Mohon tunggu...
Nabilla DP
Nabilla DP Mohon Tunggu... Blogger

Ibu dua anak yang doyan bepergian. Ngeblog juga di bundabiya.com dan bundatraveler.com.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Tolak Angin Anak Membuat Buah Hatiku Berkata, "Bunda, Aku Sehat!"

9 Agustus 2018   09:30 Diperbarui: 13 Agustus 2018   20:33 0 2 2 Mohon Tunggu...
Tolak Angin Anak Membuat Buah Hatiku Berkata, "Bunda, Aku Sehat!"
Mahira yang tampak ceria, berpose di depan mahakaryanya (dok: pribadi)

"Bunda.. aku sehat!" Mahira, anak pertama saya, berkata dengan penuh ceria dan semangat. Tidak lupa ia mengangkat kedua tangan layaknya seorang binaragawan. Melihat anak sehat seperti ini, saya sungguh tenang. Anak yang sehat bisa bermain dan belajar lebih efektif dan lebih baik. Lihat saja pada foto di atas, beberapa bagian pada tembok rumah saya sudah penuh dengan kreatifitas si kecil.

Sejak saya sapih di usia 20 bulan lalu, nafsu makan Mahira meningkat drastis, begitupun daya tahan tubuhnya. Dulu, meskipun ia mendapat ASI eksklusif dari saya, Mahira rentan terkena penyakit receh seperti batuk, pilek, dan masuk angin. Dia makin mudah sakit kalau saya ajak berpergian ke luar kota.

Saat usianya baru 4 bulan, Mahira sudah saya ajak bolak-balik dan ngekos di Jogja untuk menyelesaikan tesis. Setelahnya, ia tinggal cukup lama di Sidoarjo, sebuah kabupaten di selatan Surabaya yang cukup panas. Sejak akhir tahun 2017 lalu, ia ikut pindah ke Malang, kota yang memiliki suhu lebih sejuk.

Anak Sering Sakit Saat Perjalanan

Perbedaan cuaca di beberapa kota inilah yang kerap memicu penyakit. Berpindah dari kota yang memiliki cuaca panas menuju kota yang cuacanya lebih dingin membuat Mahira mudah ngedrop.

Jangankah Mahira yang masih anak-anak, saya saja kalau sedang tidak fit, sudah dipastikan mudah tumbang saat travling. Masalahnya, kalau dia sudah sakit, lama sekali sembuhnya dan sudah pasti hati bundanya juga ikut terluka. Saya jadi teringat ketika Mahira berusia 7 bulan, ia saya bawa pergi selama dua hari ke Jogja untuk menuntaskan urusan revisi tesis. Saat itu, Mahira sedang kurang fit. 

Fokus saya yang sedang bercabang membuat saya kurang peka dengan kondisinya. Saya melihat Mahira baik-baik saja, padahal saat berangkat Mahira dalam kondisi meriang dan belum buang air besar selama dua hari. Kondisi tersebut diperparah dengan makanan pendamping ASI instan yang saya berikan yang rupanya tidak cocok dengan pencernaannya.

Benar saja, sepulang dari Jogja, kondisi Mahira bukannya membaik malah semakin parah. Ia baru bisa buang air besar lima hari setelah saya ajak berpergian. Rupanya ia terkena sembelit yang cukup serius. 

Singkat cerita, sembelinya Mahira ini tidak kunjung membaik, membuat daya tahan tubuhnya naik turun, dan baru benar-benar sembuh saat ia berusia 15 bulan.

Duh, kalau ingat saat-saat itu, saya betul-betul menyesal!

Belum lagi biayanya. Dulu sebelum Mahira berusia 20 bulan, jika ia sakit pasti saya bawa ke dokter atau rumah sakit ibu dan anak terdekat. Saya termasuk yang agak ketat mengizinkan obat masuk ke tubuh anak saya, terlebih saat itu ia belum berusia 2 tahun. Jadi saya tidak mau ambil resiko, saya percayakan obat tersebut melalui resep dokter. Mahal? Iya, lha mau bagaimana lagi.

Kini, saat ia sudah berusia 2 tahun, saya lega bukan main. Selain tubuhnya yang lebih fit dan ceria, saya juga sudah mulai berani untuk menyetok beberapa obat kategori first aid atau pertolongan pertama, madu, dan multivitamin untuknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x