Nonik Widyaa
Nonik Widyaa Mahasiswa

Sedang menempuh pendidikan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Komunikasi Global di Era Pasar Bebas

9 November 2018   15:18 Diperbarui: 12 November 2018   11:36 202 0 0

Pada era tahun 1980-an dan 1990-an perubahan ideologi fundamental di arena politik mengarah pada penciptaan rezim perdagangan internasional pasar pro yang memiliki dampak besar pada komunikasi internasional. Perdagangan bebas telah dimulai sejak perang dunia II berakhir, saat itu perdagangan bebas diatur melalui sebuah kesepakatan yang bernama GATT (General Agreement on Tarrifs and Trade) atau Perjanjian Umum Tentang Tarif dan Perdagangan. GATT diimplementasikan untuk lebih jauh dalam mengatur perdagangan dunia sebagai sarana percepatan pemulihan ekonomi pasca perang. 

Dengan tujuan untuk mengurangi kendala perdagangan internasional melalui pengurangan tarif, kuota dan subsidi. Dibentuk pada 1947 dan ditandatangani menjadi undang-undang internasional pada tanggal 1 Januari 1948, GATT menjadi salah satu perjanjian internasional penting sampai digantikan oleh WTO (World Trade Organization) atau Organisasi Perdagangan Dunia pada tanggal 1 Januari 1995. Tujuan dari WTO sendiri adalah:

1. Meningkatkan standar hidup

2. Menggaransi perluasan lapangan kerja

3. Meningkatkan pendapatan nyata

4. Memperluas produksi dan perdagangan

5. Keberlanjutan pembangunan

Sedangkan fungsi dari WTO adalah:

1. Memfasilitasi implementasi, administrasi, operasi dan keberlanjutan tujuan-tujuan dari berbagai perjanjian WTO

2. Sebagai forum negosiasi perdangangan

3. Mengadministrasi berjalannya sengketa WTO

4. Mengadministrasi mekanisme peninjauan kebijakan perdagangan

5. Bekerjasama dengan IMF (International Monetary Fund) dan IBRD (International Bank for Reconstruction and Development) atau dikenal dengan World Bank, dalam perwujudan kebijakan ekonomi yang lebih koheren.

Indonesia sendiri turut berpartisipasi dalam persaingan dagang bebas ini, baik perdagangan bebas antar Asean (AFTA), Asia Pasifik (AFEC) maupun lingkup global (GATT/WTO). Tren globalisasi perdagangan telah menjadi arus besar yang tidak dapat dielak. Partisipasi Indonesia tersebut merupakan sebuah langkah antisipatif dan strategis. Dimana dapat digunakan untuk menguji sejauh mana kemajuan, kemandirian, dan daya kompetitif negara dikancah global. 

Selain itu juga akan mendapatkan umpan balik berupa kelemahan-kelaman yang seharusnya dibenahi. Terdapat tiga aspek yang mendasar dalam menghadapi persaingan pasar bebas ini yakni aspek ekonomi, teknologi, dan komunikasi. Selama ini persaingan dan antisipasi menghadapi perdagangan bebas lebih terfokus pada aspek ekonomi dan teknologi saja padahal aspek komunikasi juga merupakan hal yang krusial, dimana sebagian besar kemapuan penetrasi pasar global oleh negara-negara maju justru dipengaruhi oleh pemahaman terhadap budaya komunikasi dan mensyaratkan kemampuan berkomunikasi.

Persaingan dipasar global bukan semata-mata tentang produk dan jasa, melainkan juga persaingan taktik dan strategi yang mana kedua hal tersebut adalah bagian dari komunikasi. Selain itu, kemampuan dalam memahami budaya juga menjadi elemen pendukung yang harus diperhatikan. Persiapan memasuki perdagangan bebas harus dilakukan secara menyeluruh bukan hanya dari segi ekonomi dan teknologi namun juga mencakup aspek budaya. Liberalisasi perdagangan perlu disertai dengan pemahaman dan penerapan pengetahuan akan komunikasi global dan lintas budaya sehingga diharapkan para pebisnis dapat berkerja dengan lebih efektif di lingkungan global. 

Kedepannya tantangan global akan semakin besar, salah satunya adalah menuntut kemampuan untuk mengkomunikasikan gagasan dan tujuan serta bagaimana produk dan jasa tidak hanya untuk diperjual belikan, namun lebih kepada bagaimana penyampaian pesan dari produk dan jasa itu sendiri sampai kepada masyarakat global berikut dengan berbagai latar belakang, dan ragam budayanya.

Adanya pasar bebas baik regional maupun internasional, membuka ruang interaksi kepada dunia secara lebih luas, dimana terdapat perbedaan-perbedaan mendasar pada masing-masing pihak. Hubungan bisnis global ini tentu saja akan terus dipengaruhi oleh perbedaan budaya, sehingga diperlukan sebuah komitmen untuk mampu bersaing dalam pasar bebas dunia. Dalam hal ini peran komunikasi global sangatlah terlihat, yakni berperan dalam pemahaman suatu budaya tertentu dan bagaimana pengaplikasian budaya tersebut ketika proses interaksi bisnis internasional dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Khisan Thissu,Daya.2000.International Communication Continuity and Change.New York Oxford University Press In.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2