Dr. Nugroho SBM  MSi
Dr. Nugroho SBM MSi Dosen

Saya Pengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Inflasi Tidak Selalu Berbahaya

18 Maret 2013   01:13 Diperbarui: 24 Juni 2015   16:35 1672 1 2

Selama ini ada pandangan bahwa inflasi selalu berbahaya bagi perekonomian karena inflasi menurunkan daya beli masyarakat dan juga cermin dari instabilitas perekonomian yang berujung pada deligimitasi kekuasaan politik. Deligitimasi kekuasaan politik akan berujung pada lengsernya sebuah pemerintahan. Banyak pemerintahanjatuh hanya gara-gara gagal mengendalikan inflasi.

Pandangan tersebut tidakselalu benar. Inflasi dalam kadar (tingkatan) ringan dibutuhkan. Sedangkan inflasi dalam kadar (tingkatan) berat baulahmerugikan. Selama ini ada konsensus pembagian tingkat inflasisebagai berikut: inflasi ringan (di bawah 10 persen/ tahun), inflasi sedang (antara 10 sampai 30 persen/ tahun), inflasi berat (antara 30 sampai 100 persen/ tahun), dan hiper inflasi ( di atas 100 persen/ tahun).

Inflasi yang berbahaya bagi perekonomian adalah inflasi berat dan hiper inflasi. Sedangkan inflasi ringan sampai sedang justru dibutuhkan dalam sebuah perekonomian. Mengapa? Karena dengan inflasi ringan dan sedang ada insentif bagi dunia usaha atau bisnis untuk terus menjalankan bahkan memperluas bisnisnya. Jika yang terjadi deflasi (penurunan harga) maka hal itu justru menunjukkan kelesuan ekonomi dan merupakan disinsentif bagi dunia usaha atau bisnis.

Namun, konsensus tentang pentingnyainflasi pada tingkat ringan dan sedang bagi perekonomian pun masih begitu longgar.Mengapa? Karena inflasi itu ibarat tekanan darah (tensi) bagi manusia. Ada seseorang yang terbiasa dengan tekanan darah sangat rendah dan ada pula yang justru terbiasa dengan tekanan darah sangat tinggi. Maksudnya ada negara yang dengan inflasi sangat tinggi namun pereknomiannya tetap sehat. Tetapi ada negara yang terkena inflasi sedikit saja langsung perekonomiannya kolaps.

Bagaimana di Indonesia? Nampaknya sudah menjadi konsensus di Indonesia antara pemerintah dan BI bahwa inflasi yang terjadi harus dalam skala ringan (di bawah 10 persen per tahun atau single digit). Hal inimuncul karena penglaman sejarahyang pahit dimana Indonesia pada tahun 1965 mengalami inflasi yang sangat tinggiyaitu 650 persen dan membuat perekonomian terpuruk yang berujung pada jatuhnya pemerintahan Presiden Soekarno. Meskipun kemudian muncul pertanyaan apakah inflasi tinggi tersebut murnikejadian alamiah ataukah karena rekayasa untuk menjatuhkan Soekarno.