Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif | orang biasa |

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tahun Baru Hijriah, Pentingkah Sebuah Momentum?

3 September 2019   12:40 Diperbarui: 3 September 2019   13:15 208 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tahun Baru Hijriah, Pentingkah Sebuah Momentum?
republika.co.id

Tulisan ini tidak untuk menjelaskan lebih panjang soal tahun baru hijriah, tapi yang jelas, sejarah tahun baru hijriah adalah sejarah soal momentum: saat yang tepat dan kesempatan (merujuk pada KBBI) untuk menciptakan perubahan menuju sesuatu yang lebih baik, lebih besar, dan lebih bermakna. Saat keadaan sudah menjepit, stagnan, sumuk dan pengap, terlalu berat atau membosankan, hidup rasanya semakin menekan dengan persoalan-persoalan, maka hijrah menjadi keniscayaan.

Hijrah adalah berubah untuk selalu menjadi lebih baik, dalam konteks makna kekinian. Artinya, berhijrah atau berubah adalah kerja terus-menerus yang tak mengenal waktu dan titik tertentu yang dijadikan momentum. Berubah menjadi lebih baik harus dilakukan dan diusahakan setiap waktu. Hari ini harus lebih baik dari kemarin jika tidak ingin rugi dan esok hari harus lebih baik dari hari ini jika ingin dikatakan beruntung.

Jangankan soal hidup, soal emosi saja kita dianjurkan untuk melakukan hijrah. Dalam sebuah hadis shahih dari Abu Dzar dikatakan, bahwa ketika seseorang marah saat berdiri, hendaklah ia duduk. Kalau masih marah, hendaklah is berbaring. Artinya apa? Ada makna, nilai, sekaligus hasil dari perubahan dan perpindahan posisi tubuh (hijrah) seseorang. Apalagi untuk hijrah yang lainnya.

Namun, meskipun perubahan dan perpindahan itu bisa dilakukan kapan saja, kita juga kerap melekatkan perubahan pada sebuah momentum dan peristiwa tertentu. Kita sering mendengar dan membaca kalimat seperti, "17 Agustus adalah momentum untuk...", "Tahun Baru Hijriyah adalah momentum untuk...", "Harkitnas adalah momentum untuk...", "Idul Fitri (dan Idul Adha) adalah momentum untuk...", dan sederet peristiwa serta sejarah lain yang kerap dijadikan sebagai momentum: waktu yang tepat dan kesempatan emas.

Tidak salah jika itu dijadikan sebagai upaya peningkatkan, penguatan, dan refleksi. Menjadi tidak tepat ketika sebuah perubahan yang dilakukan harus selalu menunggu momentum. Seperti membiasakan shalawat, harus menunggu momentum Bulan Maulid, rajin ibadah harus menunggu momentum Bulan Ramadhan, rajin bekerja harus menunggu momentum mood atau awal-awal gajian, mencintai keluarga harus menunggu momentum hari pernikahan atau kelahiran anak, dan lain sebagainya.

Padahal shalawatan, ibadah, bekerja, dan mencintai itu bisa dilakukan setiap waktu, tidak perlu menunggu momen tertentu.

Lalu kita mengenal momentum ciptaan dan momentum yang alami. Momentum ciptaan adalah momentum yang dibuat sebagai penanda sejarah tertentu dan diharapkan bisa menjadi cara untuk semakin menguatkan perubahan dan kebaikan. Ia bisa juga disebuat momentum "yang dipersiapkan" karena sudah diketahui, terjadwal dan terwariskan melalui sejarah.

Momentum kemerdekaan, momentum hari raya, momentum kebangkitan nasional, momentum hari ibu dan hari ayah, momentum hari buruh, momentum hari kartini, momentum hari tembakau se-dunia dan lain sebagainya. Momentum ini biasanya sudah terjadwal di kalender secara lengkap. Momentum ciptaan seperti ini bersifat umum.

Ada juga momentum ciptaan yang bersifat personal. Ia tak bermakna bagi orang lain, tapi bagi personal tertentu bisa menjadi sebuah batu loncatan. Momentum hari kelahiran, momentum pernikahan, momentum kelahiran anak pertama, dan lainnya adalah momentum yang bisa dimaksudkan dalam kategori ini.

Sementara momentum alami adalah momentum yang tiba-tiba terjadi tapi memberikan peranan besar dalam terciptanya perubahan signifikan dalam hidup seseorang. Momentum ini banyak kita temukan dalam cerita sukses figur-figur terkenal bagaimana mereka, kadang, menemukan kegairahan dan perubahan saat kejadian-kejadian mengejutkan terjadi dalam hidupnya.

Momentum bisa muncul saat seseorang dilecehkan dan dihina. Dengannya ia kemudian bangkit, bekerja dan berusaha lalu mendapatka kesuksesan besar. Saat seseorang kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, hal itu kerap dijadikan momentum untuk menjaga dan melindungi yang sudah dimiliki. Hal ini juga terjadi pada seseorang yang ditinggalkan orang yang dicintainya karena kematian, misalnya. Menyesal karena belum bisa memberikan apa-apa, lalu dijadikan momentum untuk merubah segalanya. Biasanya kesadaran muncul, setelah itu dan terciptalah perubahan-perubahan.

Lalu, pentingkah sebuah? Kalau posisinya sebagai momen untuk semakin menguatkan, merefleksikan, mengevaluasi apa yang telah dilakukan, dan mengatur ulang apa yang perting dilakukan itu penting. Sebab momentum bisa dijadikan sebagai tonggak sejarah. Menjadi tidak penting ketika momentum hanya dikapitalisasi sebagai sebuah kata dan jargon semata, setelahnya dilupa seiring berakhirnya gagap gempita seremonial belaka.

Mustafa Afif,

Kuli Besi Tua

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x