Suprihati
Suprihati Administrasi

Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Seni Ketoprak dan Kemasan Tuntunan dalam Tontonan

14 Mei 2019   23:10 Diperbarui: 15 Mei 2019   22:19 686 33 11
Seni Ketoprak dan Kemasan Tuntunan dalam Tontonan
Seni ketoprak dan kemasan tuntunan dalam tontonan (dok pri)

Tuntunan, seindah apapun isinya perlu kemasan dalam penyampaiannya. Tontonan bertujuan menghibur hati para penonton. Kemasan tontonan juga ikut 'menuntun' mewarnai perilaku penonton. Seni ketoprak (kethoprak, bahasa Jawa) merupakan salah satu seni pertunjukan yang bisa diolah disesuaikan dengan situasi.

Tontonan merupakan komoditas yang tak pernah sepi dari pembeli. Tuntunan merupakan hal berharga dalam pembentukan karakter masyarakat. Apa jadinya suatu tontonan tanpa tuntunan? Apalagi malah menyuguhkan 'tuntunan semu' dengan arah yang kurang semestinya. Mari menyoal seni ketoprak dari aspek kemasan tuntunan dalam tontonan.

Ketoprak sebagai tontonan

Menonton ketoprak berarti menikmati suguhan seni secara terpadu. Pementasan sandiwara panggung yang melibatkan seni peran, seni tari, seni suara serta karawitan. Semua pemain berlakon langsung di panggung tanpa ada rekaman maupun pengisian suara.

Tak ayal ketoprak menjadi tontonan yang memikat. Kemegahan panggung, dekor kelir yang dikerek bergantian sesuai suasana adegan, gemerlapnya busana pemain terlihat sejak awal. Kegesitan gerak prajurit, tarian gemulai pada saat karonsih, intonasi dan dinamisasi suara pemain, membuat penonton enggan beranjak hingga pertunjukan selesai. Muncul sebutan bintang panggung, selebritis ketoprak.

Sungguh, pada masanya ketoprak menjadi tontonan yang dinanti. Suasana sekilas mirip dengan pagelaran wayang orang. Namun, ketoprak terasa lebih 'cair'. Lakon yang digarap tidak menggunakan pakem wiracarita Mahabarata maupun Ramayana.

Mendasarkan pada lakon sejarah, cerita rakyat hingga anggitan gagrak anyar yang bersifat kontemporer. Ketoprak menjadi tontonan rakyat, memiliki kedekatan dengan penonton. Menjadi cerminan suasana hidup kemasyarakatan.

Ketoprak juga memiliki sifat mobile, gedung pertunjukan seolah portable dan pementasan tak menetap pada suatu tempat. Rombongan ketoprak dengan segala propertinya bergerak antar tempat. Manggung beberapa hari dan pindah ke tempat lain. Kawasan bermukim sementara layaknya tobong menjadi tontonan tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Setiap pertunjukan memiliki zaman keemasannya sendiri. Kini tak semua orang mau menikmati ketoprak. Bahkan pada pertunjukan gratispun, panitia memerlukan usaha promosi publikasi untuk menghadirkan penonton.

Lalu, bagaimana ketoprak sebagai tontonan tradisional tetap mampu eksis di era digital? Tentunya dengan salin rupa seperlunya tanpa kehilangan esensinya. Saya pernah menyajikannya dalam artikel efektivitas ketoprak sebagai media komunikasi tradisional di era digital.

Ketoprak sebagai wadah tuntunan

Sejak lahirnya, ketoprak merupakan kesenian rakyat yang berangkat dari kreativitas. Menyiasati larangan berkumpul oleh pemerintahan Belanda yang mencium gejala penggalangan kekuatan. Melalui ketoprak, semangat perjuangan tetap digelorakan, dikemas dalam bentuk hiburan.

Berbekal pakem sajian pasewakan audiensi antara pemerintahan kerajaan dengan aparat nayaka praja, selipan dagelan, alur cerita digulirkan. Ada cerita baku yang biasanya disampaikan dalam bahasa daerah dalam hal ini bahasa Jawa dengan tataran tinggi. Tuntunan standar tentang etika pemimpin teracik dalam cerita.

Tuntunan perilaku keseharian lebih mudah disampaikan melalui fragmen dagelan baik oleh kawanan embok emban menjadi semacam limbukan. Atau oleh para abdi dalem pria di jagad kasatriyan. Penggunaan bahasa sederhana lebih mudah dipahami oleh penonton.

Sebagai tontonan, ketoprak sangat luwes mengemas tuntunan. Racikan pengetahuan bahkan menggalang sikap empati. Menjangkau ranah kognitif hingga afektif. Bermula dari tahu, paham hingga mampu menilai dan bersikap. Tak salah bila kesenian ketoprak disebut media pembelajaran tanpa menggurui.

Tuntunan yang mengarah kepada keutuhan ciptaan. Menghargai perbedaan, menjauhi SARA, berita hoax, benih-benih keretakan persatuan. Seni tontonan yang meracik harmoni, mengemas tuntunan tanpa paksaan.

Meracik kebersamaan melalui pentas ketoprak

Pentas ketoprak adalah pentas kebersamaan. Apapun alasan kebersamaannya, wadah pecinta seni, merangkul antar kelompok menepis sekat pemisah. Meracik kebersamaan untuk menjiwai lakon.

Apresiasi untuk keluarga GKJ Sidomukti, Salatiga yang mewujudkan syukur ulang tahun peraknya melalui rancangan pagelaran ketoprak. Selaku sutradara, Pak Amrih Gunarto, SSn., MPd. meracik lakon Songsong Agung Triwiguna Murca. Ada pesan yang hendak disampaikan melalui murca (hilang) nya Songsong Agung, payung kebesaran lambang perlindungan.

Pemain tidak hanya berasal dari komunitas setempat, namun merangkul antar komunitas baik antar kewilayahan, lintas iman. Seni ketoprak menjadi wahana kebersamaan mengekspresikan seni. Menjiwai cerita, menyuguhkan tuntunan melalui tontonan. Saat ini pemain tengah giat berlatih untuk gelaran 15 Juni mendatang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2