Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng karyawan swasta

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Bola featured

Persepsi Salah Presiden Jokowi tentang PSSI dan 10 Prestasi PSSI

6 November 2015   09:34 Diperbarui: 11 November 2016   13:15 4374 25 19
Persepsi Salah Presiden Jokowi tentang PSSI dan 10 Prestasi PSSI
Maulwi Saelan Kiper PSSI Ajudan Bung Karno (Sumber: nusantara-fighter-blospot.com)

Foto di atas adalah catatan prestasi PSSI pada masa lalu. Maulwi Saelan menjadi ajudan Bung Karno. Maulwi Saelan adalah penjaga gawang yang mampu menahan serangan gencar Igor Netto, Sergei Salinov, dan Boris Tatushin dari Uni Soviet pada Olimpiade Melborne 1956. Itu dulu. Sadar dan melek. Kini, persepsi publik tentang prestasi PSSI sering salah. Bahkan Presiden Jokowi pun memiliki persepsi yang salah tentang PSSI dan prestasi PSSI selama ini. PSSI memiliki 10 catatan prestasi yang sangat membanggakan bagi bangsa dan negara Hindia Belanda dan Indonesia. Sepuluh catatan prestasi PSSI itu tentunya menjadi catatan emas untuk tetap memberikan kepercayaan bagi para pengurus yang itu-itu saja untuk tetap terus menguasai PSSI dengan prestasi yang hebat itu. Mari kita tengok persepsi salah tentang PSSI dengan hati gembira ria senang sentosa suka-cita bahagia riang pesta-pora menari menyanyi senantiasa selamanya. Inilah 10 prestasi PSSI luar biasa yang publik tidak pernah paham dan tertutup rapat di mata publik, media, dan rakyat Indonesia.

Bahkan Presiden Jokowi pun tak mampu melihat ‘sisik melik’ kehebatan prestasi PSSI dan rakyat, bahkan Presiden Jokowi menggulirkan gerakan reformasi sepakbola dengan target PSSI dan para pengurusnya akan diganti dengan orang waras dan normal. Maka menjadi sangat tidak adil bagi pengurus dan di mata para pentolan PSSI upaya mereformasi PSSI. PSSI sudah sangat berprestasi. Mari kita tengok 10 prestasi itu agar publik paham bahwa Indonesia tak membutuhkan reformasi di tubuh PSSI.

Prestasi PSSI sejak zaman Hindia Belanda tercatat dalam dua kategori yakni kategori kepengurusan PSSI dan kategori prestasi di lapangan sepakbola. Berdasarkan catatan sejarah panjang dari berbagai sumber, ternyata banyak sekali prestasi PSSI yang selama ini orang melek dan sadar tidak tahu kehebatan mereka. Presiden Jokowi dan publik patut mencatat dan memertimbangkan untuk tidak melakukan reformasi seperti yang diinginkan oleh para pentolan PSSI sekarang.

Pertama, pada 1930 para dipimpin oleh Soeratin mendirikan PSSI (Persatoen Sepak Raga Seloeroeh Indonesia) lalu berganti menjadi Nederlandcsh Indische Voetbal Unie (NIVU) teleh bekerja sejak sebelum Indonesia merdeka 1936. Jadi tidak ada hak bagi Presiden Jokowi dan masyarakat mengurus PSSI. PSSI sudah menjadi organisasi sebelum Indonesia ada. Jadi PSSI lebih tua dari Indonesia. (Maka jangan mengurus saudara tua.)

Kedua, prestasi kepengurusan luar biasa di Indonesia setelah merdeka terjadi pada tahun awal kemerdekaan. Indonesia dengan PSSI-nya disegani di kancah persepakbolaan Asia. Yang terhebat adalah masa Nurdin Halid. Indonesia menjadi satu-satunya anggota PSSI yang atas nama Statuta FIFA melindungi Nurdin Halid mengurus PSSI dari balik penjara. Narapidana menjadi Ketua Umum PSSI dari balik jeruji penjara. Itu prestasi luar biasa dan bahkan FIFA mengakui dan menghormati. Maka rakyat Indonesia harus bangga atas prestasi menjadi satu-satunya negara anggota FIFA yang 209 negara yang ketua umumnya dipenjara dan atas nama Statuta PSSI dan FIFA tak boleh diganggu.

Kedua, prestasi PSSI sungguh luar biasa. Cerita tahun 1832. Tak ada negara Asia selain Indonesia – dulu dengan nama Hindia Belanda – yang pernah menjadi juara Festival Sepakbola Eropa Wanita, mewakili Hindia Belanda. PSSI menjuarai untuk kelompok senior umur U-75. Padahal pemainnya muda-muda.

Ketiga, pada tahun 1932, tercatat PSSI atas nama Hindia Belanda menjadi juara 3 Kings Cup di Negeri Belanda. PSSI mengalahkan Ethiopia dengan skor telak: 0-1 pada perebutan tempat 3. Gol tunggal diciptakan oleh Lanyala Nurdinhalidahinca.

Keempat, lalu pada tahun 1937, PSSI juga tercata mengikuti Piala Dunia di Meksiko dan berhasil masuk final. PSSI hanya dikalahkan oleh Gibraltar pada babak pertama dan tersingkir dari turnamen tahunan Piala Dunia itu.

Kelima, PSSI menjadi juara kedua dalam Turnamen Piala Raja Bangladesh di Mumbai India pada tahun 1942. PSSI dikalahkaln oleh Timnas Madagskar dengan skor telak 12-1. Ini catatan terburuk final Indonesia yang biasanya kekalahannya rata-rata 3 atau empat.

Keenam, PSSI berhasil membuat kejutan ketika pada 1938, Indonesia lolos ke Piala Dunia Prancis 1938. Para pemain Indonesia semuanya berkebangsaan Belanda dan berkulit putih dengan bendera Belanda berkibar di Paris. Indonesia menempati peringkat 18 dari 16 peserta turnamen.

Ketujuh, PSSI berhasil menjuarai tempat kelima klasemen Piala Asia pada tahun 1970 dengan mengalahkan Barbados dengan skor 0-4 pada pertandingan terakhir.

Kedelapan, PSSI berhasil nyaris menang di final Piala AFF. Rekor nyaris juara ini adalah empat kali. Sebenarnya ada salah satu kejuaraan Piala AFF yang PSSI juara runner up sebelum secara resmi Piala AFF digelar. PSSI menjadi juara pada tahun 1954. Kala itu Indonesia dikalahkan oleh kesebelasan Nauru. Skor akhir secara telak dimenangkan oleh Nauru dengan skor 10-0 seperti ketika PSSI dihajar Bahrain 10-0 pada 29 Februari 2012.

Kesembilan, PSSI pun ketika masih menggunakan nama Nederlandsch Indishe Voetbal Unie (NIVU) pada acara eksibisi Piala Dunia 1936, dua tahun menjelang Piala Dunia 1938 di Prancis, Indonesia menjadi juara Piala Dunia dengan mengalahkan Hongaria 6-0. Namun dalam dunia nyata tanpa mimpi, pada Piala Dunia 1938 Hongaria mengalahkan PSSI atau NIVU dengan skor telak 6-0.

Kesepuluh, di Olimpiade Melbourne pada 1956, PSSI dengan Timnas PSSI bukan NIVU mampu menahan dan dianggap memenangkan pertandingan melawan Uni Soviet dengan skor 0-0. Pada pertandingan kedua Indonesia kalah dengan skor 4-0 berkat gol-gol Salnikov (17, 59), Ivanov (19), dan Netto (43). Uni Soviet ini akhirnya menjadi juara Olimpiade Melbourne.

Kesebelas, di Olimpiade Montreal 1990, PSSI menjadi peringkat 4 setelah gagal masuk final dan kalah dalam perebutan tempat ketiga melawan kesebelasan Kepulauan Faroe. PSSI kalah dengan skor tipis 9-0, bukan 10-0 seperti ketika dikalahkan oleh Bahrain. Masih jauh lebih baik.

Brakkk. Aku terjatuh dari kursi goyang. Kepala benjol. Aku terbangun. Ternyata aku tadi bermimpi tentang 10 eh 11 prestasi PSSI. Sadar dan melek aku dari mimpi. Ternyata PSSI tak pernah berprestasi dan akan berprestasi di dunia mimpi. Maka memang perlu reformasi PSSI dan sepakbola Indonesia dengan catatan mimpi di atas tentu.

Salam bahagia ala saya.