Mohon tunggu...
Sid noise
Sid noise Mohon Tunggu... Jangan Mau di Bungkam

Akun subsidi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Hoax Seperti Saudara Kembar Bangsa Kita

8 Agustus 2020   09:21 Diperbarui: 8 Agustus 2020   11:28 23 2 0 Mohon Tunggu...

Hoax Jadi Kambing Hitam atas Kebodohan kita Sendiri

Hoax atau kebohongan adalah mekanisme yang terjadi di seluruh dunia bukan hanya di indonesia sengaja atau tidak terstruktur sistematis ataupun tidak. Hoax bisa di katakan bagian dari kehidupan dan jika tanpa hoax dunia tidak akan menjadi seperti sekarang.

Amerika menyerang iraq itu karena hoax dimana CIA membayar saksi - saksi di pengadilan, begitupun ketika amerika bisa terlibat perang dunia karena membohongi warga negara nya.

Indonesia juga dipenuhi oleh hoax tetapi sial nya tradisi untuk kritis dan skeptis terhadap informasi sangat lah tipis atau sedikit sekali disini.

Hoax bisa di gunakan untuk menguji sesuatu misalkan anda seorang ilmuan besar kemudian ingin menguji kredibilitas media, berikan saja data penelitian atau jurnal yang salah dan lihat apa si media kritis terhadap informasi nya atau langsung mempublish mendukung semua nya benar karena hanya melihat nama anda sebagai ilmuan besar.

Tidak jelas asal muasal kata hoax ini meskipun di TV pernah ada perdebatan mengenai hal ini (ilc), karena para pesulap zaman dulu juga sering menggunakan kata "hoax" dalam pelapalan mantranya. Hoax ini mekanisme global walaupun harus fokus dengan indonesia seperti yang di tanyakan warga kampung saya ketika dalam shift ronda malam,

"Heran kenapa ya orang kita (indonesia) gampang banget kemakan hoax"
Pak Herman
Sebel banget sama Hoax padahal dia sendiri yakin bener indonesia di jajah 350 tahun.

Jika harus menjawab kenapa kita suka termakan Hoax? Saya ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan ini semua mudah - mudahan pak herman juga membaca ini.

1. Semua orang suka ke bohongan

Kebohongan itu bisa mewujudkan fantasi seseorang di dunia nyata misal

"Fantasi saya adalah seorang penulis hebat dengan banyak karya"

Untuk mewujud kan nya bisa karena saya banyak menulis karya original dan semua tulisan nya bagus, atau saya bisa menjiplak atau bahkan berbohong mengenai pencapaian saya tersebut, hasil keduanya adalah sama - sama dapat penghargaan dari orang lain jika berhasil.

Pria ketika ingin menarik hati pasangan nya sering sekali menempatkan hoax pada ceritanya (mulut nya enteng bener), bahkan kadang si wanita tahu orang itu berbohong tapi tetap saja dia suka apakah memang senang di gombalin atau ya itu hanya tuhan dan kaum hawa yang tahu.

Dalam kasus ini kita juga jadi tahu

"Lebih baik di gombalin dari pada tidak di perhatikan sama sekali"

Artinya pihak yang berbohong dan yang di bohongi sama - sama menyukainya.

Iya kan?

Kita semua suka mengkonsumsi kebohongan di TV, youtube,  buku dan sebagai nya padahal kita tahu itu bohong tapi kita tetap menyukainya.

Hoax itu menyenangkan dan hoax adalah tempat dimana fantasi kita bisa menjadi kenyataan dalam artian kita bisa mendapat penghargaan.

Kita semua punya masa lalu yang buruk, memalukan tetapi ketika kita menceritakan kepada orang lain terpaksa kita menambahkan hoax agar tidak terdengar terlalu memalukan.

Benar kan?

Waktu kecil saya sering berkelahi dengan orang lain setelah saya renungkan di masa sekarang karena dulu saya belum dekat dengan yang nama nya hoax, mulut saya waktu itu mengalir ketika berbicara.

"Bapak lu orang duit nya banyak dari minta - minta aja belagu bener "
Penulis waktu kecil
Di gebukin bocah tongkrongan kebetulan ngomong nya di komplek perumahan polisi tapi sore nya baikan lagi.

Dan setelah sebesar sekarang penulis jarang bahkan tidak pernah lagi bertengkar sampai gontok - gontokan

A : "Lu sakit hati ga?"
B : "Ga biasa aja"
Andre
Padahal semalem pacar nya ketahuan selingkuh

Orang yang keranjingan nonton film Porno sampai otak nya di penuhi fantasi macam - macam padahal yang melakukan secara nyata adalah orang lain.

Saya bukan guru moral tetapi dalam konteks ini adalah kenyataan yang terjadi pada diri kita bukan soal benar atau salah.

2. Hoax muncul ketika informasi sampai kepada masyarakat yang pengetahuan nya tidak memadai

Kita khusus nya di indonesia mendengar cerita dari orang lain kemudian di akhir cerita sering kali ada pilihan yang muncul yaitu percaya atau tidak. Orang yang sudah memadai ilmu nya mereka akan skeptis dari indikasi, bukti sampai kenapa alasan kita harus percaya mereka tanyakan. Tapi jika informasi sampai kepada orang yang lemah pengetahuan nya mereka hanya berfikir enak atau tidak, dengar atau tidak, yang penting terhibur mereka akan percaya.

Anak kecil itu otak nya masih kosong dan sangat ingin mencari tahu hal - hal baru begitupun dengan orang dewasa yang masih dangkal rasa ingin tahunya juga sangat tinggi jadi ketika mendapat pengetahuan mereka langsung memasukan nya kedalam otak tanpa harus mengolahnya.

Menurut saya dalam filsafat itu beda antara tahu dan percaya, tahu itu ada informasi didalam benak dan ada buktinya (bukti indrawi), sedangkan percaya adalah ada informasi tetapi tidak ada bukti.

Tuhan dan agama sangat dekat dengan kata percaya bukan? Jika di sandingkan dengan kata tahu malah tidak sedikit yang menjadi masalah.

Otak pasif lebih banyak di pakai orang yang pengetahuan nya lemah makanya lebih senang percaya. Untuk menggunakan mode otak aktif banyak lah belajar.

3. Keberpihakan

Pilpres kemarin antara Jokowi Vs Prabowo kedua belah pihak saling menuduh mereka menyebarkan hoax. Misal dari kubu 01 mengatakan,

"Prabowo nih bisa nya cuman nyebarin Hoax doang"

Tapi mereka menutupi / mengingkari hoax yang mereka ciptakan sendiri (kubu 01), begitupun sebaliknya.

Karena menurut saya secara logis kita obyektif saja, kedua belah pihak Jokowi maupun Prabowo, tim sukses maupun relawan, sengaja atau tidak itu mereka sama - sama menciptakan hoax karena keberpihakan tadi.

Oposisi maupun yang berposisi sepanjang sejarah dunia ini mereka membuat hoax, dan yang paling penting adalah bahwa yang berposisi (pemerintah) adalah pihak yang paling berkesempatan, berkekuatan untuk menyebarkan hoax dan pihak oposisi adalah pihak yang paling termotivasi untuk menyebarkan hoax.

Silahkan bukti kan sendiri dengan menanggalkan keberpihakan, Apakah kita bagian dari yang menutup mata atau berpikir logis dan obyektif?

Ketika kita berada dalam satu pihak biasanya kebenaran pihak lain tidak di hiraukan karena terikat pada identitas komunal.

Bobotoh hanya mengingat kejahatan the jak dan prestasi bobotoh itu sendiri begitupun sebaliknya identitas komunal menjadi identitas individu.

Pada saat kita berpihak atau tidak obyektif maka di sanalah kita rentan terkena hoax.

4. Sejak kecil kita di ajari hoax

Menurut analisa saya secara sistematis para orang tua kita mengajari hoax.

"Sakit ya dasar meja nakal"
"Jangan kesitu nanti ada genderuwo"

Karena terbiasa dengan itu sehingga kita mentolelir kebohongan.

Di sekolah pun demikian saya pernah mengalami sendiri ketika di tugaskan mengawas ujian ada kemudian siswa pada mencontek satu sama lain pada saat saya tegur malah saya yang di tegur pihak sekolah.

"Biar nilai anak - anak tidak terlalu jelak pak"


Jadi budaya kita memang mentolelir kebohongan.

5. Sejak awal hoax sudah menjadi budaya kita

Ini sensitif tapi harus saya sampaikan sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Contohnya seperti inu ketika sultan agung mataram menyerang batavia VOC dua kali dan gagal. Tapi pujangga istana menyatakan mereka berhasil mengalahkan belanda (VOC) jelas Hoax, tulisan pujangga nya kurang lebih seperti ini

"Tanpa mengirimkan pasukan sultan agung itu mampu menembus mengalahkan belanda hanya dengan kekuatan gaib nya tapi sultan agung tidak melakukan nya karena di dalam istana mataram ada komandan perang yang jahat dan berkhianat maka di kirim lah si komandan tersebut untuk menyerang belanda dan akhirnya si komandan terbunuh"

Mereka mengklaim menang karena si VOC membunuh si komandan jahat dan penghianat istana.

Orang indonesia sejak dulu kala menurut kajian istanasentris historiografi tradisional terbiasa mengagung - agungkan raja bahkan ketika raja berbuat salah mereka dengan sengaja membuatkan hoax bahwa si raja sebenarnya adalah orang yang baik.

Ken arok itu jahat nya luar biasa dia merampok, membunuh, memperkosa itu biasa. Tapi ketika dia menjadi raja pihak kerajaan mengatakan bahwa ken arok melakukan itu semua karena dia adalah keturunan dewa, titisan wisnu, anak brahma, perwujudan shiwa.

Makanya dia harus menjadi pemimpin karena jika dia tidak menjadi pemimpin dia harus mengaktualisasikan kekuatan yang terlalu kuat yang dia miliki dengan membunuh, merampok dan sebagainya.

Semestinya ini tidak sensitif dan menjadi masalah mungkin dengan cerita ini semua dunia jadi tahu bahwa bahwa kita (indonesia) tidak jelek - jelek amat walaupun sampai sekarang saya harus berhati - hati jika berbicara di publik.

Sekali lagi hoax itu garis besar ada di seluruh dunia.




VIDEO PILIHAN