasku jelas, namun kataku malah disambut senyum pembeli lainnya. Yah ini kan hanya soal selera. Memang segitu kuatnya perutku sekarang sudah tidak tahan gempuran cabe yang penuh vitamin C. Kala masa muda dulu urusan pedas berapa pun dilayani, namu kalau sekarang asal terasa pedas itu sudah cukup.

"Betul ya hanya tiga." Katanya sambil meledek.

"Inggih mbah Galak cantik..." ledekku tidak mau kalah. Karena sering ke sini jadi bercanda menjadi bumbu yang tidak menjadikan jemu saat menunggu pesanan di buatkan. Karena bumbu harus ditumbuk terlebih dahulu sesuai dengan keinginan pelanggan, sehingga  pembelilah yang harus sudah tahu berapa kekuatan atau kadar capsaicin mampu ia tahan. jadi setiap pembeli harus bijaksana untuk menjadi penyicip profesional. 

Jangan hanya gara-gara pingin dibilang  berani makan cabe maka pesan lotek dengan  menginginkan hingga 25 cabe. Dalam pikiran saya itu perut kuat sekali. Meman begitu adanya, lain lidah lain pula punya cita rasa. Kalau saya cukuplah tiga saja agar nanti tidak disibukkan agenda ke kamar kecil.

lotek, pecel, karedok, gado-gado adalah jenis makanan dengan bahan baku utama kacang tanah untuk sambalnya di samping gula jawa yang mendominasi. 

Jika ramuann pas antara bawang putih, jeruk nipis, dan lain-lain akan menimbulkan rasa gurih, pedes, asin, dan manis bisa membuat lidah terus menari-nari lincah berpeluk mesra dengan sayuran dan mulutlah sebagai lantai sekaligus irama penggerak bibir, rahang, hingga pencecap rasa di otak Pon yang berupa serabut saraf menghubungkan otak kanan dan kiri yang menyampaiakan tanda untuk terus bergoyang memamah . 

Dan air liur pun  harus bekerja juga mencerai-berai makanan menjadi serpihan-serpihan halus atau kata guruku dulu makan itu harus dikunyak tiga puluh tiga kali.

Di sampingku seorang pria muda pegawai satpol pamong praja bertanya padaku, apakah aku seorang vegetarian. Aku jawab saja termasuk omnivora, di mana ada makanan enak , murah, dan tentunya mudah dijangkau akan aku datangi. maklumlah, "my trip no duwit".  Kadang-kadang aku makan daging, ikan laut, nasi goreng  intinya yang halalan toyiban kataku. Dan aku balik tanya padanya apa ia sedang diet apa vegetarian, dia menjawab  dengan mengangguk. Oiii masih sempat  juga saya temui  anak muda yang diet dan vegetarian.
"monggo om, pesanannya." Mbah Galak kakung yang menyuguhkan.
"Inggih Mbah, terimakasih." Jawabku sambil memasukkan gawai ke tas dan sebelumnya aku sempatkan memoto hidangan.
"Jangan lupa es blewahnya ya mBah."Pesanku lagi.
"Blewahnya lagi puasa." katanya bercanda lagi, "kalau es melon gimana om?"
"Yo wis, sama segarnya itu."
 Tempe yang masih anget selalu ada di tiap warung deso seperti ini segera aku ambil dan masuk ke mulut, dan pastinya krupuk  bolong. tidak tahu mengapa rasanya kurang lengkap jika makan tidak ada krupuk. ada yang hilang mungkin kriuk-kriuk empuk.

Warung lotek mbah Galak ini berada di desa Blaru, Pati, agak masuk dari  Jalan Ki Ageng Selo. Agak "ndlesep" alias masuk gang. Hanya bisa dilewati sepeda motor. Kalau naik mobil nekat masuk baliknya susah, kasihan kan gara-gara susah keluar gang lotek yang sudah dimakan jadi hilang untuk tenaga keluar gang. Lotek yang terdiri kangkung yang sudah masak, mentimun, dan kol cukup memenuhi protein untukku hingga sore hari. Alias sore harus makan lagi nih, maklum makan lotek siang ini bukan dalam rangka diet.  Segala sayuran dan buah sangat pas untuk berdiet karena kadar lemak. gula, karbo, yang ada padanya mudah untuk diurai. Sehingga untuk makan kali ini saya berani memesan es melon manis.

Pukul 12.15 tandas semua pesanan. Pesanan yang  dibungkus pun sudah ada tinggal menuju mbah Galak untuk  "berhitung".  warung yang baru saja buka dari jam 11.00 sudah mulai penuh terutama ibu-ibu dan gadis-gadis yang inin diet. Namun saya diberi kesempatan untuk menyebutkan apa yang sudah aku "habiskan". Katanya lima belas ribu untuk dua bungkus lotek, segelas es melon, enam tempe, dua krupuk bolong. "Hebring" sekali. Makanya  sering-seringlah kita berkuliner di ndeso di samping  murah uang yang kita  belanjakan dapat membantu perekonomian rakyat bawah.

(Pati, 18 September 2019)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x