Ekonomi

Konsep Bekerja dan Berwirausaha Sesuai Ajaran Nabi

15 Maret 2019   23:46 Diperbarui: 16 Maret 2019   12:28 79 0 0

 عن أنس بن مالك قل: كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول: اللهمّ إنّى أعوذ بك من العجز والكسل والجبن والهرم والبخل وأعوذ بك من عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات 

Artinya: "Dari Anas bin Malik berkata, Rasul SAW bersabda: ya Allah sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kelemahan, kemalasn, penakut, pikun, serta kikir dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur dan bencana kehidupan dan kematian." (HR. Muslim).

Rasulullah saw melarang umatnya menjadi umat yang lemah, malas, penakut, dan kikir. Nabi mengajarkan agar umat islam terlepas dari segala bentuk kelemahan, kemalasan, kepenakutan dan kebakhilan karena semua itu merupakan sumber ketertinggalan dan kemunduran.

Sifat malas, lemah, penakut, dan kikir tidak dimiliki oleh seorang wirausahawan. Tidak mungkin seseorang akan mampu menjadi wirausahawan sejati jika dalam dirinya terdapat sifat-sifat negatif tersebut. Karena itu, umat Islam dengan senantiasa membaca doa tersebut di harapkan menjadi rajin, kuat fisik dan mentalnya, pemberani, dan dermawan. Bermodalkan sifat-sifat ini, mereka akan mampu bekerja dan berwirausaha dengan baik. Jika rajin dalam bekerja dan berwirausaha, maka mereka akan mendapatkan banyak hasil, meskipun kadang-kadang ada hambatan yang harus dilalui. Karena itu, di samping rajin, mereka dituntut untuk sabar dan tabah serta tekun dan ulet dalam melakukan pekerjaan.

Mereka juga harus kuat fisik dan mental sehingga dapat bekerja dan berwirausaha dengan optimal. Tidak mungkin mereka dapat bekerja dengan baik apabila dalam kondisi sakit-sakitan, baik fisik maupun mental. Demikian pula, mereka harus berani menghadapi resiko pekerjaan dan usaha yang mereka jalani. Tanpa keberanian, maka inisiatif dan kreativitas serta inovasi tidak akan teraktualisasikan secara optimal. Dengan inisiatif, kreativitas, dan inovasi mereka akan mampu menghasilkan sesuatu yang baru.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam doa Rasulullah, sikap mental seorang muslim dapat mempengaruhi kualitas pribadi dan kinerjanya. Nabi berdoa agar dihindarkan dari sifat-sifat negatif seperti lemah, malas, penakut, kikir, pikun dan berdoa pula agar diberi jiwa yang kuat dan suci, ilmu yang bermanfaat, hati yang kusyuk, nafsu yang tidak rakus dan doa yang di terima. Sikap mental demikian dapat memotivasi seseorang menjadi pribadi yang baik dan profesional dalam bekerja ataupun aktifitas sosial umumnya. Doa Rasulullah tersebut adalah sebagai berikut:

"Dari Zayd ibn Argam, katanya: Aku tidak berkata kepada kalian kecuali sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW la berdoa, "Ya Allah sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kelemahan, kemalasan, penakut, kikir, dan pikun serta siksa kubur. Ya Allah, berikanlah pada jiwaku kekuatan dan kesuciannya. Engkaulah Dzat yang Paling Baik yang Mensucikannya. Engkaulah Pelindung dan Tuannya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak puas, dan doa yang tidak diterima." (HR. Muslim).

Di antara anjuran Rasulullah untuk bekerja, berproduksi, dan berwirausaha terlihat pada sabdanya yang menyarankan agar orang yang mempunyai tanah tidak membiarkan tanahnya itu terlantar dan tidak difungsikan. la harus menanami tanahnya agar produktif dengan tanaman apa saja yang dapat dimanfaatkan buah, daun atau batangnya. la harus mempunyai inisiatif untuk menanami tanahnya itu dengan tanaman yang banyak mendatangkan hasil. Karenanya, ia harus kreatif dan inovatif dalam mengelola tanah dan hasil panennya. Kalau ia tidak bisa menanami tanah itu karena alasan tertentu bukan karena malas, maka hendaklah diserahkan kepada orang lain yang mempunyai kemampuan untuk mengelolanya. Rasulullah bersabda:  

"Dari Jabir ibn Abd Allah, katanya: Rasulullah SAW bersabda, "barang siapa mempunyai sebidang tanah, maka hendaklah ia menanaminya dan jika tidak menanaminya, maka hendaklah ditanami orang lain." (HR. Muslim)

Dalam Hadis di atas terdapat anjuran Nabi agar seseorang mempunyai sebidang tanah hendaklah menggarap dan menanaminya. Jika tanah itu ditanami ketela pohon misalnya, dan menghasikan sekian kuintal. Kemudian ketela itu diolah dan diproduksi menjadi ketela dengan bumbu-bumbu tertentu dan kemasan yang menarik, maka akan menjadi komoditas yang layak jual dengan harga cukup tinggi berbeda dengan apabila dijual dalam bentuk bahan mentahnya saja. Dengan adanya inisiatif, kreativitas, dan inovasi, tanah yang asalnya tidak berfungsi menjadi produktif dan menguntungkan. Maka, benar sabda Rasulullah yang menyarankan agar tanah tidak dibiarkan terlantar tanpa digarap sebab di samping sia-sia dan mubazir juga merugi karena banyak keuntungan yang diperoleh dari tanaman tanah tersebut.

Konsep bekerja dan berwirausaha dalam Islam jauh melampaui konsep pada umumnya, karena menurut Islam, tujuan bekerja dan berwirausaha tidak semata-mata untuk mendatangkan keuntungan yang bersifat materiel. Di dalamnya terdapat nilai ibadah yang dapat memperkuat mental spiritual pelakunya, yang digambarkan oleh Nabi dengan sedekah. Karena itu, seseorang yang menggarap dan menanami tanahnya, misalnya, kemudian dari buah tanaman itu dimakan orang, burung, bahkan jika dicuri orang, maka termasuk sedekah dan sedekah itu dapat menolak bencana dan kesusahan. Rasulullah bersabda:

"Dari Jabir, katanya: Rasulullah SAW bersabda."Tidak ada seorang Muslim yang menanam tanaman kecuali apa yang dimakan darinya merupakan sedekahnya, apa yang dicuri darinya juga merupakan sedekahnya, sesuatu yang dimakan binatang darinya adalah sedekahnya, sesuatu yang dimakan burung darinyu pula adalah sedekahnya, dan apa yang terkurangi darinya adalah sedekahnya." (HR.Muslim).

Sungguhpun demikian, antara wirausaha yang satu dengan yang lain terkadang memiliki karakter yang berbeda-beda. M. Tohar (2000: 166-167), membagi wirausahawan menjadi tiga, yaitu wirausaha andal atau pengusaha yang baik, wirausaha tangguh, dan wirausaha unggul. Masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri.

Pertama, karakteristik wirausaha andal atau pengusaha yang baik adalah: (a) memiliki rasa percaya diri dan sikap mandiri untuk mencari penghasilan dan keuntungan melalui perusahaannya, (b) mau dan mampu mencari dan memenangkan peluang usaha yang menguntungkan dan melakukan apa saja yang bermanfaat, (c) mau dan mampu bekerja keras dan tekun dalam menghasilkan barang dan jasa serta mencoba cara kerja yang efisien, (d) mau dan mampu berkomunikasi, tawar-menawar, dan bermusyawarah dengan berbagai pihak demi kemajuan usahanya, (e) menangani usahanya dengan terencana, jujur, hemat, dan disiplin, (f) mencintai kegiatan usahanya, lugas, dan tangguh tetapi cukup luwes dalam melindungi dan, (g) berusaha mengenal dan mengendalikan lingkungan serta menggalang kerja sama yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak.

Kedua, karakteristik wirausaha tangguh, yaitu: (a) berpikir dan bertindak strategis dan adaptif terhadap perubahan dalam berusaha mencari peluang keuntungan termasuk yang mengandung risiko yang agak besar dalam mengatasi masalah, (b) selalu berusaha untuk medapatkan keuntungan melalui berbagai keunggulan untuk memuaskan pelanggan, (c) berusaha mengenal dan mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan serta meningkatkan kemampuan dengan sistem pengendalian intern, (d) selalu berusaha meningkatkan kemampuan  dan ketangguhan perusahaan terutama dengan pembinaan motivasi dan semangat kerja sama serta menumpukan pemodalan.

Ketiga, karakteristik wirausaha unggul, yaitu: (a) berani mengambil  risiko serta mampu memperhitungkan dan berusaha menghindarinya, (b) selalu berupaya mencapai dan menghasilkan karya bakti yang lebih baik untuk langganan, pemilik, pemasok, tenaga kerja, masyarakat, bangsa, dan negara, (c) antisipatif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan, (d) kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar, meningkatkan produktivitas, dan efisien, (f) selalu berusaha meningkatkan keurggulan dengan mitra perusahaan melalui investasi baru di berbagai bidang.

Cara yang sangat khas dari aktifitas wirausaha yang dilakukan oleh Rasulullah adalah beliau sangat terkenal karena kejujuran dan amanah dalam memegang janji. Sehingga tak ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mendapatkan kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan pesona tersendiri bagi warga jazirah Arab, apalagi kemuliaan akhlak seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya pun, ketika beliau tak memiliki uang untuk berbisnis sendiri ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah yang tak sanggup menjalankan sendiri dana mereka dan menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki berdasarkan kerja sama. Dan yang paling perlu digaris bawahi Rasulullah Saw mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemulian bisnis dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesan mampu membawa banyak dampak positif yaitu kesuksesan dan kesejahteraan bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian Rasulullah Saw begitu monumental baik dalam mencari nafkah maupun dalam menafkahkan rizki yang diperolehnya.

Ringkasnya, umat islam yang bekerja dan berwirausaha dengan rajinnya, bukan semata didorong oleh motivasi ingin menjadi kaya semata, melainkan di atas semua tujuan dan kepentingan itu, terdapat tujuan yang mulia, yaitu menjadikan usaha dan hartanya sebagai sarana taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah swt. azza wajala berusaha menjadi tajir yang siddiq, sehingga dapat menduduki tempat terhormat di hari kemudian, sebagaimana dibayangkan oleh Rasulallah saw.
"Pedagang yang jujur lagi terpercaya, bersama sama para Nabi, orang-orang benar dan syuhada." (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Dalam buku Rasulullah Business School (121-205) dijelaskan, langkah-langkah Rasulullah menjadi wirausahawan adalah:

  1. Belajar hidup mandiri sejak dini. Dari usia dini Rasulullah sudah bekerja dari menggembala kambing hingga kerja kepada Khadijah,
  2. Mengasah jiwa kepemimpinan sejak kecil. Pengaruh jiwa kerja kerasnya dan keuletannya sejak dari kecil sangat mempengaruhi jiwa kepemimpinan Rasulullah.
  3. Menghargai perjalanan proses. Rasulullah mengajari bahwa kesuksesan tidak bisa diraih dengan serta merta tetapai melalui proses yang sangat panjang. Hal tersebut digambarkan bahwa Rasulullah hanya sekali dalam setahun membeli pakaian.
  4. Menjadi pribadi yang siap menghadapi perubahan hidup. Man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan meraih cita-citanya) ini digambarkan penderitaan Rasulullah sejak kecil sudah ditinggal orang tercinta dan berpindah-pindah pengasuhan, tapi Muhammad mampu melewati dengan tegar.
  5. Memupuk dan memiliki kebaranian. Sejak kecil sifat ini ditunjukkan Muhammad saat ikut berdagang pamannya sampai keluar Mekah. Sehingga saat pamnnnya bangkrut maka Muhammad telah menguasai ilmu berdagang.
  6. Berani berpetualang. Dari usia 12 tahun Nabi Muhammad telah mampu berkeliling ke Syiria.
  7. Memiliki ketekunan ekstra (istiqamah)
  8. Selalu percaya diri.

Usaha dan pekerjaan halal lainnya di samping usaha perdagangan, yaitu masih banyak lagi pekerjaan yang halal dan mulia dalam rangka mencari rizki di muka bumi ini, usaha-usaha tersebut antara lain sebagai berikut: 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2