Mohon tunggu...
Nadia Farah
Nadia Farah Mohon Tunggu... Mahasiswa

Semoga istiqamah

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter tapi Moralitas Tetap Turun? Yuk, Flashback ke Ta'limul Muta'allim

7 April 2021   09:59 Diperbarui: 7 April 2021   10:15 227 4 1 Mohon Tunggu...

Kurikulum 2013 yang saat ini diterapkan di Indonesia merupakan kurikulum yang mengedepankan karakter serta kompetensi untuk bersaing dengan negara lain di zaman serba digital. Agar siswa memiliki karakter-karakter unggul, pemerintah telah berupaya  menginternalisasikan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam pembelajaran. Sesuai dengan Peraturan Presiden no. 87 tahun 2017, PPK dilakukan dengan menerapkan  nilai-nilai Pancasila meliputi 18 karakter yang diakumulasikan menjadi lima karakter utama, yakni religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Hingga hari ini, hampir seluruh sekolah di tanah air telah menerapkan program PPK. Meskipun begitu, realitasnya masih banyak kasus terkait turunnya moral siswa yang semakin hari semakin bertambah. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2017, terdapat 3,8 persen pelajar dan mahasiswa yang menyatakan pernah menyalahgunakan narkotika dan obat berbahaya. Data pusat statistik Indonesia juga menunjukkan bahwa tingkat perkelahian antar pelajar setiap tahunnya terus meningkat.[1] Belum lagi fenomena kehidupan remaja di daerah perkotaan yang bisa dikatakan tidak sesuai dengan nilai Pancasila. Dewasa ini, sering kita temukan pasangan muda mudi yang belum menikah secara resmi, namun mereka sudah tertangkap oleh polisi saat melakukan hal menyimpang di hotel atau tempat-tempat lainnya. Namun perlu digaris bawahi, bahwa dari deretan muda mudi ini beberapa yang tertangkap adalah seorang pelajar.

Beberapa waktu yang lalu sempat beredar video anak sekolah dasar yang memarahi gurunya.[2] Siswa ini diketahui telah mematahkan tangan kepala sekolah dengan menendangnya. Sebab hal itu, pihak sekolah langsung meminta si anak untuk memanggil orang tuanya, namun anak ini menolak dan dengan berani mengatakan bahwa kesalahan yang telah ia perbuat adalah tanggung jawabnya serta orang tuanya tidak perlu mengerti. Siswa ini juga menggunakan nada yang tinggi dan kata-kata kasar saat berbicara dengan guru. Belum lagi pandemi Covid-19 yang menimpa Indonesia sejak Maret 2020, mengakibatkan diterapkannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara serentak di Indonesia. Walaupun pembelajaran seperti ini dapat memajukan kompetensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) siswa dan guru, namun perlu diketahui bahwa dampak negatif yang ditimbulkan juga tidak sedikit. 

Pemerhati kesehatan jiwa anak dari UNICEF, Ali Aulia Ramly menuturkan bahwa resiko perundungan daring atau yang biasa disebut cyber bullying kian bertambah selama pandemi Covid-19 ini.[3] Menurutnya, bentuk bullying yang mungkin menimpa anak, yakni menyebarluaskan foto korban dan mengolok-oloknya di media sosial ataupun memantau terus menerus satu akun (stalking) dengan tujuan menjadikannya sasaran bullying. Hal ini dikarenakan intensitas bermain gawai selama masa pandemi yang tinggi. Selain itu, perilaku tidak sopan siswa pada pembelajaran juga bukan sesuatu yang mustahil ditemukan. 

Beberapa perilaku tidak sopan tersebut, antara lain kecurangan pada keikutsertaan pembelajaran daring yang mana siswa terlihat online (hadir) namun melakukan aktivitas lain dengan mematikan kamera, penggunaan bahasa yang kurang sopan saat berkirim pesan dengan guru melalui media TIK, tidur dan makan saat pembelajaran online ataupun bermain sosial media saat pembelajaran berlangsung (Facebook, instagram, tiktok dan lain sebagainya).[4] Ditambah lagi dengan semakin banyaknya resiko anak berkata hingga berlaku kasar akibat bermain game online. 

Tak jarang pula terjadi kecurangan dalam mengerjakan tugas dan ujian sekolah, di mana bukan siswa yang mengerjakan tugas tersebut melainkan orang tua, saudara atau guru lesnya. Tentu, adanya peristiwa-peristiwa tersebut akan membuat kita berpikir bagaimana hal ini bisa terjadi? Padahal semua sekolah telah menerapkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), namun mengapa masih terjadi kemerosotan moral siswa?.

Untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan tersebut, perlu mengkaji lebih dalam mengenai pendidikan karakter dan sopan santun dalam menuntut ilmu. Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor agama juga berpengaruh dalam pembentukan karakter peserta didik. 

Menurut istilah agama islam, pendidikan karakter erat kaitannya dengan akhlak dan adab dalam menuntut ilmu. Salah satu rujukan mengenai adab dan akhlak dalam menuntut ilmu adalah kitab ta'limul muta'allim yang dikarang oleh az-Zarnuji. 

Ulama yang bernama lengkap Syekh Tajuddin Nu'man bin Ibrahim bin Khalil Zarnuji ini, dalam kitabnya memaparkan tentang tata cara menuntut ilmu yang terbagi menjadi 13 bab (fasl). Dari ke-13 bab ini, penulis akan memaparkan tata cara menuntut ilmu menurut az zarnuji secara garis besar.

Sebelum itu, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban seluruh umat muslim, tanpa terkecuali. Dalam kehidupan sehari-hari, ilmu merupakan suatu hal yang urgen sebab Ia adalah sarana bertakwa yang menentukan kedudukan (derajat) umat di mata sang pencipta. Az-zarnuji sendiri telah mengklasifikasikan ilmu menjadi empat, yakni ilmu fardhu 'ain, fardhu kifayah, 

Ilmu yang haram dipelajari, serta ilmu jawaz. Ilmu fardhu 'ain yakni ilmu yang wajib dipelajari oleh tiap individu muslim, antara lain ilmu tauhid, fiqih, shalat, puasa, zakat, haji serta ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan amal ibadah fardhu 'ain. Ilmu  fardhu kifayah atau ilmu yang dibutuhkan dalam suatu kondisi tertentu saja, misalnya ilmu tentang shalat jenazah. Sedangkan, ilmu yang haram dipelajari berkaitan dengan ilmu nujum (perbintangan) yang seringkali digunakan untuk meramal. Ilmu nujum diperbolehkan hanya jika digunakan untuk menentukan arah kiblat serta waktu-waktu shalat. Ilmu jawaz yaitu ilmu yang boleh dipelajari karena kemanfaattannya bagi manusia, misalnya ilmu kedokteran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN