Nursini Rais
Nursini Rais Pensiunan

Nenek 4 cucu, penulis 2 novel: - Jatuh Bangun Mengejar Sayang - Rindu di Ujung Mimpi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Emak Tak Berharap Oleh-oleh, yang Penting Anaknya Pulang Setiap Lebaran

13 Juni 2018   23:44 Diperbarui: 15 Juni 2018   12:47 2646 9 2
Emak Tak Berharap Oleh-oleh, yang Penting Anaknya Pulang Setiap Lebaran
Sumber ilustrasi: istimewa

Bagi perantau, berlebaran di tanah kelahiran mempunyai kekhusyukan tersendiri. Tidak peduli suka duka yang harus mereka bayar selama melakukan perjalanan. Mendingan pakai mobil pribadi. Tinggal mengatur tanggal dan hari keberangakatan. Capek bisa istirahat, ngantuk, boleh mampir di tempat yang aman lalu tidur buat beberapa menit. Paling, bosan ketika berada di titik-titik macet.

Apabila naik angkutan umum bus atau kereta, jelas kondisinya jauh berbeda. Turun di terminal atau stasiun satu nyambung lagi ke jalur lain. Tak jarang pula setelah menempuh jalan darat, harus naik kapal mengarungi laut atau sebaliknya. Membawa barang dan anak kecil pula. Waduh, Emak. Menghabiskan uang jauh lebih susah daripada mencari dan mengumpulkan duit untuk biaya mudiknya.

Sumber ilustrasi: mobilmo.com
Sumber ilustrasi: mobilmo.com
Pengalaman pribadi tahun 1977, seminggu sebelum lebaran, saya dan suami mesan tiket bus Gumarang dari Dumai menuju Padang untuk keberangkatan H-2. Dengan prediksi, sampai di kampung halaman waktu subuh atau minimal sebelum Shalat Idul Fitri. Pas tanggal yang telah ditetapkan, pihak Gumarang menyatakan bahwa mobil untuk hari itu full. Padahal, ongkosnya sudah dibayar lunas.

Antarpetugas loket saling menyalahkan. Akhirnya mereka mohon maaf atas kekeliruan tersebut, dan minta keberangkatan kami ditunda hari berikutnya.

Daripada ribut, suami saya mengalah.

Besoknya, saat kami naik mobil, nomor bangku yang tertera di karcis, telah diduduki oleh pemegang tiket dengan nomor tempat duduk yang sama. Hal serupa juga dialami oleh beberapa penumpang lain. Cekcok antar sesama penumpang tak terelakkan, yang berakhir dengan saling tarik. Karena keduanya perempuan, tidak terajadi adu jotos.

Akhirnya, saya, suami, dan beberapa penumpang lainnya terpaksa duduk di lantai bus, di celah kosong antara deretan bangku kiri dan kanan tanpa beralas secarik kertas pun.

Beberapa kilometer mobil berjalan, salah satu penumpang muntah. Saya ikutan mabuk. Dan berhenti setelah semua isi perut terkuras. Lengkaplah sudah penderitaan saya saat itu.

Pukul 6.00 pagi, suami saya mulai gelisah. Dia baru ingat bahwa fitrah belum dibayar. Ketika bus memasuki sebuah perkampungan entah alamatnya di mana, dia berpesan pada sopir, jika ketemu masjid yang ada jamaah/marbotnya minta tolong berhenti sebentar untuk membayar fitrah.

Tak lama kemudian, bus tersebut stop pas di depan rumah ibadah yang jamaahnya sedang bertakbir. Tak tahu nama kampungnya apa, tidak jelas pula entah itu masjid atau musala, kerena tanpa dilengkapi dengan papan nama. Yang jelas, fitrah kami sudah terbayar. Sah tidaknya hanya Allah saja yang menilai.

Sampai di Padang, perjuangan belum berakhir. Kami siap berdesak-desakan priode kedua, untuk menuju kampung halaman. Bus Habeco yang kami tumpangi juga penuh dan jauh lebih kecil daripada Gumarang. Lagi-lagi kami duduk di lantai bus. Tiada pilihan lain. Petugas loket tidak memaksa. Kalau mau oke, jika tidak ya sudah.

Kami sampai di rumah sore sehari setelah shalat Idul Fitri. Meskipun tak sempat shalat Id bersama, penderitaan selama di perjalanan terbayar.

Emak tercinta sangat berbahagia menyambut kehadiran kami. Senyum manis merekah di bibirnya. "Alhamdulillah, kalian pulang. Emak tidak mengharap kau membawa oleh-oleh. Yang penting kalian pulang setiap lebaran." Demikian beliau berujar saat saya serahkan bawaan kepadanya.

Sayangnya, kata-kata itu hanya tinggal kenangan. Tak mungkin terdengar lagi sampai jiwa dan raga ini tiada lagi menyatu. Saya hanya memenuhi keinginan beliau mudik lebaran cuma kurang lebih sepuluh kali Idul Fitri berikutnya. Selepas itu, rutinitas tersebut tak saya lakukan lagi. Alasannya, merasa nyaman lebaran di rumah sendiri, punya anak kecil, ditambah kesibukan-kesibukan lain.

Untuk selanjutnya, saya pulang ketika ada urusan dalam keluarga saja. Seperti hal kematian, pernikahan adik-adik, atau keponakan. Emak yang sering ke tempat saya nengok cucu.

Apabila beliau sakit, sukanya minta dibawakan sambal lado buatan saya sendiri. Separah apapun sakitnya, kalau saya pulang Emak langsung duduk dan minta makan. Saya sangat menyesal, ketika beliau pergi saya tidak ikut mendampingi dan mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Sebab, saat itu saya dan suami sedang berada di kota Jambi dalam rangka mengikuti Manasik Haji. 

Kini giliran saya yang menunggu kembalinya anak cucu saat lebaran. Menjelang Idul Fitri seperti sekarang, saya sering khawatir mereka tidak datang. Betul kata orang tua-tua. Apa yang telah diperbuat pada masa muda, menjadi ketakutan pada masa tua. Dahulu permintaan Emak tercinta agar semua anak cucunya berkumpul di hari raya, saya menganggapnya sekadar basa-basi saja. 

Saya berpikir, toh masih banyak anak cucu yang lain tempatnya mencurahkan rindu. Ternyata tidak. Beda anak lain karakternya, beda pula rindunya jika berjauhan. Meskipun kasih dan sayangnya tetap sama rata dan sama rasa.

Beruntung, kedua menantu saya setia pada pasangannya. Setiap Idul Fitri mereka tak pernah tinggal bersama orang tuanya. Kecuali lebaran haji. Entah saya terlalu egois karena tidak siap berhari raya tanpa mereka.

Demikian curhat ini saya tulis sekadar berbagi rasa. Melalui tulisan ini pula saya berpesan kepada yang muda-muda, jangan sekali-kali mengabaikan harapan ibumu mumpung beliau masih hidup, kalau tak mau menyesal untuk selama-lamanya.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2