Mohon tunggu...
Novanza RayhanNatasaputra
Novanza RayhanNatasaputra Mohon Tunggu... Personal Blog

Saya adalah mahasiswa Kedokteran Universitas Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Pengobatan Alternatif Vs Pengobatan Konvensional

19 Agustus 2019   21:16 Diperbarui: 19 Agustus 2019   21:29 0 0 0 Mohon Tunggu...

Pada tahun 2018, sebuah riset yang dilakukan oleh Universitas Oxford menemukan konklusi terkait pengobatan alternatif setelah menganalisis data dari 2004 hingga 2018. Dari 841 pasien yang didiagnosa dengan kanker prostat, payudara, paru-paru dan usus besar stadium awal; 281 di antaranya memilih untuk melepaskan pengobatan konvensional dan mengikuti pengobatan alternatif. Ketika data mereka dibandingkan dengan 560 pasien sisanya yang mengikuti pengobatan konvensional seperti kemoterapi, operasi, dan radiasi; para peneliti menemukan bahwa individu yang memilih pengobatan alternatif 2,5 kali lipat lebih mungkin untuk meninggal dalam waktu lima tahun. Prospek ini menjadi semakin mengerikan ketika para peneliti membaginya per kategori. Untuk kategori kanker payudara, angka ini naik menjadi 5,68 kali lipat, sedangkan untuk kanker usus besar, angka menjadi 4,57 kali lipat, dan untuk kanker paru-paru, menjadi 2,17 kali lipat.(1) Di sisi lain, ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap layanan pengobatan alternatif atau tradisional masih berada di angka 31.4 persen, dengan rincian proporsi jenis pelayanan adalah keterampilan manual 65.3 persen, ramuan jadi 43 persen, dan 8.3 persen bentuk lainnya.(2)

Lalu, mengapa tingkat ketergantungan pada pengobatan alternatif masih sangat tinggi, apa yang salah?

Secara umum, pengobatan alternatif adalah jenis pengobatan yang menggunakan pelayanan tidak terstandardisasi. Pelayanan terstandardisasi adalah jenis pelayanan kesehatan yang didasari oleh hasil studi ilmiah; diterima dan digunakan secara umum. Secara internasional, pengobatan alternatif disebut dengan istilah complementary and alternative medicine (selanjutnya disebut CAM). CAM didefinisikan oleh National Center of Complementary and Alternative Medicine sebagai berbagai macam praktik pengobatan yang bukan merupakan bagian dari pengobatan konvensional, baik praktik maupun produk pengobatan.(3),(4)

Ketergantungan terhadap obat alternatif dan tradisional umumnya disebabkan oleh pengaruh ekonomi dan sosial budaya masyarakatnya. Masyarakat dengan sosial budaya pedesaan dan tingkat ekonomi menengah-kecil umumnya akan memiliki ketergantungan berlebih pada obat tradisional atau alternatif.(5) Selain itu, ada pula mitos yang berkembang di masyarakat bahwa obat alternatif tidak memiliki efek samping karena berasal dari sumber alamiah. Namun, riset telah membuktikan bahwa pernyataan tersebut salah.(1)

Sementara itu, penulis berpendapat bahwa keberadaan CAM pada dasarnya dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan---biaya, pembuktian, metode penelitian, atau alasan lainnya---penyedia jasa CAM dalah melakukan uji coba klinis atau Randomized Controlled Trial (RCT) sehingga metodenya tidak dapat dibuktikan dan diratifikasi menjadi pengobatan konvensional atau Evidence Based Medicine (EBM).

Semua orang yang akrab dengan pengobatan ilmiah memahami pentingnya uji coba terkontrol secara acak (RCT), karena ini adalah standar emas untuk mengevaluasi kemanjuran pengobatan. Bukti bahwa suatu pengobatan manjur biasanya membutuhkan setidaknya satu RCT definitif atau beberapa yang meyakinkan. RCT pun tidak selalu bisa dan mampu secara saintifik untuk menunjukkan efek yang signifikan secara statistik dan klinis.(6)

Padahal, banyak terapi CAM (seperti glukosamin sulfat) yang mudah diuji menggunakan desain RCT konvensional, karena mereka adalah obat sederhana atau produk seperti obat dengan indikasi klinis standar. Terapi, CAM lainnya jauh lebih sulit untuk dievaluasi, baik karena kompleksitasnya atau karena sifat dari filosofi medis alternatif  dimana mereka berasal. Beberapa pendekatan CAM menggunakan definisi kesehatan, diagnosis dan penyakit yang berbeda secara radikal dari yang digunakan dalam pengobatan ilmiah konvensional. Beberapa dianggap lebih baik dalam gaya hidup, praktik budaya atau spiritual yang nilai-nilai bawaannya melampaui fokus patofisiologis dari ilmu kedokteran konvensional.(7) Terlepas dari kompleksitas ini, sebagian besar pengamat mendukung evaluasi ilmiah CAM, meskipun di saat yang sama mengakui kesulitan yang cukup besar untuk melakukannya.(8),(9)

Pada intinya, pengobatan alternatif atau CAM saat ini masih dianggap sebagai pilihan yang berisiko(1) dan hanya digunakan oleh kalangan menengah-kecil karena alasan sosial-budaya dan ekonomi(5). Padahal, penulis mereka bahwa jika ada keseriusan dari seluruh pihak untuk bisa menggalak riset dan uji klinis secara kontinu terhadap berbagai macam jenis pengobatan CAM, pengobatan ini akan menambah dan menunjang pengobatan konvensional atau EBM sebagai kawan, bukan lawan.

Referensi:

1. Johnson SB, Park HS, Gross CP, Yu JB. Use of alternative medicine for cancer and its impact on survival. J Natl Cancer Inst. 2017 Aug 10;110(1):121-4.

2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Hasil utama riset kesehatan dasar 2018 [Internet]. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2018 [cited 2019 Aug 18]. p. 171. Available from:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x