Mohon tunggu...
Nawawi M Noer
Nawawi M Noer Mohon Tunggu... Pengabdi Ikan

Mengikuti pena menari bercerita tentang nurani memaknai pertiwi, sapa dalam cerita pada sekolahkejuruanmasyarakat@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Kita Pilih Pelayan Masyarakat, bukan Raja

4 Desember 2020   15:40 Diperbarui: 4 Desember 2020   16:10 28 4 0 Mohon Tunggu...

Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota dan seterusnya hingga Presiden pada dasarnya adalah pelayan rakyat. Sebagai pemegang mandat tertinggi, rakyat adalah penentu siapa yang mau diangkat sebagai pelayan mereka. Tentunya menjadi sangat aneh dan tidak masuk akal ketika kita sebagai rakyat akan memilih para calon "pelayan" malah ribut sendiri apalagi sampai berkelahi.

Pelayan yang seharusnya kita pilih haruslah yang memiliki visi misi yang jelas, memiliki rencana kerja yang jelas dan pengalaman mengerjakan pekerjaan yang akan kita berikan, bukan hanya bisa menjelekkan orang, menjelekkan pelayan sebeluknya hingga menjelekkan sama sama calon pelayan. Dan jadi lucu jika kita memilih pelayan malah kita mendukung mati - matian calon pelayan kita, kita ribut sendiri saling berkelahi sesama rakyat justeru membela orang yang akan jadi pelayan kita.

Sebagai rakyat yang seharusnya memegang kendali sebagai penentu karena kita yang milih pelayan - pelayan itu maka sudah seharusnya kita kritis kepada siapapun yang nantinya mendapat mandat kita. Kritis yang disampaikan seorang majikan kepada rakyatnya bukan sekedar nyinyir dan meang meong di medsos semata, tapi kritik yang konstruktif, karena ini semua adalah properti kita sebagai rakyat yaitu majikan, jangan sampai rusak dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pelayan - pelayan yang kita pilih itu. Kinerja pelayan yang tidak sesuai dan tidak memahami persoalan harus kita luruskan, kita ajak bicara, kalau perlu kita jewer, tapi kita juga bawa setumpuk solusi. Realitas pemilihan pelayan justru membawa kita pada situasi tidak sehat, saling serang antar rakyat, kita berkelahi dalam memilih pelayan, itu asalah kebodohan yang nyata.

Negeri ini telah banyak memfasilitasi kanal-kanal aspirasi, bahkan gugatan dan sengketa pun ada saluran aspirasinya. Jika ada permasalahan kita tinggal menyampaikan dan mengawal. Perbedaan dalam hal pemikiran dan pendapat adalah suatu kebolehan, wajat dan tidak masalah, tapi berkelahi fisik dan mengumbar kebencian ke personal, bukanlah cerminan demokrasi tapi adalah sikap bar - bar.

Tim sukses, pendukung hingga relawan tak ubahnya seperti yayasan atau komunitas penyedia calon calon pelayan yang akan dipilih oleh majikan - majikan yang membutuhkan yaitu rakyat. Harusnya fokus pada penyampaian kualitas serta kelebihan calon pelayannya bukan malah sibuk menjelekkan dan menyerang personal calon pelayan lain. Mereka seharusnya memberikan informasi yang edukatif buat Masyarakat bukan malah mengadu domba. Masyarakat seharusnya tak mudah diadu-domba oleh para pihak yang berkepentingan bertarung memperebutkan kekuasaan. Tak sekadar melihat tampang para kandidat dan janji muluk-muluk yang digembar-gemborkan. Tapi harusnya sudah paham, siapa yang paling layak dan terbaik untuk menjadi pelayan ke depan, melanjutkan pembangunan.

Kandidat pemimpin daerah adalah calon pemegang mandat tertinggi, sudah seharusnya rakyat mengkritisi para kandidat, harus tahu program apa yang akan ditawarkan oleh calon pelayan kita. Bukan malah sebaliknya, ribut dan gontok-gontokkan hanya karena beda pilihan, beda dukungan. Bukan malah terus menyebar fitnah, caci-maki, celaan, hinaan. Kita sebagai rakyat adalah memilih pelayan yang baik dengan solusi solusi mereka

Menjadi pemilih haruslah selalu memelihara kewarasan, sebaiknya tak usah terpancing dan mau mengikuti propaganda pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang berupaya memecah-belah dan mengadu-domba kita! PILKADA adalah momen untuk memilih pemimpin terbaik, memilih pemimpin dengan visi dan misi yang mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik. PILKADA adalah momentum memilih pelayan yang mampu mengelola daerah dengan baik, bukan malah terus memicu konflik.

Agar kondisi masyarakat tetap sejuk dan kondusif, sebaiknya para kandidat, tim suskes dan pendukung yang bertarung mengedepankan politik santun. Elite politik juga harus memberikan contoh yang baik, memberikan keteladan politik, bukan sebaliknya malah memprovokasi. Karena pastinya, kita berharap PILKADA ini bukan sebatas memilih pemimpin yang notabene Cuma "pelayan rakyat". Tapi yang jauh lebih penting adalah, momentum PILKADA menjadikan daerah kita LEBIH BAIK, dan menjadikan RAKYAT SEJAHTERA!

Harus menjadi pedoman bagi kita sebagai rakyat dalam memilih pelayan atau pemimpin masyarakat bahwa kita hanyalah memilih pelayan kita kenapa kita harus mati matian membelanya. Tugas kita adalah menyeleksi dan memilih setelah mereka jadi tinggal kita menuntut hak kita atas janji janji mereka, bukan turut andil menutupi keburukan mereka, biarlah mereka bekerja melayani kita dan kita terus memberikan kritik dan masukan yang konstruktif. Jadi, siapapun nanti pemimpin yang terpilih, kita hormati dan kita dukung. Tapi jika setelah terpilih malah bikin rakyat sengsara, KITA TURUNKAN BERSAMA-SAMA!

VIDEO PILIHAN