Mohon tunggu...
Norpikriadi
Norpikriadi Mohon Tunggu... Guru - Penulis lepas

Hanya seorang yang terus mencari

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

24 Tahun Reformasi, Menimbang Nilai Intelektualitas dalam Gerakan Mahasiswa

20 Mei 2022   22:21 Diperbarui: 29 Mei 2022   10:00 1072 34 16
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi aksi demo mahasiswa. (KOMPAS/DIDIE SW via kompas.com)

(Refleksi 24 Tahun Gerakan Mahasiswa '98)

"... di Orde Lama kita peroleh yang namanya kebebasan tapi kesejahteraan tidak... di Orde Baru kita peroleh kebebasan, kesejahteraan kita punya. Hari ini yang ingin kita tanyakan, apakah kita peroleh kesejahteraan? Apakah kita peroleh kebebasan?"

Pernyataan dan pertanyaan retoris itu diajukan Koordinator BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Seluruh Indonesia, Kaharuddin, dalam Hotroom, sebuah acara talkshow Metro TV yang dire-upload di kanal youtube tv tersebut pada 14 April 2022.

Narasi itu ia bangun sebagai pijakan argumen untuk menjawab pertanyaan host Hotman Paris, tentang tujuan aksi demo yang digelar mahasiswa pada Senin, 11 April di depan Istana Merdeka yang kemudian bergeser ke depan Gedung DPR/MPR.

Fokus tulisan ini tentang adanya kebebasan pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Menjadi menarik manakala itu dinyatakan Kaharuddin, yang berdasarkan posisinya dalam aksi notabene adalah tokoh mahasiswa "nomor satu" pada peristiwa terkait. 

Predikat mahasiswa sendiri membawa "beban sejarah" dalam konteks perubahan sosial Indonesia. Sebab, harus diakui kelompok terpelajar ini pada kenyataannya selalu memainkan peran penting dalam setiap perubahan fundamental di negeri ini.

Adalah relevan apabila aksi yang ia koordinasi itu menjadi bahan refleksi, mengingat hari ini, Jum'at 20 Mei 2022, bertepatan dengan puncak gerakan mahasiswa angkatan 1998. 

Pada tanggal yang sama, 24 tahun lalu mahasiswa mampu menyudahi 32 tahun rezim otoriter Orde Baru. Hari itu, dan juga hari ini, bertepatan pula dengan perayaan Hari Kebangkitan Nasional.

Jika diletakkan di ranah sosio-politis, status mahasiswa mencitrakan nilai intelektualitas, setidaknya jika dibandingkan dengan orang yang tidak pernah makan bangku sekolahan. 

Dari sisi idealisme, mereka relatif masih "murni" jika dibandingkan dengan kalangan terpelajar lain yang daya kritisnya terkerangkeng oleh nikmatnya posisi-posisi mapan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan