Mohon tunggu...
Nindi Aulia Putri
Nindi Aulia Putri Mohon Tunggu... Relawan - Perempuan

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Jakarta | Tinggal di Tangerang

Selanjutnya

Tutup

Money

Suku Bunga Acuan Tetap 4 Persen Berdampak pada Pelaku Usaha

24 Oktober 2020   08:00 Diperbarui: 26 Oktober 2020   10:33 100 4 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara virtual yang dibahas pada 12-13 Oktober 2020, BI memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate (BI-7DRR) pada level 4 persen, dengan rincian suku bunga deposit facility sebesar 3,25 persen dan suku bunga lending facility sebesar 4,75 persen. Hal itu menunjukkan bahwa BI sudah 3 kali berturut-turut mempertahankan suku bunga sejak Agustus lalu.

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, kebijakan moneter ini konsisten dengan mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah di tengah potensi tekanan di pasar keuangan dan inflasi yang diperkirakan tetap rendah, serta sebagai langkah lanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19.

Bank Indonesia melihat nilai tukar rupiah saat ini yang diperdagangkan sekitar RP 14.740 per dolar AS masih berada di bawah nilai fundamentalnya. Menurut perhitungan BI, rupiah berpotensi meningkat dipicu oleh nilai fundamental yang undervalue sejalan dengan defisit transaksi berjalan dan inflasi yang rendah.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memaparkan indikator dini perekonomian menunjukkan perbaikan terlihat dari data penjualan eceran yang meningkat pada Agustus. Belanja pemerintah juga meningkat didorong oleh stimulus dukungan untuk sektor UMKM.

"Pemulihan ekonomi domestik diperkirakan akan berlanjut dipengaruhi oleh membaiknya perekonomian global dan meningkatnya realisasi belanja pemerintah," terang Perry.

Dilansir dari Kompas.com, rupiah tetap terkendali didukung stabilitas Bank Indonesia. Pada September 2020, rupiah melemah 2,13 persen point to point (ptp) dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian global maupun domestik. Kemudian pada 12 Oktober 2020, rupiah menguat 1,22 persen point to point atau 0,34 persen secara rerata dibanding level pada September 2020.

Menurut Perry, penguatan rupiah pada bulan Oktober didorong oleh masuknya aliran modal asing dan meningkatnya prospek ekonomi domestik. Namun sepanjang 2020, kurs rupiah masih mencatat depresiasi sebesar 5,56 persen dibanding akhir tahun 2019.

"BI menekankan pada kuantitas melalui penyediaan likuiditas termasuk dukungan terhadap pemerintah untuk mempercepat realisasi APBN 2020 guna mendorong pemulihan ekonomi nasional," ujar Perry.

Aliran modal asing pada Oktober 2020 juga tercatat membaik dengan adanya transaksi di pasar finansial sebesar 0,33 miliar dollar AS pada 9 Oktober 2020 dan cadangan devisa tersimpan sebesar 135,2 miliar dollar AS pada September 2020. Meski menurun dibanding posisi akhir Agustus, posisi cadangan devisa masih dikatakan baik.

"Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 9,5 bulan impor atau 9,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisinya juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," sebut Perry.

Kemudian, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2020 mencatat deflasi 0,05 persen secara bulanan (mtm). Sepanjang tahun 2020, inflasi berada pada level 0,89 persen dan secara tahunan (yoy) inflasi sebesar 1,42 persen. Inflasi sedikit lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 1,32 persen (yoy).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan