Mohon tunggu...
Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Mohon Tunggu... Penulis Recehan

Most Viewed Content over 400.000 pageviews Kompasiana Award 2019

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mengapa Kua Tuaf Sangat Dihormati dalam Tradisi Suku Dawan (Timor)?

17 Januari 2021   19:25 Diperbarui: 17 Januari 2021   22:03 274 19 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa Kua Tuaf Sangat Dihormati dalam Tradisi Suku Dawan (Timor)?
ilustrasi | Dokumentasi Neno Anderias Salukh

Istilah "kua tuaf" mungkin asing bagi beberapa orang tetapi jika Anda pernah mendengar lagu yang dinyanyikan oleh salah satu penyanyi lokal dari Timor Tengah Selatan, Sius Otu, Anda akan mendengar penyebutan istilah kua tuaf

Meski demikian dalam lagu tersebut, tidak menjelaskan tentang makna istilah kua tuaf. Karena itu, dalam artikel ini saya akan membahas tentang kua tuaf dan peran sosialnya yang sangat dihormati dalam budaya Suku Dawan (Atoin Meto) di Pulau Timor.

Kua tuaf terdiri dari dua kata yaitu kua, metatesis dari kuan yang berarti kampung dan tuaf yang berarti tuan/pemilik. Jadi, kua tuaf merupakan "tuan kampung" atau "pemilik kampung". 

Kua tuaf adalah gelar penghormatan kepada klan-klan tertentu. Dalam sebuah kampung atau pemukiman hanya salah satu klan yang diberi gelar tersebut.

Penyematan gelar tersebut atas dasar klan tersebut merupakan orang pertama yang tinggal di kampung tersebut. Pada zaman dahulu, sebuah kampung terbentuk dari inisiatif seseorang yang ingin menetap di suatu tempat jika letak tempat tersebut strategis atau memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai pemukiman.

Baca: Lokasi Terisolasi, Tempat Paling Nyaman bagi Suku Dawan (Timor)

Karena hakikat seorang manusia yang tidak bisa hidup seorang diri akan berusaha mencari orang lain untuk menemani. Pada zaman dahulu, kehidupan manusia masih berpindah-pindah tempat (nomaden), dimanfaatkan oleh orang tersebut untuk mengajak orang-orang yang masih berpetualang mencari tempat tinggal yang layak untuk tinggal bersama-sama dalam sebuah kampung.

Kemudian jika terdapat dua klan atau lebih maka kawin-mawin diperbolehkan dalam kampung. Misalnya anak laki-laki dari klan Neolaka (salah satu klan di Amanuban) menikahi anak perempuan dari klan Salukh (klan pertama yang tinggal di kampung tersebut). 

Pernikahan semacam ini yang kemudian membentuk konsep moen lanan ma fe lanan agar kawin mawin dalam kampung terus terjadi tetapi menghindari kemungkinan perkawinan inses menurut orang Dawan.

Baca: Moen Lanan ma Fe Lanan, Tradisi Perkawinan Sepupu Suku Dawan (Timor)

Karena menganut sistem patrilineal maka keturunan dari perkawinan anak laki-laki klan Neolaka dan anak perempuan dari klan Salukh akan masuk dalam klan Neolaka tetapi klan Salukh akan dihormati sebagai atoin amaf (saudara laki-laki ibu). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x