Mohon tunggu...
nurhanifahrizky
nurhanifahrizky Mohon Tunggu... Administrasi - Menulis untuk menebar manfaat

Belajar sepanjang hayat

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Stunting Menyebabkan Kemiskinan Antar Generasi

9 Februari 2019   11:04 Diperbarui: 9 Februari 2019   11:35 690
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : majalahayah.com



Stunting (tumbuh pendek) pada umumnya tidak disadari oleh masyarakat karena dampaknya tidak terlihat langsung pada anak. Kita sering kali berpikir bahwa anak dengan tubuh yang pendek merupakan keturunan dari orangtua yang juga pendek. 

Padahal, faktor keturunan hanya menyumbang 15%. Stunting merupakan masalah gizi kronis yang tidak hanya terjadi pada masyarakat miskin, karena stunting juga dialami oleh keluarga dengan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi sebesar 40%.

Data dari Dirjen Kesehatan masyarakat tahun 2017 menyebutkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia sebesar 37,2% atau sekitar 8 juta anak Indonesia mengalami pertumbuhan tidak maksimal, dan dinyatakan bahwa 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. 

Akan tetapi data Riskesdas terbaru tahun 2018 menyatakan bahwa prevalensi stunting telah turun menjadi 30,8%. Prevalensi tersebut merupakan prestasi dalam 10 tahun terakhir dalam menangani stunting. Namun tentu saja kita tidak serta merta menyerahkan upaya penanganan stunting pada pemerintah atau layanan kesehatan.

Kondisi stunting sudah terjadi sejak dalam kandungan dan akan terlihat saat anak berusia 2 tahun. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan orangtua mengenai kesehatan dan gizi sebelum kehamilan, selama kehamilan dan setelah melahirkan. 

Data menunjukkan bahwa 60% anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI secara eksklusif, 2 dari 3 anak usia 6-24 bulan tidak mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Padahal ASI eksklusif dan MP-ASI merupakan nutrisi yang sangat penting untuk mendorong pertumbuhan anak dan tentu berdampak pada perkembangannya.

Dampak dari stunting itu sendiri yaitu anak akan menjadi mudah jatuh sakit karena perkembangan sistem imun tidak maksimal. Kemampuan kognitif berada di bawah rata-rata anak normal dan fungsi-fungsi tubuh tidak dapat bekerja optimal. 

Postur tubuh anak saat dewasa menjadi tidak maksimal karena sejak usia 2 tahun anak sudah mengalami keterlambatan pertumbuhan. Saat dewasa, anak akan berisiko tinggi menderita Penyakit Tidak Menular dan ketika lanjut usia akan berisiko terkena penyakit yang berhubungan dengan pola makan.

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyatakan bahwa stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, menurunkan produktivitas kerja pasar yang mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Product), mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%, dan melebarnya kesenjangan sehingga mengurangi 10% total pendapatan seumur hidup. Maka kemiskinan antar-generasi akan terjadi terus menerus jika stunting tidak segera ditindak.

Pencegahan dini yang dapat dilakukan adalah dengan memenuhi kebutuhan gizi pada ibu hamil. Memberikan ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan, dan memberikan MP-ASI setelah bayi berusia 6 bulan ke atas. Akses air bersih dan kebutuhan sanitasi merupakan hal yang wajib dipenuhi dalam kehidupan keluarga. Maka dari itu, sebelum menikah perlu kedua calon mendapatkan konseling terkait kebutuhan gizi seimbang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun