Mohon tunggu...
ninik sumarninanring
ninik sumarninanring Mohon Tunggu... Full Time Blogger - menikah

hobi saya menulis, karena bagi saya menulis akan mengasah kemampuan saya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Miris, Kisah Nenek Miskin Tinggal di Gubuk Reyot

4 Februari 2020   14:25 Diperbarui: 4 Februari 2020   14:41 483
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Banyak orang yang mendambakan masa tua yang bahagia, tinggal bersama keluarga besar, bermain bersama cucu dan anak-anak, namun hal itu tak didapatkan oleh dua nenek yang berada di Kabupaten Maros Provinsi, Sulsel.

Nenek Asseng (80) bersama anak semata wayangnya, Muna (58), bertahan hidup di sebuah gubuk reyot di Lingkungan Pamelakkang Jene, Kelurahan Allepolea, Kecamatan Lau, Maros. Meski hidup mereka serba susah, keduanya pantang mengharap iba dengan meminta-minta.

Kedua perempuan malang ini, sudah mendiami gubuk berukuran 3x5 itu berpuluh-puluh tahun. Jangankan untuk memperbaiki rumah yang kondisinya kini sangat memprihatinkan, kebutuhan hidup sehari-hari mereka saja, sudah sangat sulit.

Suami nenek Asseng sendiri, meninggal dunia saat putri semata wayangnya itu masih berusia 3 tahun. Nenek ngasseng pun harus berjuang sendiri sebagai kepala rumah tangga sejak saat itu. Karena fisiknya yang sudah renta, perannya mencari nafkah digantikan oleh putrinya yang tidak pernah bersuami.

"Bapak saya dulu kerjanya cari kerang.  Meninggal waktu umur saya masih tiga tahun. Jadi terpaksa mama saya yang biayai saya. Kerjanya dulu itu apa saja. Nah sekarang sudah tua. Tidak bisa apa-apa lagi. Jadi saya yang urus," kata Muna, Selasa (04/02).

Di gubuk reyot yang berlantai tanah itu, Muna menjual barang campuran milik seseorang. Dari situ, Muna hanya mendapat penghasilan antara Rp100 sampai Rp 200 ribu perbulan, tergantung banyaknya barang yang terjual. Pendapatan itu, jelas tidak bisa menutupi kebutuhan mereka berdua.

"Jadi tergantung pembeli saja. Kalau banyak yah banyak juga saya dapat. Tapi paling banyak itu Rp 200 ribu satu bulan. Semua saya beli, seperti beras karena tidak punya sawah. Air juga, kalau musim kemarau," lanjutnya.

Karena tidak mencukupi kebutuhan harian, Muna pun terpaksa meninggalkan ibunya sendirian di gubuk itu dan bekerja sebagai tukang cuci pakaian setiap hari. Ia pun harus berjalan kaki sejauh 10 kilometer untuk sampai ke tempat kerjanya karena tidak memiliki kendaraan. Dengan itu, Muna mendapatkan upah Rp 650 ribu perbulan.

"Saya jadi tukang cuci pakaian di perumahan di kota. Tidak ada kendaraan, terpaksa jalan kaki. Jauhnya itu sekitar 10 kilometer kalau dari sini. Perbulan dikasi Rp 650 ribu," sebutnya.

Ironisnya, meski di gubuknya itu terpasang papan informasi sebagai warga miskin. Muna mengaku, saat ini tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal, ia pernah menerima bantuan Beras Miskin (Raskin) beberapa tahun lalu. Mereka pun tidak tahu harus mengadu ke siapa soal penghentian bantuan itu.

Muna yang sangat ingin melihat ibunya hidup nyaman menghabiskan hari tua, berharap bisa mendapatkan bantuan bedah rumah dari pemerintah. Ia kasihan melihat ibunya kepanasan di dalam gubuk beratap seng yang tingginya hanya sekitar 2,5 meter.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun