Bola

PSSI Tersudutkan, Lalu Apa?

7 Desember 2018   20:13 Diperbarui: 7 Desember 2018   21:08 366 0 0

Kegagalan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2018 menjadi peluit dimulainya kembali kritik-kritik pedas terhadap PSSI.  Boro-boro mencapai target juara, Timnas Garuda justru dipastikan tersingkir sebelum menyelesaikan seluruh pertandingan.  

Pemilihan pelatih yang mendadak, terbatasnya keleluasaan untuk memanggil pemain terbaik karena masih berjalannya liga domestik, dan hal lainnya, dianggap sebagai penyebab performa Timnas yang terjun payung.

Belum reda masalah kegagalan di AFF 2018, masalah kembali timbul dengan munculnya dugaan terjadinya pengaturan skor di Liga 2.  Apalagi ada pengurus PSSI yang ikut menjadi aktor dalam proses pengaturan skor ini.  

Hal ini terkuak dalam program Mata Najwa yang disiarkan oleh Trans 7, dimana Januar Herwanto, manajer Madura FC, sempat ditawari yang sebesar 100-150 juta rupiah dari seorang Exco (Executive Committee) PSSI, bernama Hidayat, dan meminta Madura FC untuk mengalah ketika bertandang ke markas PSS Sleman.

Kritik dan kecaman terhadap PSSI terus berdengung bahkan semakin pedas setelah pengakuan Januar saat itu.  Masalah serupa pun sebenarnya sempat terjadi di tahun 2013, di mana Gunawan (eks pelatih Persipur Purwodadi) dan Febryan Sofyandi (eks pemain Persewangi Banyuwangi) membuka betapa seriusnya penerapan pengaturan skor menggerogoti sepak bola di tanah air.

Banjir kritik jelas menghanyutkan hal-hal baik yang dilakukan oleh PSSI.  Tak banyak yang membahas tentang program pengembangan talenta muda yang dijalankan dengan menyelenggarakan kompetisi Liga 1 U-16 dan U-19.  

Tak banyak juga yang berkisah tentang pujian dan terima kasih yang di sampaikan oleh Sekjen AFF tentang kinerja PSSI.  Segalanya hanyut begitu saja di tengah masalah perjudian dan pengaturan skor. Pecinta sepak bola tanah air jelas sangat ingin sepak bola kita bersih dan bebas dari tikus-tikus yang 'lapar' tak ada habisnya.

PSSI sendiri tak diam tentang pengaturan skor ini.  PSSI bekerja sama dengan Genuis Sport, sebuah perusahaan penyedia data pertandingan dimana data itu dapat digunakan untuk mengidentifikasi sejumlah pertandingan dan membantu menandai pertandingan yang dicurigai melakukan pengaturan skor.  

Sekjen PSSI, Ratu Tisha, menjelaskan sejauh ini Genius Sports sudah membantu dengan mengidentifikasi adanya dua pertandingan yang melakukan pengaturan skor ini.  Ratu Tisha mengaku bahwa dua pertandingan ini sedang dalam proses investigasi sejak beberapa bulan yang lalu.

"kami sejujurnya tidak bisa sendirian memerangi match fixing (pengaturan skor) karena kami butuh dukungan dari pemerintah, stakeholder, serta masyarakat" kata Ratu Tisha.  Dikutip dari asumsi.co

PSSI sendiri mengenal dan berharap seluruh pengurus dan juga pelaku sepak bola melakukan 3R dalam memerangi match fixing ini.  3R adalah recognize (mengenali), reject (menolak), dan  report (melapor).  Namun cara ini dianggap kurang oleh beberapa pengamat sepak bola yang menganggap PSSI harusnya tidak hanya menunggu laporan saja, tapi juga pro-aktif dalam mencari para mafia sepak bola ini.  

Terlebih lagi sudah dipastikan salah satu Exco PSSI, Hidayat, juga terlibat dalam percobaan praktik match fixing antara PSS Sleman vs Madura FC.  Tentunya kita semua berharap, melalui Hidayat PSSI bisa memulai memetakan dan menindaklanjuti para aktor pengaturan skor di tanah air, tidak berhenti dan menunggu laporan berikutnya.  Setidaknya dimulai dengan 'membersihkan' para pengurus PSSI sendiri. 

Selain itu, ada baiknya PSSI bisa bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam menginvestigasi dan menuntaskan mafia-mafia sepak bola ini.  Menurut Gatot S Dewa Broto, Sesmenpora, UU No.11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap bisa dijadikan landasan untuk memproses para pelaku pengaturan skor ini.

Tak hanya PSSI, tentunya kita harapkan para pelaku sepak bola, seperti para pemain, jajaran staf, manejemen klub, wasit dan panitia penyelenggara, harus berani menolak tawaran uang panas dari para tikus sepak bola ini.  Apalagi memang yang menjadi incaran para bandar adalah klub-klub yang 'tidak sehat' keadaan ekonominya.

PSSI mungkin salah mendiami para pelaku bahkan menjadi pelaku match fixing ini, mungkin manajemen dan petinggi klub juga salah ketika tak membayar gaji para pemain sebagaimana mestinya, mungkin pemain atau perangkat pertandingan lain pun salah ketika mereka dengan senang hati menerima tawaran sejumlah uang.  

Hanya menyalahkan PSSI atas tindak pengaturan skor di sepak bola negeri ini saya rasa tidak adil.  Hal itu ibarat mengatakan seorang guru tidak bekerja dengan baik karena muridnya mencontek.  Tak hanya PSSI, semuanya harus berbenah dan bersinergi, dimulai dari diri sendiri untuk mengenali, menolak, dan melaporkan, demi sepak bola Indonesia yang bersih dan lebih baik.

Muhammad Iqbal Nugraha

7 Desember 2018

*Penggemar sepak bola yang masih percaya akan kesuksesan sepak bola Indonesia*