Kandidat

Manuver Demokrat Tinggalkan Prabowo

6 Mei 2019   17:49 Diperbarui: 6 Mei 2019   17:57 114 1 0
Manuver Demokrat Tinggalkan Prabowo
Sumber https://www.cnnindonesia.com 

Satu per satu, pendukung Prabowo meninggalkan koalisi. Ketua umum PAN, Zulkifli Hasan menemui Jokowi, belum genap dua minggu pasca pemungutan suara (25/04). Kemarin (05/05), penggagas #2019GantiPresiden, Mardani Ali Sera menyebut gerakan itu sudah tutup buku. Bahkan, Mardani mengharamkan gerakan itu, karena periode kampanya sudah berakhir.

Selain itu, Partai Demokrat adalah yang paling mencolok memasang kuda-kuda untuk meninggalkan Prabowo. Langkah Demokrat bahkan sudah terlihat sejak hari pemungutan suara, 17 April lalu ketika tidak terlibat dalam klaim kemenangan Prabowo. Berikut langkah-langkah Partai Demokrat meninggalkan koalisi pendukung Prabowo Sandi.

1) Tidak Ikut Klaim Kemenangan Prabowo

Saat Prabowo deklarasi klaim kemenangan, AHY yang memegang komando Partai Demokrat tak ikut deklarasi. Bahkan saat ditanya wartawan, AHY tak memberi jawaban pasti atas ketidakhadirannya itu. Hal ini berindikasi kuat, bahwa AHY dan Partai Demokrat sengaja tak ikut aksi koboi Prabowo, yang dinilai justru mempermalukan diri sendiri. (Sumber)

2) Menarik kader dari BPN

Sekitar sehari pasca pemungutan suara, SBY menginstruksikan segenap kader Partai Demokrat, untuk menarik diri dari aktivitas BPN Prabowo-Sandi. Informasi dari kalangan internal menyebut bahwa SBY tidak ingin Partai Demokrat terlibat dalam klaim kemenangan Prabowo yang inkonstitusional. (Sumber)

3) Demokrat Percaya Quick Count

Ketika Prabowo sangat emosional mencerca hasil hitung cepat Pilpres 2019, para kader Partai Demokrat justru berpendapat sebaliknya. Bisa dipahami, SBY adalah orang yang mengeluarkan banyak uang untuk menggunakan jasa polster sejak Pilpres 2004 lalu. SBY percaya metode random sampling yang digunakan dalam survei elektabilitas maupun metode hitung cepat. (Sumber)

4) AHY Menemui Jokowi

Saat Prabowo dan para pendukung kian agresif memfitnah KPU dan merekayasa data palsu untuk merusak mengganggu perhitungan suara, AHY justru menemui Jokowi. Jelas tindakan AHY ini merupakan isyarat nyata, bahwa gerbong Partai Demokrat tengah meninggalkan Prabowo dan mulai merapat ke Jokowi. (Sumber)

5) Setan Gundul Pembisik Prabowo

Seolah melengkapi manuver-manuver sebelumnya, Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief menepis tudingan bahwa partainya meninggalkan Prabowo. Sebaliknya, Andi menyebut Prabowo lah yang meninggalkan partai-partai pendukung, dan memilih ikut para setan gundul. Istilah ini merupakan perumpamaan bagi orang-orang yang menyuplai informasi palsu terhadap koalisi pendukung Prabowo-Sandi. Pernyataan ini, di satu sisi merupakaan pembelaan Partai Demokrat. Di sisi lain, pernyataan itu menyerang Prabowo yang banyak mengakomodir informasi palsu. (Sumber)

Bagaimanapun, Prabowo yang bersikeras ingin mendeligitimasi KPU dan mendiskualifikasi kemenangan Jokowi tampaknya akan kandas. Partai pendukung tidak solid mengikuti manuver Prabowo. Di sisi lain, fakta lapangan kian menunjukkan kepalsuan klaim kemenangan Prabowo. Sabtu lalu (04/05), polisi mengamankan 3.677 cetakan C1 palsu, yang diduga direkayasa pihak Prabowo. (Sumber)