Mohon tunggu...
Agnia Melianasari
Agnia Melianasari Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta || NIM: 20107030020

-Writer -Speaker -Young Entrepreneur

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Dear, Beban Orangtua

3 Maret 2021   16:06 Diperbarui: 3 Maret 2021   16:24 103 0 0 Mohon Tunggu...

Pandemi telah merubah banyak hal. Dari mulai kebiasaaan sehari-hari, kegiatan sekolah, sampai kegiatan perekonomian. Orang-orang yang biasa pergi bekerja ke kantor, satu tahun terakhir ini mau tidak mau harus membatasi segala kegiatannya karena harus tetap mematuhi protokol kesehatan atau bahkan full bekerja dari rumah. 

Tak sedikit pula dari kalangan pelajar yang sudah merasa jenuh karena harus terus-terusan menatap gedget untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Mungkin tak sedikit juga dari mereka yang rindu bermain dan berkumpul bersama teman-temannya. 

Begitu pula dengan para mahasiswa, terlebih mahasiswa baru angkatan corona. Mereka yang sudah membayangkan betapa seru dan asiknya menjadi seorang mahasiswa, pergi ke kampus, berorganisasi, nongkrong di warung kopi bersama teman-teman baru, atau berkuliah sambil bekerja paruh waktu. 

Pada kenyataannya mereka hanya berdiam diri di rumah, berkenalan dengan kampus dan teman-teman baru secara virtual. Adapun mereka yang sudah nekat berangkat ke kos/asrama di kota tempat dimana mereka akan berkuliah, tetap saja, jika pembelajaran dilakukan secara online tentu masih ada rasa jenuh yang menghampiri. Meski sesekali bisa keluar untuk belajar beradaptasi degan lingkungan baru dan sejenak me-refresh otak bersama teman baru.

Namun, tak sadarkah? Dengan begitu, mereka justru malah menambah beban pikiran? Ya, beban orang tua khususnya. Karena saat pandemi ini tak sedikit dari mereka yang pendapatannya berkurang atau bahkan kehilangan pekerjaan. 

Tak lucu rasanya jika banyak meme yang bertebaran di media sosial dengan mengatakan atau menyinggung perihal anak muda yang kini banyak yang menjadi beban orang tua atau keluarga. Hal ini membuat tak sedikit remaja menuju dewasa menjadi overthinking. 

Yaa masih mending jika sebagian dari mereka ada yang mau berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai pekerja paruh waktu atau membuka usaha kecil-kecilan sendiri. Tapi, bagaimana jadinya dengan anak muda yang pemalas? Mageran, yang hanya mau mendapatkan hasil secara instan tanpa mau bekerja keras dan melalui banyak proses. Yang ada… hanya banyak protes.

Akhir-akhir ini saya juga sering menerima keluhan dari teman-teman saya yang ketika curhat mereka suka menggerutu karena bokek dan mengaku ingin segera sekolah atau kuliah secara offline agar mendapatkan uang jajan. 

Hmmm… apakah offline satu-satunya jalan agar kita bisa mendapatkan uang? Heyy jangan salah kawan… jaman yang dialami oleh orang tua kita sudah jelas berbeda dengan jaman yang kita alami sekarang. Segala hal yang kita inginkan ada dalam genggaman. Mau cari materi untuk belajar? Tak usah jauh-jauh pergi ke perpustakaan daerah atau ke toko buku, cukup jelajahi internet yang ada di genggamanmu, semuanya ada disitu!

Sedikit saya ingin bercerita tentang perubahan kebiasaan yang terjadi di kampung saya selama pandemi ini. Siapa yang belum familiar dengan istilah Delivery Order?  

Yap! Awalnya saya pikir, jasa pengiriman makanan atau jasa titip barang ini hanya terdapat di kota-kota besar. Namun ternyata saya salah. Semenjak pandemi, di kampung saya banyak warung-warung kuliner atau jajanan yang menyediakan layanan delivery order hanya dengan memanfaatkan media WhatsApp. Bahkan ada juga seorang pemuda yang kini sukses mendirikan sebuah jasa titip (makanan maupun barang lainnya). Tarif harga yang dipatok untuk sekali jasa titip adalah Rp.4.000 – Rp.50.000, tergantung jauh dekatnya pesanan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN