Mohon tunggu...
Niken Anggraini
Niken Anggraini Mohon Tunggu... Wiraswasta - podcast: anchor.fm/saya-niken

Novel : Suweng Mbah Tukah (gratis di Fizzo), Numa Dan Benda Bertuah (gratis di Fizzo), Pangeran Gelatik (gratis di Fizzo), Dita dan Sena: Sang Penakluk (gratis di Fizzo), Berlabuh Di Sisimu (Kwikku), Oh My Beebu (Hinovel, Sago, Bakisah, Ceriaca), Diary Cinta Naelsa:Macaca (Hinovel, Bakisah, Ceriaca)

Selanjutnya

Tutup

Humor

Nggak Pake Alesan!

19 Juli 2019   11:59 Diperbarui: 19 Juli 2019   12:15 49
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya sedang di warung bakso bersama Aim. Bocah kelas 5 SD ini minta makan bakso ke mamanya. Karena sang mama sedang repot mengerjakan laporan keuangan, ia meminta saya menemaninya makan bakso di warung bakso dekat rumah.  


Kami makan bakso sejak 15an menit yang lalu.  Saking asyiknya makan bakso sampai tak ada percakapan. Bakso yang saya makan habis. Sementara bakso di mangkuknya Aim masih ada. Dia terlihat santai saja makan baksonya. Entah kenapa. Melihat betapa ia tadi gigih minta makan bakso tapi kenyataannya saat makan bakso dia justru lelet makannya. Tampak dia ogah-ogahan makan.  


"Kenapa makannya lama sih ? Nggak enak ya baksonya ?" tanya saya.


Dia menggeleng.


"Pengen menikmati aja, Tan," sahutnya pendek.


Saya mencebik beberapa detik. Hening sesaat meja kami. Tak ada percakapan sekitar semenit. Saya menghabiskan kerupuk yang tadi saya makan.


Saya melirik Aim. Ia masih seperti tadi. Dia santai banget makannya. Pandangan matanya terlihat seperti melamun. Entah apa yang dipikirkannya.  


Tiba-tiba saja saya ingat percakapan saya dengan mamanya Aim beberapa waktu yang lalu.  Kata mamanya, Aim sudah mulai "suka-sukaan" sama teman sekolahnya.


"Bukankah dia masih kelas 5 SD ?" tanya saya heran. Jujur saja saya  kaget.  
Menurut saya Aim  masih kecil. Rasanya baru kemarin saya ngelihat dia belajar berjalan, eh ini kenapa udah main suka-sukaan  aja sih ?


"Anak zaman sekarang gitu lhoh ? Cepet banget gedenya," jawab mamanya Aim.  


Sepertinya mamanya Aim tak terlalu kaget atau khawatir. Lumrah banget menurutnya. Justru saya yang kaget.  


"Dia suka sama siapa sih ?"


"Sama teman sekelasnya. Namanya Lila. Aku kenal sama ibunya juga kok,"


"Mbak  tahu darimana kalau Aim suka Lila?"


"Dari Aim sendiri. Awalnya sih nggak tahu. Cuma heran aja, kenapa kalau berangkat sekolah dia pengen lebih pagi dari yang sebelumnya ? Kenapa selalu minta bawa bekal jajanan lebih banyak dari biasanya ?"


Saya jadi tersenyum mendengar cerita mamanya Aim ini.


"Ya akhirnya nggak sengaja, pas ada pertemuan orang tua murid, aku ketemu ibunya si Lila. Dia cerita kalau Aim sering ngasih anaknya jajan,"  


Saya jadi tersenyum lebar lagi mendengar perkataan mamanya Aim ini.  Jadi membayangkan wajahnya Aim saat malu-malu tapi berharap kue yang diberikannya ke Lila itu diterima.


"Ya pulang sekolah itu aku tanyain si Aim, 'Bang, Abang suka ngasih jajan ke Lila ya?'.  Dia cuma ngangguk,"


"Terus aku tanya lagi, ' Abang suka sama Lila ya ?'' Dia diam gitu. Aku tanya sekali lagi dia menjawabnya pakai anggukan kepala,"


 Saya kembali tersenyum lebar.  


"Ntar kalau kamu lagi ngobrol sama Aim, coba tanyain deh, dia mau ngaku nggak kalau kamu yang nanyain gitu !" kata mamanya Aim kepada saya.


Saya melihat Aim yang sedang mengunyah bakso dengan malas-malasan itu. Pelan-pelan saya bertanya soal Lila.


"Bang...abang suka sama teman sekelasnya abang ya ?"


Aim melirik ke arah saya. Dia diam sekitar dua detik. Tapi akhirnya ia menjawabnya dengan menaikkan kedua alisnya sebagai jawaban iya.


"Itu... cewek yang abang sukai itu anaknya cantik ya ?


Dia diam beberapa detik. Tampak sedang berpikir. Detik berikutnya dia menjawab dengan gelengan kepala.


"Dia pintar ya ?"


Dia kembali menunjukan ekspresi wajah yang sedang berpikir. Saya diam menunggu. Sejenak kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Dia lucu ya makanya bikin abang suka ?"


Lagi-lagi dia diam selama beberapa detik dan menunjukan ekspresi wajah yang sedang berpikir. Saya pun mau tak mau harus diam menunggu jawabannya.  


Tak lama kemudian ia kembali menggelengkan kepalanya. Saya mengerutkan dahi saya sebagai isyarat bingung.


"Bang...kalau menurut abang dia itu nggak cantik, nggak pinter dan nggak lucu juga, terus apa yang bikin abang suka sama dia?"


Aim menatap saya dengan sorot mata kesal. Mungkin dia kesal aksi makan baksonya saya ganggu dengan beberapa pertanyaan seperti ini. Atau mungkin karena alasan lainnya.


"Suka mah suka aja tante. Nggak pake alesan,"


"Haahahahaha," spontan saya tertawa mendengar jawabannya itu.  


Iya benar. Suka ya suka aja. Nggak pakai alasan. Kalau pakai alasan bukan suka lagi namanya. Begitu kata orang. Saya tadi sepertinya tengah menertawai diri sendiri. Pertambahan umur ini sepertinya membuat saya lupa jika saya pernah muda. Pernah mengalami fase-fase seperti Aim. Mengalami cinta monyet. Menyukai seseorang tanpa tahu kenapa sampai begitu. Ah....saya mulai tua dan pelupa ternyata.[]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humor Selengkapnya
Lihat Humor Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun