Mohon tunggu...
Noval Kurniadi
Noval Kurniadi Mohon Tunggu... Speaking makes words, writing makes wor(l)ds

Passion is the fashion for ur ACTION. Passion without action is NO MENTION! | Kontributor wikipedia | www.valandstories.com | Novalku@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ketahui 5 Fakta Menarik tentang Perayaan Waisak

29 Mei 2018   13:04 Diperbarui: 29 Mei 2018   17:26 0 5 2 Mohon Tunggu...
Ketahui 5 Fakta Menarik tentang Perayaan Waisak
Biksu Buddha dari Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI), memasuki detik-detik Tri Suci Waisak di Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (28/5/2010). Pada saat bersamaan, umat Buddha dari Walubi juga menjalani ibadah yang sama di pelataran candi yang prosesinya berlangsung hingga tengah malam.(KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT)

Hari ini, tanggal 29 Mei 2018 menjadi hari sukacita bagi masyarakat Indoensia. Selain karena tanggal merah (yang berarti libur bagi sebagian besar karyawan atau pegawai), tanggal tersebut juga bertepatan dengan pelaksanaan Hari Raya Waisak. Semua umat Buddha di seluruh dunia tentu menyambutnya dengan gembira. Yeay!

Sebagai hari raya yang tidak dirayakan oleh mayoritas umat beragama di Indonesia, tentu pelaksanaan Waisak masih menjadi hal awam bagi banyak masyarakat Indonesia. Banyak umat non-Buddha yang masih bertanya-tanya tentang apa itu Waisak dan apa-apa saja yang terkait di dalamnya.

Untuk itulah melalui tulisan ini saya membeberkan sejumlah fakta menarik terkait khususnya tentang Waisak di Indonesia. Saya berharap dengan semakin kita mengenalnya, maka akan semakin kuat juga kita merawat negeri dengan sikap saling menghargai dan menghormati antarumat beragama. Inilah 5 fakta menarik yang saya susun dari situs-situs terpercaya.

Tema Waisak 2018

Pada tahun ini ummat Buddha Indonesia merayakan Waisak 2018 dengan mengusung tema "Transformasikan Kesadaran Delusi Menjadi Kesadaran Murni". Adapun sub-temanya adalah "Marilah Kita Bersama-sama Berjuang Mengalahkan Sang Ego."

Dengan tema ini, WALUBI (Perwakilan Ummat Buddha Indonesia) mengajak semua masyarakat Indonesia untuk sama-sama terlibat dalam melawan kemarahan, keserakahan dan bahkan kebencian. Perayaan Waisak tahun ini juga diharapkan dapat menjadi momentum bagi umat beragama untuk saling mempertebal kerukunan, saling membantu dan bahkan melakukan amal kebaikan. 

Pelaksanaan Waisak di Candi Borobudur (dok. travel.kompas.com)
Pelaksanaan Waisak di Candi Borobudur (dok. travel.kompas.com)

Baru menjadi tanggal merah per tahun 1983

Setelah merdeka, Hari Raya Waisak tidak otomatis langsung menjadi hari libur nasional di Indonesia. Hari Raya Waisak justru baru menempati sebagai tanggal merah 38 tahun setelah kemerdekaan.

Presiden Soeharto adalah orang yang berjasa dalam hal ini. Pada 19 Januari 1983, ia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 tahun 1983. Dalam keputusan tersebut ditetapkan bahwa Hari Raya Waisak dan Hari Raya Nyepi resmi sebagai hari libur nasional.

Oh ya, keputusan tersebut tidak semata menjadikan Hari Raya Waisak dan Nyepi sebagai "tanggal merah" saja ya, tapi juga mengubah Keputusan Presiden No. 251 Tahun 1967 dan Keputusan Presiden Nomor 10 tahun 1971.

Soeharto, orang yang berperan dalam penetapan Waisak sebagai hari libur nasional (dok. Tempo/Santirta M.)
Soeharto, orang yang berperan dalam penetapan Waisak sebagai hari libur nasional (dok. Tempo/Santirta M.)

Detik-detik Waisak diperingati hanya di Indonesia

Ada fakta menarik terkait perayaan Hari Raya Waisak. Ternyata hanya umat Buddha di Indonesia saja lho yang memperingati detik-detik Waisak lho. Sementara itu umat Buddha di luar justru tidak memperingatinya. Detik-detik Waisak sendiri adalah terjadinya bulan purnama Waisak yang terjadi hanya satu kali saja, tidak lewat atau kurang dari sedetik.

Kok gitu? Ya, soalnya umat Buddha di luar cenderung menggunakan sistem pergantian hari secara masehi. Jadi kalau sudah ganti hari, ya itu artinya sudah masuk purnama Waisak untuk pergantian Waisak Buddhis.

Nah, ini beda banget dengan yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan buku "Hari-hari Besar Agama Buddha" yang ditulis oleh Herman S. Endro, tradisi Waisak di Indonesia dipengaruhi oleh tradisi purnama di Bali sehingga membuat umat Buddha di Indonesia sangat detil dalam penentuan detik-detik Waisak. Enggak hanya hitungan jam atau menit, tapi juga detik!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN