Mohon tunggu...
Andesna Nanda
Andesna Nanda Mohon Tunggu... Konsultan - You Are What You Read

Kolumnis di Kompas.com. Menyelesaikan S3 di Universitas Brawijaya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengapa Kita Gagal Melihat Perspektif Lain?

29 Juni 2021   07:11 Diperbarui: 29 Juni 2021   07:18 630
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pernahkah kamu ketika ada seseorang sedang mempresentasikan karyanya kemudian kamu berpikir dalam hati "saya juga bisa kalau hanya begitu saja." Perasaan ini muncul karena kamu menganggap kamu lebih tahu mengenai topik tersebut. Pernah?

Atau pernahkah kamu sedang dalam kondisi mood yang tidak baik kemudian kamu bersikap negatif kepada rekan atau kolega kamu di kantor. Pernah?

Contoh lain yang lebih kasual misalnya, kondisi cuaca saat ini panas sekali kemudian kamu singgah di minimarket kesayangan kamu. Kemudian kamu tanpa pikir panjang mengambil beberapa minuman dingin yang sebenarnya kamu juga tidak terlalu suka.

Ini kamu lakukan karena otak kamu sedang panas. Emosi kamu sedikit naik, jadi kamu pikir lebih baik minum sesuatu yang dingin. Padahal tidak semua minuman dingin itu akan kamu habiskan. Pernah?

Contoh aktual misalnya, kamu sedang menonton pertandingan sepak bola Euro 2020 di saluran favorit kamu dan ketika kamu emosi karena salah satu pemain dari tim kesayangan kamu gagal menendang bola masuk ke gawang lawan, kamu jadi berteriak "begitu saja tidak bisa sih!", pernah?

Saya pernah. Begini ceritanya, saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor dan kebetulan hari itu saya lelah sekali. Banyak meeting dan drama yang terjadi di kantor.

Dalam perjalanan pulang tersebut, perut saya terasa lapar sekali. Kemudian saya mampir sejenak di salah satu minimarket. Saking laparnya saya membeli banyak sekali snack dan roti. Melebihi dari yang seharusnya saya butuhkan.

Otak saya terpedaya oleh rasa "lapar" yang tadi saya rasakan. Padahal mungkin dengan sepotong roti dan satu botol air putih sudah cukup untuk mengganjal rasa lapar saya. Saya pun tiba di rumah dengan banyak sekali makanan yang sebenarnya tidak saya perlukan.

Jika kamu pernah mengalami hal-hal di atas atau seperti yang saya alami, maka kamu mengalami sesuatu hal yang di dalam behavioral science disebut dengan Empathy Gap.

Bias kognitif yang terjadi di otak kita yang membuat otak kita terpedaya dengan kondisi emosional saat kita melakukan tindakan tersebut. 

Kalau dalam contoh sepak bola di atas, karena kita sedang emosi dengan mudah kita mencerca tim kesayangan kita. Padahal jika kita yang berada di posisi mereka belum tentu kita bisa melakukan apa yang mereka lakukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun