Mohon tunggu...
Sid noise
Sid noise Mohon Tunggu... Buruh - Jangan Mau di Bungkam

Akun subsidi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Perihal Poligami

3 Juli 2020   16:48 Diperbarui: 3 Juli 2020   16:49 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Poligini

Mengingat perdebatan antara Bung Natsir dan Bung Karno Perihal Poligami, dan seperti kebanyakan masyarakat lain nya seringkali menitik kepada pendekatan Agama. Dan kita lupa bahwa secara antrophology pologami sendiri seharusnya melibatkan pendekatan budaya.

Ada yang mengatakan poligami sebagai solusi untuk beberapa masalah sosial seperti pelacuran atau kesenjangan populasi pria dan wanita, ada juga yang mengatakan poligami adalah sumber dari berbagai masalah seperti perceraian, KDRT, kenakalan remaja dan yang lain nya. Mana yang benar? Yang pasti perbedaan ini jangan sampai memulai peperangan saja.

Bung Karno sendiri dulu yang menolak adanya poligami tapi kenyataannya melakukan poligami, begitu pula dengan Bung Natsir yang memperbolehkan tapi tetap bertahan dengan satu istri. Jika demikian dengan ironi yang terjadi di kedua Tokoh besar ini kita bisa belajar bahwa poligami sendiri itu bukan hanya tentang ideologi, agama, hak dan kewajiban, diluar itu ada Hal yang melibatkan hasrat dan gairah tentunya.

Kenapa harus di lihat dari sudut kebudayaan, memang dari kacamata antrophology poligami itu hasil kreasi dari manusia. Dan lahirnya kebudayaan ini seperti kata Arnold Toinb ini tidak terlepas Antara Manusia dan Tantangan Alam yang ada ( pada masa lampau ). Maksudnya kondisi alam yang ada di suatu daerah menentukan apakah poligami adalah solusi atau masalah.

Seperti Pada saat itu terjadi pada masyarakat yang tinggal di lingkungan ekstrim layak nya gurun yang susah air dan kebutuhan hidup lainnya, maka orang - orang akan berkumpul di sumber mata air yang jumlah nya sedikit itu, maka akan tercipta kelompok - kelompok yang rentan akan konflik suka akan peperangan  guna mempertahankan diri dan kelompok nya.

Maka yang di butuhkan dalam perang selain si laki - laki harus kuat, tentu memerlukan kelompok yang banyak tentunya di dapat dari perempuan. Ketergantungan yang muncul karena kondisi seperti ini, dimana laki - laki menjunjung tinggi ke tangkasan, kekuatan dan kemampuan lainnya, si wanita karena kurang bisa berperan seperti laki - laki, yang di andalkan dari perempuan adalah reproduksi nya (pada masa lampau).

Maka dengan demikian poligami dalam kelompok masyarakat seperti itu menjadi kewajaran, tidak sedikit juga wanita yang senang bukan hanya mau di poligami, bertukar pasangan pada kelompok seperti itu juga mempunyai peran untuk memperkuat kelompok. Tentu yang di nikahi adalah lelaki yang berkemampuan dan punya banyak pendukung untuk mempertahankan diri dan kelompoknya, dan mungkin ini juga yang menyababkan muncul ungkapan banyak anak banyak rezeki.

Dalam konteks sosial seperti itulah yang terjadi, semakin besar tantangan suatu wilayah, semakin besar potensi masyarakat itu sendiri menjunjung poligami.

Setelah menjadi budaya, masalah yang akan timbul adalah dimana pria sangat tergantung pada reproduksi dan si wanita terlalu tergantung pada laki - laki, akan muncul kebiasaan baru dalam hal ini dominasi laki - laki. Selain urusan seks dan reproduksi perempuan di remehkan (budak), dalam beberapa kasus misalnya  wanita tidak boleh terlihat wajah nya sama sekali, budak seks, pingitan, ada juga di wilayah tertentu ada janda yang mengharuskan di bunuh / bunuh diri, ini adalah tuntutan sosial yang terjadi karena masalah dominansi di masa lampau tadi yang melibatkan tantangan alam.

Sekarang jika di tanya setuju atau tidak, karena di masa lampau dan dalam kondisi tertentu poligami menjadi solusi bahkan satu - satunya jalan  jika tidak berpoligami, masyarakat itu akan ter eliminasi dalam kelompok. Kita lihat di arab dimana perang adalah hobi mereka (sampai saat ini) yang menyebabkan banyak laki - laki yang meninggal, anak - anak kelaparan, perempuan tidak bisa apa - apa pada masa itu, jika tidak terjadi poligami, mungkin tidak ada orang arab pada masa sekarang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun