Mohon tunggu...
Narani Priwanggita
Narani Priwanggita Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa di Universitas Jember

Saya memiliki ketertarikan pada pembahasan mengenai dunia internasional

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Singapura dan Perekonomian Terbuka

27 Maret 2023   21:14 Diperbarui: 3 April 2023   20:45 104
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Singapura merupakan negara yang sangat dikenal sebagai negara dengan ekonomi yang begitu terbuka. Dibuktikan dari trade openness index sebesar 324.32 persen di tahun 2018, berhasil menempati peringkat 3 dunia. (The World Bank, 2018) Sedangkan di tahun 2020, Singapura menempati peringkat satu dari 129 negara yang diukur tingkat keterbukaannya. (Institute of World Economics and Politics, 2022) Keterbukaan tersebut merupakan salah satu bentuk keberhasilan atas implementasi perdagangan bebas yang dilakukan. 

Tidak lain globalisasi ekonomi menjadi faktor pendorong akan terjadinya perdagangan tersebut. Singapura juga menjadi negara dengan indeks globalisasi yang tinggi. Dengan itu dapat dikatakan Singapura berhasil memanajemen globalisasi dengan baik sehingga membawa dampak yang baik pula pada pertumbuhan ekonomi mereka.

Globalisasi menjadi keuntungan yang besar bagi negara kecil. Dibalik ekonomi Singapura yang begitu terbuka tentu ada alasan yang menyertai. Seperti yang kita tahu bahwa Singapura termasuk negara dengan wilayah yang begitu kecil. Sehingga sumber daya alam untuk pemenuhan kebutuhan sangat kurang. Kebutuhan dasar seperti makanan pun mereka penuhi dengan melakukan impor. 

Globalisasi ekonomi kemudian dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menempatkan negaranya nya dalam rantai perdagangan dunia. Karena negara kecil seperti Singapura perlu bergantung pada investasi asing untuk mengemudi industrialisasi di negaranya. Pada akhirnya membuka ekonomi mereka menjadi jalan pintas untuk mentransformasikan negaranya menjadi high-income country

Sama seperti negara kebanyakan, Singapura juga pernah berada pada fase kesulitan ekonomi dan sosial. Permasalahan yang dimaksud salah satunya mengenai tenaga kerja. Begitu banyak tingkat pengangguran pada awal kedaulatan negara. Bergerak cepat, pemerintah Singapura kemudian berusaha menggeser orientasi sistem perdagangan mereka. Keputusan untuk menggunakan pendekatan export-oriented pun dilakukan untuk menciptakan banyak lapangan kerja. 

Sebagai hasil, Singapura sangat terbuka kepada perusahaan asing yang ingin menempatkan investasi di sana. Dengan alasan perusahaan tersebut akan membuka pasar pada tingkat global dan membuka peluang lapangan kerja. Hal itu juga yang menandai dari awal keterbukaan dan liberalisasi perdagangan di Singapura.

Kebijakan yang mengatur juga menjadi kunci penting keberhasilan ekonomi. Sebagai negara yang begitu terbuka tentu dibutuhkan strategi untuk hasil terbaik. Di Singapura dikenal akan kebijakan untuk saling berkompetisi yaitu Competition Act 2004. Kebijakan tersebut dibentuk untuk meningkatkan efisiensi pasar dan juga memperkuat daya saing ekonomi. Mengingat ekonomi yang sangat terbuka sifat competitiveness dibutuhkan. 

Berdasar atas Competition Act maka setiap perusahaan baik asing atau domestik diperbolehkan untuk terus berinovasi. Harapannya dengan inovasi yang tidak berakhir maka perusahaan akan menyediakan produk dengan kualitas yang baik. Dengan catatan penting bahwa inovasi dilakukan juga untuk menciptakan produk dengan harga yang kompetitif untuk para pelanggan.

Adanya dorongan berinovasi memaksakan perusahaan untuk bekerja secara produktif dan efisien. Kehadiran kompetitor dengan harga yang lebih rendah ataupun kualitas lebih baik akan mendorong perusahaan lainya untuk menghasilkan hal yang sama. Maka perusahaan harus bisa mengatur biaya produksi agar menghasilkan profit. 

Pemanfaatan teknologi yang lebih baik akan menjadi opsi. Sebagai bagian dari kompetisi maka ada kekalahan. Bagi perusahaan yang tidak bisa melakukan efisiensi produksi maka mereka akan "keluar" dari pasar. Entah perusahaan akan di akuisisi oleh perusahaan lain ataupun akan melakukan penggabungan dengan perusahaan lainnya.

Selain di sisi perusahaan, kualitas sumber daya manusia juga didukung oleh pemerintah untuk menciptakan keseimbangan dalam negara. Ketika globalisasi memasuki negara maka menjadi tanda akan penggunaan teknologi yang kian canggih. Digitalisasi akan semakin gencar dilakukan. Artinya membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan mendukung untuk mengoperasikan teknologi tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun