Mohon tunggu...
Namira Calista
Namira Calista Mohon Tunggu... Freelancer - Student of State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang

Trying to be the best version of me! -It's Never Too Old to Learn-

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Begini Jadinya Bila Kita Sudah Tak Lagi Berempati

4 November 2019   03:41 Diperbarui: 4 November 2019   03:49 837
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
http://www.sipayo.com/

Empati menurut kamus besar bahasa indonesia berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasikan dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain, dengan kata lain, empati berarti sebuah perasaan atau kemampuan yang membuat kita dapat memahami kondisi, perasaan, atau penderitaan orang lain, dengan membayangkannya.

Empati biasanya dirasakan seseorang karena seseorang tersebut sudah pernah merasakan penderitaan yang dialami orang lain. sebagai contoh,  seseorang yang pernah menjadi korban penipuan, akan merasakan empati kepada seseorang yang juga mengalami hal yang sama karena tau penderitaan yang dirasakan. Meski begitu, bila kita tidak pernah mengalami penderitaan atau kondisi yang sama dengan orang lain, bukan berarti kita tidak bisa merasakan empati terhadap orang lain. Selain pernah mengalami perasaan menderita yang sama, kemampuan atau rasa empati juga bisa ditumbuhkan dengan membayangkan atau memposisikan diri sebagai orang lain yang mengalami penderitaan tersebut. Sebagai contoh, kita melihat ada seseorang kecelakaan, kita mungkin tidak pernah mengalami kecelakaan serupa, tetapi kita bisa membayangkan bagaimana jadinya bila kita yang ada di posisi orang tersebut dan mengalami kecelakaan? Dengan begitu kita bisa menumbuhkan rasa empati yang ada dalam diri kira.

Dikutip dari laman kompas.com, dalam ilmu psikologi dikenal tiga jenis empati yaitu

empati afektif, kemampuan untuk berbagi emosi dengan orang lain

empati kognitif, kemampuan untuk memahami emosi orang lain secara rasional

empati regulasi emosional, yaitu mengarah kepada kemampuan untuk mengatur sebuah emosi.

Empati merupakan kemampuan yang sangat penting dan dibutuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari, karena manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa hidup secara individual dan membutuhkan interaksi sosial disetiap aktivitasnya. Empati bisa membuat kita lebih bisa menghargai orang lain, menumbuhkan rasa peduli dan ingin saling membantu, memudahkan interaksi dengan orang lain, menumbuhkan lingkungan yang harmonis, melatih diri untuk menjadi bijaksana, menumbuhkan rasa tanggung jawab baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Begitu pentingnya peranan empati dikehidupan kita. Namun yang terjadi saat ini malah hanya segelintir masyarakat yang masih memiliki rasa empati. Dizaman dimana teknologi dan pengetahuan berkembang pesat, manusia secara perlahan-lahan berkembang menjadi manusia yang individualis dan tidak terlalu peduli terhadap lingkungannya, karena segala urusan manusia sudah dimudahkan dengan begitu majunya teknologi di zaman modern.

Dizaman ini, seiring dengan terus berkembangnya teknlogi, sosial media pun bermunculan, sebagai buah hasil dari kemajuan teknologi. Sosial media dianggap memberikan banyak sekali kemudahan untuk membantu menyelesaikan atau memenuhi segala kebutuhan manusia. Namun, dengan beribu manfaat yang diatawarkan oleh media sosial, sedikit yang menyadari bahwa sebenarnya dengan semakin seseorang bergantung kepada sosial media dan teknologi, semakin berkurang pula kepekaan sosial dan empati yang dimiliki oleh seseorang. Bisa kita lihat, sedang  marak terjadi saat ini ketika terjadi kecelakaan dijalanan, hanya sedikit orang yang ikut turun tangan membantu korban kecelakaan tersebut, sedang sebagian besarnya sibuk dengan ponsel mereka untuk mengabadikan 'momen kecelakaan' tersebut untuk dijadikan bahan upload ke media sosial.

Bahkan ketika sekelompok orang berkumpul bersama, mereka akan sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, mengabaikan teman-teman yang ada di sekeliling mereka. Tanpa disadari, ketergantungan terhadap sosial media membuat yang jauh mendekat, tetapi yang dekat menjadi jauh, padahal sebagai makhluk sosial, yang lebih kita butuhkan adalah interaksi dengan mereka yang ada didekat kita, bukan mereka yang jauh disana, yang bahkan mungkin belum pernah kita kenali wujud fisiknya seperti apa. Jika terus begini, jangankan rasa empati, rasa simpati saja mungkin sudah sangat terkikis dan hanya segelintir dari masyarakat kita yang masih memilikinya.

Bahkan, dilansir dari suara.com, studi terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 65% orang bersikap tidak peduli atau kehilangan rasa empatinya. Menurut studi yang dilakukan oleh Pennsylvania State University, kebanyakan orang berempati hanya akan menghabiskan waktu dan energi mental mereka.

Padahal, rasa empati memberikan manfaat tidak hanya kepada orang lain, juga kepada diri sendiri. Bila kita sudah tidak lagi merasakan empati, maka akan memicu munculnya dampak negatif seperti;

Tidak terbentuknya lingkungan harmonis

Tidak adanya rasa empati membuat seseorang akan cenderung egois dan tidak memperdulikan orang lain dan lingkungan sekitar, bila dalam suatu lingkungan bermasyarakat banyak dari masyarakatnya yang tidak memiliki rasa empati, maka lingkungan masyarakat tersebut akan menjadi suram, tidak adanya saling peduli, gotong royong dan saling membantu, sangat jauh dari kata harmonis.

Mempersulit kehidupan

Tidak memiliki rasa empati berarti tidak memiliki kehidupan sosial yang baik. Manusia merupakan makhluk sosial, selamanya tidak akan bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk memudahkan pekerjaan dan kebutuhan kita, begitu juga sebaliknya. Sehingga kehidupan sosial yang tidak baik akan sangat menyulitkan kehidupan kita.

Berkurangnya rasa kemanusiaan

Tidak memiliki rasa empati sama artinya dengan menurunnya rasa kemanusiaan. Karena kita sudah tidak lagi peduli dengan apa yang dilakukan atau dirasakan orang lain, semua hal yang kita pedulikan dan lakukan adalah hal-hal yang dapat memberikan kepuasan pribadi untuk diri sendiri.

Memicu munculnya permusuhan dan konflik

Seperti yang diulas sebelumnya, bahwa tidak memiliki rasa empati akan membuat seseorang bersikap sangan egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain kecuali perasaan dan kepuasan diri sendiri. Kita akan cenderung tidak menghargai orang lain, dan merendahkan mereka. Perilaku yang seperti ini tentu saja dapat menimbulkan banyak permusuhan dan konflik. Kamu sendiri tidak akan suka bila usahamu tidak dihargai dan direndahkan orang lain bukan?

Memicu stress dan depresi

Tidak adanya rasa empati, berarti memiliki kehidupan sosial yang buruk. Dizaman sekarang ini, banyak orang yang merasa mereka sudah tidak mempunyai teman dekat yang bisa diajak berbagi curahan hati, rasa gundah dan gelisah. Akibatnya seseorang akan cenderung memendam perasaan itu sendiri, atau setidaknya mencurahkannya melalui sosial media. Namun, sebenarnya mengumbar masalah pribadi pada media sosial bukanlah suatu tindakan yang bijak. Membiarkan orang asing tau masalah kita membuka peluang untuk kejahatan, atau membiarkan seseorang seenaknya berkomentar dan men'judge' kita tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu, sangat mungkin membuat seseorang mudah stress dan depresi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun