Mohon tunggu...
Negara KITA
Negara KITA Mohon Tunggu... Keterangan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Bio

Selanjutnya

Tutup

Politik

Budi dan Tenggelamnya Kapal Van der Radikal

18 Juli 2019   14:14 Diperbarui: 18 Juli 2019   14:30 0 5 3 Mohon Tunggu...
Budi dan Tenggelamnya Kapal Van der Radikal
Pertemuan Jokowi dan Prabowo [Foto: gesuri.id/Gabriella Thesa Widiari]

Banyak dari kita tentu tidak asing lagi dengan film Titanic. Film tersebut mengisahkan sebuah kapal mewah nan megah bernasib nahas. Dalam perjalanan menuju tujuannya, kapal tersebut menabrak es dan tenggelam di lautan Atlantik.

Agaknya, kejadian serupa akan terjadi pula pada ormas-ormas Islam yang terafiliasi dengan gerakan 212. 'Kapal' mereka mulai oleng semenjak pertemuan antara Jokowi dan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus pada Sabtu 13 Juli lalu. Pertemuan itu terjadi lantaran Prabowo memilih untuk mempersatukan kembali bangsa Indonesia yang telah terpecah karena kontestasi Pemilu. Pertemuan itu tak lepas dari peran Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan. Menurut pengamat politik Boni Hargens, Budi Gunawan mampu mewujudkan rekonsiliasi yang sangat berharga dalam perjalanan bangsa.

Buntut dari pertemuan tersebut dapat kita tebak, kelompok PA 212, FPI, serta GNPF Ulama menyatakan sikap tidak lagi berada di belakang Prabowo. Oleh karena itu mereka mengadakan Ijtima Ulama IV guna melakukan konsolidasi di kalangan ulama salah satunya bidang politik.

Terkait pertemuannya dengan Jokowi di MRT dan FX Senayan, dalam waktu dekat Prabowo akan mengadakan pertemuan di Hambalang dengan pimpinan partai yang pernah berada di Koalisi Adil Makmur, ulama, tokoh masyarakat, dan relawan yang mendukungnya di Pilpres 2019. 

Uniknya, pihak PA 212 mengakui hingga saat ini mereka belum mendapatkan undangan untuk bertemu dengan Prabowo. "Belum ada agenda pertemuan (dengan Prabowo). Kami sedang persiapan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional IV," kata Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif. Akan tetapi, jika diundang bertemu maka PA 212 siap menjalin pertemuan itu.

Apabila melihat perjalanan Prabowo di kontestasi Pilpres 2019, mungkin saja pihak 212 merasa pantas diundang ke pertemuan Hambalang karena peran Rizieq Shihab yang bagi mereka telah memperjuangkan eks Danjen Kopassus itu. Oleh karena itu pula pengamat politik Ujang Komaruddin mengatakan Prabowo Subianto dan Amien Rais akan memperjuangkan kepulangan Rizieq. Walaupun dalam pertemuan Prabowo-Jokowi di MRT Rizieq tidak menjadi topik pembicaraan, sepertinya Prabowo dan Amien sedang mencari jalan terbaik untuk mengkomunikasikan dengan pemerintah.

Tapi perlu diingat pula ada perubahan sikap baik antara Prabowo dan Amien Rais tentang Jokowi. Pertama adalah Prabowo yang mau menemui Jokowi dan tidak mengkomunikasikannya terlebih dahulu pada ormas terafiliasi 212. Kedua, perubahan sikap Amien Rais pasca pidato Jokowi bertajuk 'Visi Indonesia' di Sentul International Convention Center, 14 Juli 2019. Ketua Dewan Kehormatan PAN tersebut memuji presiden Jokowi sebagai orang yang paham berdemokrasi.

Sehingga secara logika, untuk apa Prabowo dan Amien memperjuangkan lagi kepulangan Rizieq? Kasus besar yang telah menjerat bos FPI itu, yakni dugaan penghinaan Pancasila dan dugaan percakapan berkonten pornografi telah dikeluarkan SP3 nya. Sisanya berupa kasus-kasus kecil yang tidak seberat 2 kasus tersebut. Yakni logo uang mirip palu arit, kasus dugaan penodaan agama, dan kasus pernyataan 'otak hansip'. Rasanya agak absurd bagi Prabowo dan Amien Rais untuk memperjuangkan kepulangannya.

Pernyataan dari PA 212 yang belum diundang oleh Prabowo untuk bertemu, menjadi sinyal bahwa mereka justru sangat berharap untuk bertemu eks Danjen Kopassus itu. Apakah yang mendorong mereka memberikan kode pada Prabowo? Jawabannya adalah karena mereka telah kehilangan ruang untuk menggalang dukungan. Mereka tak lagi memiliki wadah untuk menyalurkan aspirasi. Pengamat politik dari Populi Center Rafif Pamenang menyatakan, setelah pertemuan Jokowi dan Prabowo, kelompok anti demokrasi tersudut. Di situlah urgensi mereka agar bisa kembali mendapatkan posisi.

Kita ambil saja logika dalam sebuah pasangan suami istri yang akan bercerai. Apabila pihak istri terus berupaya agar tidak terjadi perceraian, artinya wacana untuk bercerai itu sudah ada. Begitu pula dengan Prabowo, sudah ada agenda 'bercerai' dengan Blok Islam Kanan. Oleh karena itulah mereka berharap bisa merayu kembali Prabowo demi memperjuangkan kepentingan mereka. 

Kaum Islam Kanan ini ingin naik ke dalam 'sekoci' penyelamat milik Prabowo karena kapal mereka telah tenggelam. Akan tetapi, Prabowo dan para pendukungnya mungkin sadar, bahwa apabila membiarkan kaum radikal ini naik ke 'sekoci', maka mereka akan berisiko ikut tenggelam pula. Bagaimana tidak, pihak radikal itu tidak inginkan persatuan bangsa. Hal yang mereka inginkan hanyalah khilafah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2