Nano Sumarno
Nano Sumarno

Bukan penulis, hanya seorang pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Bola

Kambing Hitam Bernama Wasit!

16 April 2018   17:27 Diperbarui: 26 April 2018   00:50 815 0 0
Kambing Hitam Bernama Wasit!
screenshot-20180416-195029-1-5ad48ecd16835f4ccd300883.jpg

Belum lama terjadi tepatnya tadi malam, kerusuhan yang notabene membuat malu dan mencoreng wajah sepakbola Indonesia yakni yang terjadi di stadion kanjuruhan Malang. Saya sedikit mengulas melalui artikel ini dari sudut pandang yang netral, karena saya bukan bobotoh maupun aremania.

Panas sejak sebelum bertanding,

Yang saya baca dari beberapa lini media, saat squad persib tiba di malang sudah muncul teror-teror baik saat disekitar hotel maupun saat squad persib berlatih di kanjuruhan. Yaa wajar saja melihat history ketidakakraban antar pendukung klub, memang Persib & Arema tidak bersekutu. Adapun arema adalah sekutu abadi Persija, klub yang terakhir saya sebut tentu semua sudah tahu jika persija adalah Rival bebuyutan Persib.

Kendaraan taktis (barracuda) untuk persib

rupanya sebelum bertanding pihak persib meminta persyaratan pada panpel Arema untuk menggunakan kendaraan taktis (barracuda) untuk transport pemain & staf pelatih. Hal ini menjadi catatan betapa besarnya potensi gangguan keamanan yang akan terjadi.

Saya tidak tahu, tapi saya kira hanya di indonesia pemain & pelatih diangkut dengan kendaraan lapis baja untuk menuju dan pulang dari stadion. Mungkin perlu ditambah anggaran alutsista untuk kendaraan taktis jadi yang diangkut bukan hanya pemain, tapi semua supporter, biat lebih aman lagi.. :) 

Jalannya pertandingan &  keputusan sang pengadil.

Saya menonton di televisi jalannya pertandingan, kedua tim mempertontonkan permainan yang baik walau di hiasi banyaknya foul tapi pertandingan tetap lumayan menghibur terutama aksi-aksi individu balsa bozovic dan jonathan bauman. Aksi kontroversi terjadi saat persib unggul 2-1, di saat itu mulailah terlihat lemparan-lemparan benda dari supporter ke dalam lapangan, yang merupakan dampak kekecewaan supporter terhadap performa tim. Sebenarnya para pemain arema sudah merespon dengan spirit yang tinggi agar tim nya tidak malu menanggung kalah di kandang sendiri, terbukti dengan gol dari bozovic di ujung waktu normal.

Kekecewaan terjadi saat skor imbang namun justru pemain arema (dedik setiawan) mendapat kartu merah, dari penilaian saya sudah betul sang wasit memberikan kartu merah, hal itu sudah sesuai dengan apa yang ada di dalam kitab Law Of the Game milik FIFA, karena pada saat itu dedik melanggar Oh in-kyun dengan sikutnya, kenapa tidak kartu kuning?

Karena jelas itu adalah STRAIGHT RED CARD, EXCESSIVE USE FORCE dan pada saat itu posisi permainan dalam Stop Promising Attack  atau saat oh in-kyun memegang bola, persib sedang dalam posisi penyerangan yang menjanjikan untuk bisa menciptakan peluang. Sejak kejadian itu mulailah beruntun kejadian lain yang membuat chaos, ada juga tandukan arthur cunha yang mengarah pada dada bojan malisic

Memang sepanjang pertandingan beberapa kali sang pengadil terlihat kurang jeli dalam mengambil keputusan, tapi satu yang saya yakini yakni wasit tidak berpihak ke satu sisi. Namun tidak adil apabila kesalahan ataupun penyebab kerusuhan yang terjadi karena ulah wasit, saya sangat tidak setuju. Karena wasit sudah bekerja dengan baik dibawah tekanan yang begitu dahsyat.

Saya jadi berandai-andai bagaimana apabila michael oliver di daulat menjadi wasit liga indonesia kemudian memberikan penalti kontroversi seperti yang terjadi saat madrid mwalawan juve, seperti apa reaksi fans apabila keputusan itu dibuat di depan supporter liga indonesia? Mungkin ceritanya akan lebih chaos

Wasit sebagai tumbal

yang paling terdampak dari peristiwa kerusuhan tersebut adalah arema FC, sanksi dari komdis PSSI tinggal menunggu waktu. Sanksi komdis bisa terbit setelah menerima laporan dari panpel PT Liga Indonesia Baru, dalam hal ini panpel Arema. Dari yang saya baca di kolom berita Bolalob, pihak panpel mengeluarkan laporan yang menyimpulkan kejadian kerusuhan tersebut disebabkan oleh beberapa keputusan wasit sehingga memicu amarah penonton.

Padahal pihak arema FC sendiri melalui akun fanbase dan official team nya telah menyatakan bahwa apa yang dilakukan aremania adalah sebagai bentuk protes kepada pihak manajemen team. Apapun itu protes yang demikian adalah tidak baik apalagi sampai merusak fasilitas dan melukai pihak lawan.

Dari peristiwa terjabar diatas, kita sebagai supporter seharusnya belajar lebih bijak, santun dan dewasa untuk kebaikan dan kemajuan sepakbola indonesia.